
SERAYUNEWS – Nama Sony Sonjaya belakangan menjadi salah satu topik yang banyak dicari masyarakat. Lantas, dia dari partai apa?
Bukan hanya karena status hukumnya dalam kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga karena banyak orang penasaran dengan latar belakang sosok yang pernah menduduki posisi penting di Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah, Sony Sonjaya berasal dari partai apa?
Pertanyaan itu muncul karena jabatan yang pernah diembannya berada di lembaga yang menangani program prioritas pemerintah.
Namun, jika menelusuri rekam jejak kariernya, Sony Sonjaya sebenarnya bukan figur yang tumbuh dari dunia politik.
Hingga saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa Sony Sonjaya merupakan anggota maupun pengurus partai politik tertentu.
Sony lebih dikenal sebagai purnawirawan perwira tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Sebagian besar perjalanan profesionalnya dihabiskan dalam institusi kepolisian sebelum akhirnya memasuki lingkungan pemerintahan melalui Badan Gizi Nasional.
Karena itulah, nama Sony selama ini lebih dekat dengan dunia penegakan hukum dan birokrasi dibanding aktivitas politik praktis.
Meski kini namanya ramai diperbincangkan, tidak ditemukan catatan yang menunjukkan dirinya pernah maju dalam pemilihan umum atau memegang jabatan strategis di partai politik.
Sony Sonjaya lahir di Bandung pada 20 Oktober 1967. Ia merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1991.
Kariernya berkembang secara bertahap melalui berbagai penugasan di lingkungan Polri.
Pengalaman yang beragam membuatnya pernah menduduki sejumlah jabatan penting di tingkat daerah maupun nasional.
Saat masih aktif sebagai anggota kepolisian, Sony pernah dipercaya menjadi Kapolres Majalengka dan Kapolres Bandung.
Setelah itu, kariernya terus meningkat hingga menduduki posisi yang berkaitan dengan bidang reserse dan manajemen kepolisian.
Berbagai penugasan tersebut membentuk pengalaman panjang yang akhirnya mengantarkannya mencapai pangkat Inspektur Jenderal Polisi atau Irjen Pol sebelum memasuki masa pensiun.
Rekam jejak tersebut menjadi modal penting ketika dirinya dipercaya bergabung dengan Badan Gizi Nasional.
Setelah mengakhiri karier aktif di kepolisian, Sony Sonjaya memperoleh kepercayaan untuk terlibat dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Program ini menjadi salah satu agenda besar pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Pada awal 2025, Sony dipercaya menjabat sebagai Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II Badan Gizi Nasional.
Dalam posisi tersebut, ia ikut terlibat dalam berbagai kegiatan operasional, termasuk penguatan sumber daya manusia yang bertugas mendukung pelaksanaan program di lapangan.
Tak lama kemudian, kariernya kembali meningkat. Sony mendapat amanah sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.
Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi strategis karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan program yang memiliki cakupan nasional.
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, nama Sony sempat menjadi bahan pembicaraan publik akibat beredarnya pesan berantai yang mengabarkan dirinya terkena operasi tangkap tangan atau OTT.
Informasi tersebut beredar luas melalui media sosial dan aplikasi percakapan.
Namun, kabar tersebut tidak terbukti. Pada saat isu berkembang, berbagai pihak memberikan klarifikasi bahwa tidak ada operasi tangkap tangan terhadap Sony Sonjaya.
Bahkan, pada periode yang sama, ia masih terlihat menjalankan sejumlah aktivitas kedinasan dan koordinasi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Peristiwa itu sempat mereda setelah tidak ditemukan fakta yang mendukung kabar yang beredar.
Situasi berubah beberapa waktu kemudian ketika Kejaksaan Agung mengumumkan perkembangan penyidikan terkait tata kelola Program Makan Bergizi Gratis tahun 2025 hingga 2026.
Dalam proses tersebut, Sony Sonjaya ditetapkan sebagai tersangka bersama sejumlah mantan pejabat lain yang pernah bertugas di lingkungan Badan Gizi Nasional.
Penyidik menduga terdapat penyimpangan dalam pengelolaan program yang memiliki nilai anggaran sangat besar.
Program MBG sendiri menjadi salah satu program pemerintah dengan alokasi dana yang mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah dalam dua tahun pelaksanaannya.
Karena nilai anggaran yang besar dan cakupan program yang luas, perkembangan kasus ini langsung menarik perhatian masyarakat.
Tidak sedikit yang kemudian mulai mencari informasi mengenai sosok-sosok yang terlibat, termasuk latar belakang Sony Sonjaya.
Di tengah berkembangnya kasus yang menjerat dirinya, nama Sony juga sempat dikaitkan dengan sebuah pesan yang berisi ucapan selamat kepada Nanik S Deyang.
Pesan tersebut ramai diperbincangkan di berbagai platform digital karena muncul pada periode yang berdekatan dengan perkembangan kasus hukum yang sedang berjalan.
Meski demikian, perhatian utama publik tetap tertuju pada proses penyidikan yang dilakukan aparat penegak hukum.
Banyak pihak menilai proses hukum perlu dibiarkan berjalan secara transparan agar seluruh fakta dapat terungkap secara jelas.
Kasus yang melibatkan mantan pejabat BGN ini mendapat perhatian besar bukan semata-mata karena sosok yang terlibat.
Lebih dari itu, perkara tersebut berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis yang selama ini menjadi salah satu program strategis nasional.
Program tersebut dirancang untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak sekolah.
Karena menyangkut kepentingan publik yang luas, setiap persoalan dalam pengelolaannya otomatis menjadi perhatian masyarakat.
Meski demikian, penting untuk diingat bahwa proses hukum masih berlangsung.
Dalam sistem hukum Indonesia, setiap orang yang ditetapkan sebagai tersangka tetap memiliki hak untuk membela diri dan mendapatkan perlakuan yang adil hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Sementara itu, jawaban atas pertanyaan yang banyak dicari publik mengenai “Sony Sonjaya partai apa?” cukup jelas.
Berdasarkan rekam jejak yang diketahui publik hingga saat ini, Sony Sonjaya bukan kader partai politik, melainkan purnawirawan perwira tinggi Polri yang kemudian berkarier di Badan Gizi Nasional sebelum akhirnya tersandung kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis.
***