
SERAYUNEWS – Dalam perjalanan spiritual seorang mukmin, kehadiran sahabat bukan sekadar teman pengisi waktu luang, melainkan cerminan dan motor penggerak bagi kualitas iman. Mengacu pada Hikmah ke-45 dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah, M. Nur Kholis Setiawan menekankan pentingnya sikap selektif dalam memilih rekan perjalanan hidup. Persahabatan yang berkualitas adalah hubungan yang mampu memberikan energi positif bagi jiwa untuk terus melangkah mendekat kepada Sang Khalik.
M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa dalam konteks sebagai seorang murid atau individu yang menghendaki kedekatan (usul) kepada Allah, memilah sahabat menjadi sebuah keharusan. Meskipun secara umum manusia dianjurkan bersahabat dengan siapa saja, namun untuk lingkaran terdekat yang memengaruhi batin, diperlukan standar spiritual yang jelas agar tidak terjebak dalam hubungan yang justru menjauhkan diri dari Tuhan.
Berdasarkan paparan M. Nur Kholis Setiawan, terdapat beberapa kriteria utama yang harus dimiliki oleh seorang sahabat agar dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan spiritual seseorang:
1. Memiliki Perilaku (Haliah) dan Perkataan (Maqol) yang Terarah pada Allah: Sahabat yang ideal adalah mereka yang setiap tindakan dan ucapannya secara otomatis mengingatkan kita kepada Allah dan memicu keinginan untuk memperbaiki diri.
2. Telah Selesai dengan Dirinya Sendiri: M. Nur Kholis Setiawan menggambarkan kriteria ini sebagai pribadi yang segala perbuatannya semata-mata dilakukan karena Allah, tanpa mengharapkan balasan, pujian, atau memiliki pamrih duniawi.
3. Pintar Sekaligus “Bener” (Memiliki Integritas): Ilmu pengetahuan yang luas harus dibarengi dengan kebenaran dalam berperilaku. Sosok ini menggunakan ilmunya sebagai obor petunjuk agar tindakannya selalu sesuai dengan tuntunan agama.
4. Sadar akan Pengetahuan yang Dimiliki: Bukan sekadar tahu secara intelektual, sahabat yang baik adalah mereka yang menyadari ilmunya sehingga perilakunya mencerminkan aturan-aturan agama dan tidak bertindak semaunya sendiri.
5. Orientasi Hidup yang Tidak Lagi Terdominasi Selain Allah: Fokus utama dalam hidupnya, baik dalam urusan ibadah maupun kebutuhan sehari-hari, senantiasa dikembalikan dan digantungkan hanya kepada Allah.
Sebaliknya, M. Nur Kholis Setiawan memberikan peringatan keras untuk tidak bersahabat dengan orang-orang yang tidak memberikan kontribusi terhadap kebangkitan spiritual. Hal ini mencakup mereka yang mungkin terlihat tekun beribadah secara lahiriah, namun orientasi batinnya masih dipenuhi oleh selain Allah.
Mengenai hal ini, M. Nur Kholis Setiawan mengutip pernyataan penting, “Janganlah kalian bersahabat dengan orang-orang yang perilaku maupun perkataannya itu tidak membangkitkan semangatmu untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
Guru Besar ini juga menambahkan bahwa bersahabat dengan orang yang tampak sederhana namun mampu mengendalikan hawa nafsunya, jauh lebih utama dibandingkan bersahabat dengan orang berilmu tinggi namun menjadi budak egonya sendiri.
Keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan integritas moral menjadi sorotan utama dalam penjelasan M. Nur Kholis Setiawan. Ilmu tanpa perilaku yang benar hanya akan menjadi pengetahuan yang kering, sementara perilaku tanpa ilmu berisiko tersesat.
M. Nur Kholis Setiawan menegaskan, “Pinter sekaligus bener itu yang saya kira yang perlu kita pegang. Jadi bagaimana kita menindaklanjuti nasehat… pintar ini bisa menjadi obor agar yang dilakukan itu sesuai dengan tuntunan, bener sekaligus juga orang itu memiliki integritas.”
Sebagai penekanan akhir, M. Nur Kholis Setiawan mengingatkan bahwa selektivitas ini adalah bagian dari disiplin spiritual, “Bersahabat ini ternyata harus selektif, selektif dalam arti bagaimana kita bisa membersamai orang yang betul-betul haliah atau perilakunya sekaligus perkatanya ini mampu membangkitkan semangat kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.”
Melalui pesan ini, M. Nur Kholis Setiawan mengajak kita semua untuk melakukan Muhasabah. Proses memilih sahabat yang baik seharusnya sejalan dengan upaya kita untuk terus memperbaiki diri, sehingga kita pun dapat menjadi sahabat yang mampu membangkitkan semangat spiritual bagi orang lain di sekitar kita.