
SERAYUNEWS – Kehidupan modern sering kali menuntut manusia untuk bergerak cepat, hingga terkadang melupakan aspek kesehatan batin. Ketidakteraturan panggung dunia, mulai dari kemaksiatan hingga anomali sosial, kerap membuat seseorang merasa frustrasi secara spiritual. Menanggapi tantangan ini, pakar tasawuf Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan membagikan strategi efektif dalam menjaga Muhasabah (introspeksi diri) berdasarkan Hikmah ke-24 Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athoillah as-Sakandari.
Dalam ulasannya, Prof. Nur Kholis menekankan bahwa dunia secara hakiki memang tempatnya kesulitan dan “kekotoran”. Oleh karena itu, Muhasabah menjadi piranti vital agar seorang hamba tidak kehilangan arah. Beliau menegaskan bahwa kejernihan hati tidak harus menunggu dunia menjadi tenang, melainkan diciptakan melalui konsistensi introspeksi di tengah hiruk-pikuk tersebut,.
Berdasarkan penjelasan Prof. Nur Kholis Setiawan, berikut adalah poin-poin penting dalam menjaga kualitas Muhasabah di tengah kesibukan dunia:
1. Pahami Karakter Dasar Dunia
Langkah pertama adalah memiliki pola pikir bahwa dunia memang tempat terjadinya keganjilan dan ketidakberesan. Dengan memahami bahwa dunia tidak akan mengeluarkan sesuatu kecuali sifat aslinya (kesulitan), seseorang tidak akan mudah kaget atau frustrasi. Prof. Nur Kholis menyatakan:
“Janganlah engkau menganggap aneh ketika terjadi ketidakbaikan, ketika terjadi kegelapan, ya ketika terjadi perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan tuntunan agama,” ujarnya menekankan agar hamba tetap tenang di tengah kekacauan.
2. Jadikan Ibadah sebagai “Piranti” Pembersih
Jangan menunggu hati bersih untuk mulai ber-Muhasabah atau beribadah,. Ibadah harus dipandang sebagai alat (wasilah) untuk mencapai derajat dekat dengan Allah, bukan beban. Beliau memaparkan:
“Syariat agama yang kita jalankan sejatinya adalah piranti untuk kita mampu mendekatkan diri kepada Allah dan mudah mendapatkan derajat dekat oleh Allah,” jelasnya.
3. Sediakan Waktu Berkualitas (Quality Time) dan Uzlah
Di tengah kesibukan profesi, sangat penting untuk memiliki waktu menyendiri sejenak guna melakukan evaluasi diri,. Waktu ini digunakan untuk memisahkan diri dari gangguan eksternal agar batin dapat melakukan kalkulasi terhadap kualitas ruhani secara jernih.
4. Lakukan Kalkulasi Harian yang Disiplin
Muhasabah harus dilakukan secara rutin dengan membandingkan kualitas diri dari hari ke hari. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, sesuai dengan pesan Rasulullah mengenai orang yang beruntung,. Jika hari ini lebih buruk, maka itu adalah alarm bagi hamba bahwa ia sedang merugi.
5. Waspadai Jebakan Fenomena Batin (Mukasyafah)
Seorang penyembah yang sejati tidak boleh terlena oleh keajaiban batin atau penglihatan masa depan yang mungkin muncul saat proses spiritual,. Hal tersebut justru merupakan cobaan yang bisa menghentikan langkah menuju Allah. Beliau memperingatkan:
“Jangan sampai kemudian himbauannya seorang salik yang sejati ini berhenti pada saat mukasyafah menghampirinya. Mengapa? Karena mukasyafah itu adalah bagian dari cobaan,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.
Prof. Nur Kholis juga mengajak umat untuk mengubah perspektif terhadap masalah duniawi. Alih-alih meratapi panggung kehidupan yang serba tidak benar, setiap anomali yang ditemukan harus dijadikan sebagai bahan pembelajaran atau lesson learned untuk memperbaiki diri.
Dunia, dengan segala kekurangannya, adalah laboratorium bagi jiwa untuk mempraktikkan ilmu rasa dan menunjukkan siapa hamba yang paling pandai bersyukur (abdan syakuro),. Dengan Muhasabah yang terjaga, seseorang akan tetap memiliki derajat kedekatan dengan Allah secara istiqamah, apa pun posisi dan profesinya di masyarakat.
Melalui praktik Muhasabah yang konsisten, panggung dunia yang suram tidak akan lagi memperkeruh suasana batin, melainkan justru menjadi anak tangga untuk mendaki menuju kedekatan yang lebih tinggi kepada Sang Khaliq.