
SERAYUNEWS– Sabtu (18/4/2026) diperingati sebagai 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang pertama kali digelar di Bandung pada tahun 1955. Momen bersejarah ini dirayakan untuk mengenang semangat solidaritas dan kerja sama antarnegara di kawasan Asia dan Afrika.
Peringatan ke-71 ini merefleksikan keberhasilan 29 negara yang berkumpul di Bandung untuk menolak kolonialisme dan imperialisme, yang menghasilkan Dasasila Bandung. Semangat ini juga menjadi fondasi bagi berdirinya Gerakan Non-Blok (GNB).
Dikutip dari berbagai sumber, Ir Soekarno (Bung Karno) berprean sebagai inisiator, tuan rumah, dan orator utama Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Ia berhasil menyatukan 29 negara untuk melawan kolonialisme, mempromosikan solidaritas Asia-Afrika, dan menghasilkan Dasasila Bandung. Pidato ikoniknya, “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru”, membakar semangat antikolonialisme global.
Presiden pertama RI sekaligus proklamator kemerdekaan RI tersebut bersama pemimpin negara lain (India, Pakistan, Burma, Sri Lanka), menggagas pelaksanaan konferensi ini. Langkah tersebut sebagai respon terhadap ketegangan Perang Dingin antara blok barat dan blok timur. Indonesia dipilih menjadi tempat penyelenggaraan, dan Soekarno membuka langsung KAA pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung.
Pidato Bung Karno dalam pembukaan konferensi yang berjudul “Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru” berhasil mengikat perasaan delegasi peserta dan menekankan bahwa kolonialisme belum mati.
Bung Karno juga memperjuangkan hak bangsa Asia-Afrika untuk menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan asing dan memupuk persaudaraan untuk mengimbangi geopolitik dunia.
Pemikirannya menjadi landasan bagi lahirnya Dasasila Bandung, sepuluh prinsip hubungan internasional untuk perdamaian dunia. Melalui peran aktifnya, Bung Karno menegaskan posisi Indonesia sebagai pelopor gerakan kemerdekaan dan memperkuat posisi negara-negara Asia-Afrika di mata dunia.
Dasasila Bandung: 10 Prinsip Utama
Dasasila Bandung adalah sepuluh poin hasil kesepakatan KAA yang menjadi fondasi hubungan internasional bagi negara-negara berkembang. Berikut isinya:
Relevansi Peringatan Tahun 2026, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menekankan pentingnya Dasasila Bandung sebagai solusi konflik global saat ini.