
WONOSOBO, SERAYUNEWS — Kemeriahan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-201 Kabupaten Wonosobo yang dipusatkan di Alun-alun Wonosobo pada Minggu (9/8/2026) mendadak menjadi perbincangan hangat publik.
Puluhan balon udara khas daerah yang diterbangkan dalam helatan Tunas Bumi Fest 2026 tersebut dihiasi visual beragam program prioritas pemerintah era Presiden Prabowo Subianto.
Menanggapi ramainya sorotan media sosial, Komunitas Balon Udara Wonosobo melalui akun Instagram resminya @balonwonosobo langsung memberikan klarifikasi tegas guna menjaga marwah tradisi lokal dari pusaran politik praktis.
Penerbangan balon udara Wonosobo kali ini digelar oleh kelompok relawan Gerakan Mantep Pilih Prabowo (GMPP). Di langit Alun-alun Wonosobo, nampak puluhan balon besar membumbung tinggi dengan hiasan bergambar tokoh nasional hingga program-program unggulan pemerintah.
Beberapa desain visual yang menyita perhatian pengunjung antara lain gambar Presiden Prabowo Subianto, program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), Rumah Gizi Merah Putih, Jembatan Garuda, Sekolah Rakyat, hingga Batalyon TP.
Meskipun acara berlangsung meriah dan dipadati warga, kehadiran simbol-simbol bernuansa program pemerintah dan sosok politik tersebut menuai beragam tanggapan.
Sebagian masyarakat menilai ajang budaya tahunan seyogianya tetap netral dan tidak disisipi agenda politik tertentu.
Merespons polemik dan tanggapan yang berkembang luas di tengah masyarakat, Komunitas Balon Udara Wonosobo merilis pernyataan resmi lewat unggahan di akun Instagram `@balonwonosobo`. Dalam poin-poin klarifikasinya, pihak komunitas menegaskan posisi mereka sebagai wadah pelestari budaya yang independen.
“Kami sebagai komunitas Balonwonosobo hadir dengan semangat untuk merawat, mengenalkan, dan mengembangkan tradisi balon udara Wonosobo agar dapat terus menjadi bagian dari kekayaan budaya yang kita banggakan bersama,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Komunitas juga menekankan bahwa mereka sama sekali tidak terafiliasi dengan kelompok politik mana pun maupun agenda festival yang membawa kepentingan politik praktis.
“Namun demikian, Komunitas Balonwonosobo tidak terafiliasi dengan kepentingan politik praktis maupun kelompok politik tertentu. Kami juga bukan bagian dari kegiatan atau festival yang membawa atau mengandung kepentingan politik,” tegas mereka.
Lebih lanjut, komunitas berharap tradisi balon udara dapat terus ditempatkan pada ruang kebudayaan dan kreativitas tanpa sekat latar belakang maupun pilihan politik.
Gema penolakan terhadap komersialisasi dan politisasi kebudayaan lokal terus bergulir. Secara terpisah, pada Selasa (11/8/2026), seruan dan aksi digital mulai terdeklasifikasi melalui tagar `#savebalonwonosobo` yang ramai diunggah oleh pegiat seni dan warga lokal.
Pesan yang diusung dalam gerakan tersebut menyoroti kekhawatiran masyarakat akan lunturnya nilai-nilai kearifan lokal.
“Diperjuangkan dan diperkenalkan ke penjuru negeri selama bertahun-tahun, rusak begitu saja oleh kepentingan politik,” pesan komunitas Balon Wonosobo.
Bagi masyarakat Wonosobo, balon udara tradisional bukan sekadar wahana hiburan, melainkan warisan budaya takbenda yang sarat akan nilai gotong royong dan kebersamaan.
Klarifikasi dari pihak komunitas diharapkan mampu meredam ketegangan dan mengembalikan fungsi utama festival balon udara sebagai pilar pemersatu warga.***