
SERAYUNEWS – Sebanyak 20 biksu memulai perjalanan spiritual Thudong dari Candi Sima, Jepara menuju Candi Sewu di Klaten, Jawa Tengah. Aksi jalan kaki ini dilakukan dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE.
Perjalanan ini menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan Buddha Theravada yang menekankan latihan kesederhanaan, Pengendalian diri, serta penguatan nilai spiritual.
Perjalanan spiritual bertajuk “Walks for Peace: Perjalanan Spiritual Biksu Sangha Dhutanga Menyambut Waisak” ini dipimpin oleh Bhikkhu Nyanakaruno Mahathera.
Rombongan dijadwalkan menempuh perjalanan selama 11 hari, dimulai pada Rabu (20/5/2026) dan akan berakhir pada 31 Mei 2026 di kawasan Candi Prambanan dan Candi Sewu.
Rombongan biksu memulai langkah pertama mereka dari Candi Sima sekitar pukul 06.00 WIB. Guna mencapai titik akhir di Klaten, para biksu akan berjalan kaki melintasi jalur pantura hingga jalur tengah Jawa Tengah.
Beberapa wilayah dan kota yang masuk dalam rute pimpinan Bhikkhu Nyanakaruno ini antara lain:
Jepara
Kudus
Demak
Semarang
Ungaran
Bawen
Salatiga
Boyolali
Klaten (Candi Sewu)
Di beberapa titik perhentian yang telah ditentukan, rombongan akan beristirahat, singgah di beberapa vihara atau pusat kegiatan keagamaan, serta menerima penyambutan hangat dari masyarakat setempat.
Selama jeda tersebut, para biksu juga tetap menjalankan ritual keagamaan rutin seperti doa bersama dan meditasi.
Menariknya, kegiatan Thudong Waisak 2026 ini memiliki dimensi internasional. Peserta yang ikut berjalan kaki tidak hanya berasal dari Indonesia, melainkan juga diikuti oleh para biksu dari beberapa negara Asia lainnya, seperti:
Thailand
Malaysia
Laos
Di tengah menghangatnya dinamika politik dan berbagai konflik global, perjalanan lintas negara ini membawa pesan perdamaian serta solidaritas kemanusiaan yang kuat.
Kehadiran mereka menjadi simbol nyata dari kehidupan yang rukun, damai, dan saling menghormati antarumat beragama.
Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh dan fisik para biksu yang diuji di jalanan Raya, tim gabungan telah menyiapkan pengawalan khusus yang sistematis tanpa mengganggu kesakralan ritual keagamaan.
Berikut rincian dukungan logistik dan pengamanan selama 11 hari perjalanan:
Personel Pengamanan: 30 personel Satgasus dan pengawal khusus dikerahkan untuk menjaga keselamatan serta kenyamanan rombongan di jalan raya.
Tim Medis: 10 personel tim medis profesional beserta layanan pengobatan alternatif disiagakan untuk memantau kondisi fisik para biksu.
Fasilitas Pendukung: Ambulans VIP, armada kendaraan logistik, serta kendaraan pemantauan berbasis teknologi mutakhir ikut mengiringi rombongan.
Tradisi Thudong sendiri memiliki esensi mendalam sebagai bentuk latihan kesabaran dan pelepasan dari belenggu keduniawian.
Sepanjang rute, para biksu hanya membawa perlengkapan hidup minimalis dan mengandalkan pemberian atau dukungan tulus dari masyarakat sekitar untuk kebutuhan dasar mereka (Pindapata).
Lebih dari sekadar ritual mudik spiritual, interaksi erat antara para biksu dengan warga dari berbagai latar belakang agama di sepanjang jalan mencerminkan indahnya toleransi di Indonesia.
Keberagaman terbukti bukan menjadi pemisah, melainkan perekat kebersamaan dan kekuatan dalam membangun harmoni sosial bangsa.