
SERAYUNEWS- Bank raksasa Swiss UBS Group AG kembali melakukan aksi divestasi besar atas saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Pada 20 November 2025, UBS menjual 769,45 juta saham BUMI dengan harga rata-rata Rp228,99 per saham, menghasilkan dana segar sekitar Rp176,2 miliar.
Sebelum transaksi, UBS menggenggam 26,38 miliar saham (7,11%), dan setelah penjualan porsinya turun menjadi 25,61 miliar saham (6,90%).
UBS menegaskan penjualan ini dilakukan untuk kebutuhan lindung nilai (hedging) derivatif bagi klien wealth management global.
Ini menjadi aksi divestasi kedua UBS sepanjang November 2025, setelah sebelumnya melepas 3,57 miliar saham yang menurunkan kepemilikannya dari 8,05% menjadi 7,09%.
Dalam laporan resmi di BEI, UBS merinci bahwa aksi jual dilakukan oleh berbagai entitas internasional seperti UBS AG Hong Kong Branch, UBS AG Singapore Branch, UBS AG London Branch, hingga MultiConcept Fund Management S.A. Seluruh pelaporan dilakukan sesuai aturan POJK 4/2024.
UBS menegaskan langkah ini bukan karena kinerja BUMI melemah, melainkan murni terkait kegiatan hedging derivatif klien.
Prospek Saham BUMI Setelah Aksi Jual UBS: Masih Uptrend, Tapi Waspadai Koreksi
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut saham BUMI masih bergerak di tren naik, didukung volume pembelian yang dominan.
• MACD masih positif
• Stochastic overbought → rawan koreksi jangka pendek
Level penting:
– Buy jika break Rp230
– Resistance Rp244
– Target Rp252–266
Sementara Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo menyebut ruang penguatan masih ada meski terbatas, dengan area pergerakan di Rp232–250.
Menurut analis Mirae Asset, Nafan Aji Gusta, pelemahan permintaan global batu bara serta percepatan transisi energi bersih menjadi faktor yang menekan sentimen sektor.
Perlambatan ekonomi dunia semakin mempersempit ruang pertumbuhan emiten batu bara, termasuk BUMI.
Pada 26 November 2025 sesi I–II, BUMI mencatat lonjakan aktivitas transaksi dan menempati posisi top volume dan value. Harga sempat menyentuh Rp266 sebelum stabil di Rp250 (+5,93%).
Menurut analis Samuel Sekuritas, BUMI tetap atraktif karena:
– Diversifikasi ke tambang emas dan tembaga lewat akuisisi Wolfram Ltd
– Kinerja keuangan Q3-2025 yang solid
– Proyeksi pendapatan emas mencapai US$221 juta mulai 2027
– Target harga direvisi ke Rp300 per saham
BUMI membukukan pendapatan US$1 miliar sepanjang 9 bulan pertama 2025 dan mencatat lonjakan laba bersih kuartalan hingga 254,3%.
Meskipun UBS kembali menjual sahamnya, analis menilai fundamental BUMI tetap kuat, terutama dengan ekspansi ke sektor emas serta kinerja kuartalan yang semakin membaik.
Namun investor perlu mewaspadai volatilitas seiring tekanan global terhadap komoditas batu bara.