
SERAYUNEWS – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan setelah beredarnya tautan palsu yang mengatasnamakan program Bantuan Subsidi Upah (BSU) sebesar Rp600.000 untuk periode April hingga Juni 2026.
Informasi tersebut menyebar melalui pesan berantai dan media sosial serta berpotensi menyesatkan publik.
Tautan yang beredar diklaim sebagai akses pencairan bantuan, namun tidak berasal dari sumber resmi pemerintah.
Jika diakses, masyarakat berisiko mengalami penipuan digital, termasuk kebocoran data pribadi dan potensi kerugian finansial.
Informasi terkait pencairan BSU dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk menjalankan modus penipuan.
Tautan yang disebarkan biasanya mengarahkan pengguna ke laman tertentu yang meminta pengisian data pribadi dengan dalih verifikasi bantuan.
Dalam beberapa kasus, pengguna diminta memasukkan nama lengkap hingga nomor Telegram aktif.
Praktik ini termasuk dalam kategori phishing yang bertujuan mengumpulkan data pribadi untuk disalahgunakan.
Kasus serupa bukan kali pertama terjadi. Informasi palsu mengenai BSU kerap berulang setiap tahun dengan pola yang mirip, sehingga masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap tautan yang tidak jelas sumbernya.
Pemerintah melalui instansi terkait telah menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar. Masyarakat diminta untuk tidak mengakses atau mengisi data pada tautan mencurigakan.
Pemerintah mengingatkan pentingnya memverifikasi informasi sebelum mempercayainya.
Setiap program bantuan memiliki mekanisme resmi yang hanya diumumkan melalui kanal yang telah ditetapkan.
Masyarakat disarankan untuk tidak mengklik tautan yang dibagikan secara sembarangan, terutama dari pesan berantai atau akun yang tidak dikenal. Verifikasi menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hoaks.
Selain itu, masyarakat diminta menjaga kerahasiaan data pribadi. Informasi seperti nomor identitas, rekening, hingga kode verifikasi tidak boleh dibagikan kepada pihak yang tidak dapat dipastikan keabsahannya.
Agar tidak menjadi korban, masyarakat perlu mengenali ciri-ciri informasi palsu yang beredar di ruang digital.
Hoaks umumnya menggunakan judul menarik, menjanjikan keuntungan instan, serta mengarahkan pengguna untuk segera mengakses tautan tertentu.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
Masyarakat diharapkan lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi digital. Kewaspadaan dan literasi digital menjadi faktor penting dalam mencegah kejahatan siber yang terus berkembang.
Peningkatan kesadaran terhadap ciri hoaks serta kebiasaan melakukan verifikasi diharapkan dapat meminimalkan risiko menjadi korban penipuan.