
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, ruang untuk berkumpul, berdiskusi, dan berkarya tetap dibutuhkan. Di Kabupaten Banyumas, salah satu ruang tersebut hadir melalui Komunitas Seni KieBAE yang berbasis di Sokaraja.
KieBAE menjadi wadah bagi para pegiat seni untuk mengekspresikan gagasan melalui berbagai bentuk kesenian, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, hingga diskusi.
Dalam profilnya, KieBAE memperkenalkan diri sebagai “sebuah lembaga seni di Kabupaten Banyumas yang menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan seni.”
Perjalanan KieBAE bermula dari ruang pertemanan. Komunitas ini dirintis pada 2009 melalui aktivitas juguran atau berkumpul bersama.
Dari pertemuan sederhana tersebut, gagasan berkembang menjadi berbagai kegiatan seni dan pementasan.
Seiring perjalanan waktu, KieBAE melahirkan sejumlah karya pertunjukan, di antaranya nDomblong, Ketika Tanah dan Air Berteriak, Aljabar, Malam, Membaca Minak Jingga, Dewi SRI, Sampar Angin, hingga Lengger Sanikem (Bumi Manusia).
KieBAE tidak hanya bergerak melalui pertunjukan. Komunitas ini juga menjadi ruang bagi pameran seni instalasi, patung, serta diskusi yang membahas berbagai gagasan.
Bagi KieBAE, seni tidak berhenti sebagai tontonan. Seni juga menjadi medium untuk menyampaikan gagasan dan membaca berbagai persoalan di sekitar kehidupan masyarakat.
Diskusi menjadi salah satu bagian penting dalam proses kreatif KieBAE. Gagasan yang muncul dari ruang pertemuan kemudian dikembangkan menjadi pertunjukan maupun bentuk karya seni lainnya.
Ketua Komunitas KieBAE, Syaikhul Irfan Anwar, menjelaskan bahwa aktivitas komunitas tersebut berangkat dari diskusi yang kemudian bermuara pada seni pertunjukan.
KieBAE juga membawa semangat pelestarian seni dan budaya Banyumas dengan sentuhan nilai humanisme. Karena itu, panggung bagi komunitas tersebut bukan sekadar tempat untuk menampilkan karya.
Panggung menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan mengenai manusia, kehidupan, lingkungan sosial, hingga kebudayaan.
Identitas KieBAE sebagai ruang “Seni Rupa Diskusi” terus terlihat melalui berbagai aktivitasnya. Salah satunya melalui Sokaraja Art Summit yang menjadi ruang pertemuan bagi karya dan pelaku seni.
Pada 27 Juni 2026, Sokaraja Art Summit kembali digelar di Kedung Kendil Park, Sokaraja Lor, Banyumas. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni sekaligus menjadi bagian dari geliat kesenian di wilayah Banyumas.
Aktivitas KieBAE juga terdokumentasi melalui kanal YouTube Yayasan Seni KieBAE yang memuat sejumlah pementasan teater dan kegiatan para seniman.
Keberadaan KieBAE menunjukkan peran komunitas dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya lokal. Di tengah perkembangan hiburan digital yang menawarkan berbagai bentuk tontonan instan, ruang seni berbasis komunitas tetap menghadirkan pengalaman bertemu dan berinteraksi secara langsung.
Di ruang seperti KieBAE, masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan. Mereka dapat berdiskusi, bertemu seniman, menciptakan karya, sekaligus menjadi bagian dari ekosistem seni yang terus berkembang.
Dari juguran sederhana pada 2009, KieBAE tumbuh menjadi salah satu ruang kreatif yang ikut mewarnai perjalanan kesenian Banyumas.
KieBAE pada akhirnya bukan hanya tentang mereka yang berada di atas panggung. Di dalamnya terdapat orang-orang yang berdiskusi, seniman yang menciptakan karya, serta masyarakat yang datang dan menjadi bagian dari proses kreatif.
Selama ruang untuk berkumpul dan berkarya tetap tersedia, seni akan selalu memiliki jalan untuk terus hidup. (Sundi Tias)