
SERAYUNEWS – Tradisi thudong kembali menjadi perhatian masyarakat menjelang peringatan Hari Raya Waisak 2026.
Puluhan bhante atau biksu dijadwalkan menjalani perjalanan spiritual dengan berjalan kaki sejauh ratusan kilometer dari Jepara menuju kawasan Candi Sewu, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.
Ritual keagamaan umat Buddha tersebut bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik langkah panjang para bhante, terdapat makna pengendalian diri, kesabaran, hingga praktik hidup sederhana yang telah diwariskan sejak masa Sang Buddha.
Perjalanan thudong tahun ini mulai pada 20 Mei 2026 pukul 09.00 WIB dari kawasan Candi Agung Sima di Jepara. Rombongan dijadwalkan tiba di Candi Sewu pada 31 Mei 2026 setelah menempuh jarak sekitar 250 kilometer.
Sepanjang perjalanan, para bhante akan melintasi sejumlah daerah di Jawa Tengah, mulai dari Jepara, Kudus, Demak, Semarang, Ungaran, Bawen, Salatiga, hingga Klaten.
Tradisi ini akan kembali menarik perhatian masyarakat seperti pelaksanaan thudong pada tahun-tahun sebelumnya.
Kehadiran para bhante di jalan raya sering kali disambut warga dengan antusias, bahkan tidak sedikit masyarakat yang memberikan makanan dan minuman sebagai bentuk penghormatan.
Thudong merupakan tradisi perjalanan spiritual para bhante dengan berjalan kaki dalam jarak jauh.
Tradisi tersebut telah ada sejak masa Sang Buddha, ketika para biksu belum memiliki tempat tinggal tetap, wihara, maupun sarana transportasi.
Pada masa itu, para bhante berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan ajaran Buddha.
Karena itu, perjalanan panjang menjadi bagian penting dalam kehidupan spiritual para biksu. Mereka berjalan dari hutan ke hutan, hidup sederhana, serta mengandalkan ketenangan batin selama menjalani perjalanan.
Dalam praktiknya, thudong tidak hanya aktivitas fisik, tetapi juga latihan pengendalian diri dan meditasi berjalan. Para bhante menjalani perjalanan sambil menjaga pikiran tetap fokus dan tenang.
Sebelum memulai ritual, para biksu biasanya menjalani masa berdiam diri dan berpuasa. Tradisi thudong umumnya berlangsung setelah musim hujan berakhir atau ketika memasuki musim kemarau.
Ritual thudong juga merupakan bentuk latihan kesabaran dalam ajaran Buddha. Selama perjalanan berlangsung, para bhante hidup dengan perlengkapan yang sangat sederhana.
Mereka hanya mengenakan jubah biksu, sandal, dan kaus kaki selama menempuh perjalanan ratusan kilometer. Di tengah cuaca panas dan kondisi jalan yang panjang, para bhante tetap berjalan dengan disiplin dan tenang.
Tidak hanya itu, para peserta thudong juga menjalani pola hidup sederhana dengan makan satu kali sehari dan minum secukupnya.
Praktik tersebut menjadi bagian dari latihan spiritual untuk mengendalikan keinginan duniawi serta melatih ketahanan diri.
Dalam ajaran Buddha, kesabaran dipandang sebagai salah satu bentuk praktik dhamma tertinggi. Nilai itulah yang terus diajarkan melalui ritual thudong.
Bagi umat Buddha, perjalanan spiritual ini juga menjadi simbol ketekunan dalam menjalani kehidupan. Setiap langkah para bhante menjadi pengingat tentang pentingnya kedamaian, disiplin, dan pengendalian diri.
Pelaksanaan thudong kerap menjadi perhatian masyarakat di daerah yang dilalui rombongan bhante. Tidak sedikit warga yang sengaja menunggu di pinggir jalan untuk menyambut para peserta perjalanan spiritual tersebut.
Selain menjadi bagian dari tradisi keagamaan, thudong juga membawa pesan toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Kehadiran para bhante sering kali mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, termasuk warga non-Buddha.
Masyarakat biasanya memberikan dukungan berupa air minum, makanan, hingga tempat beristirahat sementara bagi para bhante selama perjalanan berlangsung.
Tradisi itu memperlihatkan bahwa nilai kemanusiaan dan penghormatan antarumat beragama tetap tumbuh di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam.
Ritual thudong menjadi salah satu rangkaian spiritual menjelang Hari Raya Waisak setiap tahun. Selain sebagai bentuk perjalanan religi, kegiatan ini juga menjadi sarana refleksi batin bagi para bhante.
Dengan menempuh perjalanan ratusan kilometer secara berjalan kaki, para biksu menunjukkan praktik hidup sederhana sekaligus dedikasi terhadap ajaran Buddha yang mereka jalani.
Pelaksanaan thudong 2026 juga memperkuat nilai toleransi, kedamaian, dan penghormatan terhadap keberagaman di tengah masyarakat Indonesia.***