
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendatangi Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah seorang mahasiswa asal Alor menyampaikan persoalan mahalnya harga beras di daerah tersebut saat mengikuti kuliah umum di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.
Mahasiswa tersebut adalah Adriano Padama. Di hadapan 5.155 mahasiswa baru Undip pada Kamis, 6 Agustus 2026, Adriano menyampaikan kondisi distribusi pangan di daerah asalnya kepada Amran.
Dalam kesempatan tersebut, Adriano menyebut harga beras di sejumlah wilayah Alor dapat meningkat hingga Rp25.000-Rp30.000 per kilogram ketika distribusi mengalami gangguan.
Andi Amran Sulaiman merupakan Menteri Pertanian dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Amran dikenal sebagai profesional dan pengusaha sebelum masuk ke pemerintahan.
Amran bukan kader Partai Gerindra maupun partai politik lainnya. Pada pemerintahan Prabowo-Gibran, ia dipercaya kembali memimpin Kementerian Pertanian sebagai menteri dari kalangan profesional.
Amran sebelumnya juga pernah menjabat Menteri Pertanian pada pemerintahan Presiden Joko Widodo periode 2014-2019.
Ia kembali menduduki posisi tersebut pada 25 Oktober 2023 dan tetap menjabat sebagai Menteri Pertanian pada pemerintahan Prabowo.
Amran lahir pada 27 April 1968. Ia menempuh pendidikan pertanian di Universitas Hasanuddin, termasuk pendidikan pascasarjana dan doktoral di bidang ilmu pertanian.
Sebelum menjadi menteri, Amran dikenal sebagai pengusaha dan memimpin Tiran Group yang berbasis di Makassar serta memiliki kegiatan usaha di sejumlah wilayah Indonesia Timur.
Pertemuan Amran dengan Adriano berlangsung dalam kuliah umum di Undip. Dalam acara tersebut, Adriano menyampaikan kondisi pangan yang dihadapi masyarakat di Kabupaten Alor.
Menurut informasi yang disampaikan Adriano, gangguan distribusi dapat menyebabkan harga beras di sejumlah wilayah mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram.
Mendengar informasi tersebut, Amran meminta jajarannya menindaklanjuti persoalan pangan di Alor.
Amran kemudian memutuskan untuk datang langsung ke daerah tersebut. Ia membatalkan agenda rapat pimpinan di Jakarta dan berangkat menuju Alor.
“Urgensi kunjungan ke Alor ini yang pertama, ada kami memberi kuliah umum di UNDIP, Universitas Diponegoro. Kemudian tiba-tiba ada sosok pemuda Alor yang tampil. Kalau pun berteriak, saya terima dengan senang hati, karena teriakannya adalah membawa aspirasi rakyat nyata, real,” ujar Amran saat berada di Alor, Sabtu (8/8/2026).
Dalam kunjungannya, Amran didampingi Adriano untuk meninjau sejumlah lokasi di Alor. Kunjungan tersebut juga digunakan untuk melihat kondisi masyarakat serta program pertanian yang disiapkan pemerintah.
Amran mengatakan kedatangannya dilakukan setelah mendengar langsung persoalan yang disampaikan Adriano ketika kuliah umum di Undip.
“Saya bangga dengan namanya Andriano. Ini adalah putra terbaik NTT. Ini harus kita kawal. Kenapa? Mereka membaca denyut nadi masyarakat. Apa keinginan masyarakat? Bukan bahasa basi, bukan hanya pencitraan, apalagi mengada-ada. Inilah mahasiswa yang harus diteladani. Ini mahasiswa terbaik yang pernah aku temui, ini luar biasa,” tegas Amran.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan yang disampaikan Adriano berkaitan dengan kebutuhan masyarakat Alor.
“Membawa aspirasi rakyat bukan kepentingan pribadi. Padahal dia juga hidup pas-pasan. Tetapi memperjuangkan rakyat Alor, NTT khususnya. Insyaallah kami langsung turun,” katanya.
Amran kemudian menjelaskan alasan pembatalan agenda rapat pimpinan di Jakarta untuk melakukan kunjungan ke Alor.
“Kami batalkan acara rapat pimpinan di Jakarta. Kami langsung terbang dari Jakarta, dari Jawa Tengah, langsung ke Alor. Kami sudah lihat, semua permintaan kami penuhi. Di bawah naungan Kementerian Pertanian,” ujar Amran.
Dalam kunjungan tersebut, persoalan ketersediaan dan harga beras menjadi salah satu hal yang dibahas pemerintah.
Amran menyatakan stok beras tersedia di gudang dan meminta masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan pangan tersebut.
“Pak Andriano, beras sudah aman. Ada di gudang-gudang sekarang. Harga itu Rp13 ribu, sama dengan harga Jakarta. Kita sekarang tidak akan kesulitan beras,” tegas Amran.
Selain memastikan ketersediaan stok, Amran meminta Perum Bulog melakukan operasi pasar di wilayah yang membutuhkan.
“Bulog operasi pasar. Tidak ada batasan. Kalau ada yang mau beli beras, kita keluarkan. Lakukan pasar di mana dibutuhkan. Pasar murah,” imbuhnya.
Operasi pasar tersebut ditujukan untuk menyediakan beras dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat Alor.
Selain persoalan beras, pemerintah juga menyiapkan program di sektor pertanian, termasuk penguatan produksi padi dan jagung sebagai bagian dari penanganan kebutuhan pangan di daerah tersebut.
Andi Amran Sulaiman lahir pada 27 April 1968. Ia merupakan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin dan melanjutkan pendidikan pascasarjana serta doktoral di universitas yang sama.
Sebelum masuk pemerintahan, Amran menjalankan usaha melalui Tiran Group. Perusahaan tersebut berbasis di Makassar dan menjalankan kegiatan usaha di sejumlah wilayah Indonesia Timur.
Amran pertama kali menjabat Menteri Pertanian pada 27 Oktober 2014 hingga 20 Oktober 2019. Setelah itu, ia kembali dipercaya menjadi Menteri Pertanian pada 25 Oktober 2023.
Pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Amran kembali dipercaya mengisi posisi Menteri Pertanian.
Di bidang pertanian, Amran juga pernah menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan di bidang wirausaha pertanian dari Presiden Republik Indonesia pada 2007.***