
SERAYUNEWS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa hingga saat ini belum muncul kasus positif virus Nipah di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan setelah otoritas kesehatan melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah orang yang sebelumnya diduga terpapar virus tersebut.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium, seluruh pasien yang masuk kategori suspek dinyatakan negatif.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan situasi masih terkendali.
Pemerintah tetap melakukan pemantauan intensif guna memastikan tidak terjadi penyebaran virus di dalam negeri.
“Semua hasil labnya adalah negatif. Kita tahu penularannya itu kontak erat. Artinya, sebenarnya sudah disampaikan risikonya rendah, tapi artinya yang penting itu pencegahan,” ujar Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Sumarjaya, dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Secara keseluruhan, terdapat 16 orang yang sebelumnya sebagai kasus suspek. Mereka telah menjalani serangkaian pemeriksaan medis. Hasilnya memastikan tidak ada infeksi virus Nipah pada pasien-pasien tersebut.
Kemenkes menjelaskan bahwa virus Nipah memiliki masa inkubasi antara empat hingga 14 hari. Masa inkubasi merupakan periode sejak seseorang terpapar virus hingga muncul gejala.
Dalam rentang waktu ini, seseorang mungkin belum merasakan tanda-tanda penyakit meskipun virus sudah berada dalam tubuh.
Karena masa inkubasi yang cukup panjang, pemantauan terhadap individu yang diduga terpapar menjadi sangat penting.
Langkah ini bertujuan untuk mendeteksi potensi infeksi sejak dini serta mencegah kemungkinan penyebaran lebih lanjut.
Gejala awal yang umumnya muncul antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan kelelahan.
Dalam kondisi yang lebih serius, virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan peradangan otak yang berisiko fatal.
Menurut Kemenkes, virus Nipah tidak mudah menyebar tanpa adanya kontak langsung. Penularan umumnya terjadi melalui interaksi erat dengan individu yang terinfeksi atau melalui paparan terhadap hewan yang membawa virus.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa risiko penyebaran di Indonesia saat ini masih rendah. Namun demikian, pemerintah tetap menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk meminimalkan potensi penularan.
Sumarjaya menekankan bahwa masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus tetap berhati-hati dan memahami cara penularan virus tersebut. Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk melindungi masyarakat.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes terus memperkuat sistem surveilans atau pemantauan penyakit menular.
Pemeriksaan laboratorium berlangsung secara menyeluruh terhadap setiap kasus yang mencurigakan.
Selain itu, pengawasan juga makin ketat di berbagai fasilitas kesehatan dan pintu masuk negara. Upaya ini memastikan bahwa potensi kasus dapat segera terdeteksi dan mendapat penanganan dengan cepat.
Pemerintah juga terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan.
Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan tangan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala menjadi bagian penting dari pencegahan.
Meskipun hingga kini belum ada kasus positif virus Nipah di Indonesia, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah.
Masa inkubasi yang dapat berlangsung hingga dua minggu membuat pemantauan harus berjalan secara konsisten.
Kemenkes memastikan bahwa situasi saat ini masih aman dan terkendali. Namun, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan tetap menjadi prioritas utama guna melindungi masyarakat dari potensi ancaman penyakit menular.
Melalui pengawasan ketat, pemeriksaan laboratorium, dan edukasi berkelanjutan, pemerintah berharap risiko penyebaran virus Nipah dapat dicegah.
Dengan demikian, masyarakat tetap tenang, tapi waspada terhadap kemungkinan munculnya penyakit tersebut.***