
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Menghadapi anak yang tiba-tiba menolak berangkat ke sekolah sering kali menjadi tantangan bagi banyak orang tua.
Tidak sedikit ayah dan ibu yang merasa bingung, kecewa, bahkan terpancing marah ketika si kecil terus mencari berbagai alasan agar tidak masuk sekolah.
Padahal, mogok sekolah bukan selalu berarti anak malas belajar. Di balik perilaku tersebut bisa saja tersimpan masalah yang belum terungkap.
Ada beberapa faktor yang paling sering menjadi penyebab anak enggan berangkat ke sekolah.
1. Tidak Nyaman dengan Lingkungan Sekolah
Sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Suasana kelas, guru, maupun teman yang belum dikenal dapat membuat anak merasa tidak nyaman sehingga memilih menghindari sekolah.
2. Mengalami Perundungan atau Sulit Berteman
Bullying masih menjadi salah satu penyebab utama anak menolak sekolah. Anak yang sering diejek, dikucilkan, atau mengalami kekerasan verbal maupun fisik biasanya akan merasa cemas setiap kali harus berangkat ke sekolah.
Selain itu, anak yang belum memiliki teman bermain juga dapat merasa kesepian sehingga kehilangan semangat untuk belajar.
3. Mengalami Kesulitan Belajar
Penyebabnya cukup beragam, misalnya anak mengalami gangguan konsentrasi, kesulitan melihat tulisan di papan tulis karena mata minus, atau kemampuan belajar yang menurun akibat kecanduan gadget.
4. Mencari Perhatian Orang Tua
Dalam beberapa kasus, anak justru merasa akan memperoleh perhatian lebih ketika dirinya tidak berangkat sekolah. Tanpa disadari, mogok sekolah menjadi cara anak untuk mendapatkan perhatian dari orang tua.
Setelah mengetahui penyebabnya, orang tua dapat mencoba beberapa langkah berikut agar anak kembali bersemangat bersekolah.
Perhatikan apakah anak mengalami gangguan kesehatan tertentu. Misalnya, mata minus membuatnya kesulitan melihat tulisan di papan tulis.
Orang tua bisa bertanya baik-baik pada anak. Dengan mengetahui akar masalahnya, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat.
Ketika anak sudah mau bercerita, berikan respons yang menenangkan. Yakinkan bahwa ayah dan ibu akan selalu berada di sisinya.
Jika anak menjadi korban bullying, berikan pelukan dan jelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan perilaku yang tidak benar serta bukan kesalahannya.
Bila anak ternyata sakit, segera ajak ke dokter untuk mengecek lebih lanjut.
Apabila diduga terdapat masalah di lingkungan sekolah, jangan ragu menjalin komunikasi dengan wali kelas, guru, maupun kepala sekolah.
Melalui kerja sama tersebut, penyebab yang membuat anak enggan bersekolah dapat dicari solusinya bersama sehingga anak merasa lebih aman dan nyaman saat kembali ke sekolah.
Ketika anak tetap berada di rumah pada hari sekolah, usahakan rutinitas dan aturan tetap berjalan seperti biasa.
Misalnya, apabila penggunaan gadget memang dilarang pada hari sekolah, aturan tersebut tetap diberlakukan meskipun anak tidak masuk sekolah.
Jika anak mengaku sakit, ajak memeriksakan kondisinya ke dokter. Setelah itu, arahkan anak untuk beristirahat, bukan bermain atau menikmati hiburan sepanjang hari.
Orang tua juga sebaiknya tidak memberikan perhatian berlebihan ketika anak berada di rumah. Dengan demikian, anak memahami bahwa tinggal di rumah saat jam sekolah bukanlah pilihan yang lebih menyenangkan.
Apabila kondisi kesehatan anak sebenarnya baik, pastikan ia tetap mengikuti proses belajar di rumah.
Berikan tugas atau minta anak mempelajari materi yang sedang dipelajari teman-temannya di sekolah pada hari itu.
Jika orang tua harus bekerja, pengawasan belajar dapat dibantu oleh anggota keluarga lain yang dipercaya.
Rutinitas sederhana seperti menyiapkan tas, buku, seragam, dan perlengkapan sekolah pada malam sebelumnya dapat membantu anak merasa lebih siap menghadapi hari esok.
Kebiasaan ini juga mengurangi kepanikan pada pagi hari sehingga suasana sebelum berangkat sekolah menjadi lebih tenang.
Jika anak mengeluhkan demam atau kondisi fisik tertentu, lakukan pemeriksaan terlebih dahulu, misalnya mengukur suhu tubuh menggunakan termometer.
Bila perlu, segera konsultasikan ke dokter untuk memastikan apakah anak benar-benar sakit atau terdapat penyebab lain.
Mengatasi anak SD mogok sekolah memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Setiap anak memiliki alasan yang berbeda sehingga pendekatan pun tidak sama.
Yang terpenting, orang tua perlu mencari akar permasalahan terlebih dahulu, kemudian bekerja sama dengan guru maupun pihak sekolah apabila memang perlu.
Kolaborasi yang baik antara keluarga dan sekolah akan membantu anak merasa lebih aman, nyaman, dan kembali menikmati proses belajar.***