
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi inovasi peternakan kambing di Desa Banjaranyar, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, yang menerapkan konsep peternakan ramah lingkungan dan ekonomi sirkular.
Peternakan milik Wisnu Rahman tersebut memanfaatkan limbah makanan hingga plastik untuk menghasilkan produk bernilai guna. Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga menekan biaya produksi dan meningkatkan nilai ekonomi usaha peternakan.
Zulkifli Hasan melihat model tersebut sebagai contoh bagaimana limbah dapat diputar kembali menjadi bagian dari rantai produksi pangan.
Wisnu Rahman memanfaatkan limbah organik basah sebagai bahan pakan maggot. Sementara itu, limbah organik kering diolah menjadi konsentrat untuk ternak.
Bahan tersebut berasal dari berbagai sisa produk makanan, seperti susu, biskuit, tepung-tepungan, hingga santan.
“Pakan kita ada dua, hijauan dan konsentrat. Untuk hijauan kita tanam sendiri, sedangkan konsentratnya memanfaatkan limbah,” kata pengusaha muda dari desa Banjaranyar Sokaraja Banyumas, Selasa (01/09/2026).
Wisnu menyesuaikan kandungan nutrisi pakan dengan kebutuhan masing-masing jenis ternak. Peternakannya mengembangkan pakan untuk kambing perah, kambing potong, hingga sapi.
Konsep tersebut membuat limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi masalah lingkungan dapat kembali masuk ke dalam rantai produksi peternakan.
Inovasi peternakan tersebut tidak hanya memanfaatkan limbah organik. Wisnu juga mengolah limbah plastik menjadi bentuk bubuk untuk digunakan sebagai bahan baku produk lainnya.
Pengolahan berbagai jenis limbah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem usaha yang saling terhubung. Limbah dari satu proses dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses lainnya.
Model seperti ini menjadi salah satu bentuk penerapan ekonomi sirkular di sektor peternakan.
Wisnu saat ini mengelola sekitar 130 ekor kambing secara mandiri. Selain itu, terdapat sekitar 200 ekor kambing dalam sistem kemitraan yang tersebar di sejumlah wilayah, seperti Sumbang, Ajibarang, Kebumen, hingga Pemalang.
“Untuk peternakan ada tiga jenis kambing, yaitu Saanen, Etawa dan Sapera,” ujarnya.
Dari keseluruhan populasi tersebut, usaha peternakan Wisnu mampu menghasilkan hingga 500 liter susu kambing per hari.
Susu kambing tersebut dipasarkan dalam bentuk cair ke berbagai daerah, termasuk Jabodetabek dan Yogyakarta. Sebagian hasil produksi juga dikirim ke industri untuk diolah menjadi susu bubuk.
Integrasi usaha pakan dan produksi susu kambing tersebut mampu menghasilkan omzet hingga Rp150 juta per bulan.
Inovasi peternakan berbasis lingkungan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat melakukan kunjungan kerja ke Banyumas, Selasa siang.
Zulkifli menilai integrasi peternakan kambing perah dengan pengolahan sampah menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi.
Menurutnya, sampah organik masih dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan berbagai produk yang memiliki nilai guna.
“Sampah organik bisa menjadi makanan, sayuran, ikan dan segala macam. Tinggal diputar-putar, bisa habis sendiri. Yang plastik memang tidak bisa habis, sehingga harus dikumpulkan dan diolah,” kata Zulkifli Hasan.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pangan dan peternakan.
Melalui pemanfaatan limbah sebagai bahan baku, biaya produksi dapat ditekan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru. Model peternakan seperti yang dikembangkan Wisnu di Sokaraja Banyumas pun menjadi contoh bahwa inovasi lingkungan dapat berjalan bersamaan dengan pengembangan usaha.