
SERAYUNEWS- Setiap tahun, dunia membuang jutaan ton plastik. Jika dulu kita hanya melihat sampah plastik di pantai atau tempat pembuangan, kini ancamannya justru semakin kecil dan tak terlihat (mikroplastik dan nanoplastik).
Partikel plastik yang ukurannya di bawah 5 milimeter itu tidak benar‑benar hancur, hanya terpecah jadi lebih kecil.
Mereka tersebar di udara, air, tanah, bahkan merayap ke dalam makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari.
Dalam sejumlah laporan global, jumlah polusi mikroplastik akan naik tajam dalam 15–20 tahun ke depan. Jika tren sekarang berlanjut tanpa terobosan besar, pencemaran oleh mikroplastik bisa berlipat ganda pada 2040.
Tanpa intervensi kuat, polusi plastik secara umum termasuk limbah kemasan dan plastik sekali pakai diproyeksikan bisa meningkat tiga kali lipat di ekosistem perairan dalam satu dekade lebih.
Artinya, lebih banyak partikel mikroplastik juga akan terus beredar lewat air hujan, sungai, laut, bahkan udara yang kita hirup di kota‑kota padat.
Mikroplastik sudah muncul di berbagai tempat yang kita anggap aman, seperti air hujan, air minum kemasan, garam dapur, makanan laut, sampai debu di udara perkotaan.
Karena kecil dan ringan, partikel ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui mulut, hidung, dan sistem pencernaan tanpa kita sadari.
Penelitian kini menunjukkan bahwa mikroplastik bisa ada di dalam darah, paru‑paru, saluran cerna, bahkan di jaringan otak manusia.
Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik berkaitan dengan risiko kesehatan yang serius.
Partikel ini bisa memicu peradangan, gangguan sistem imun, dan kerusakan seluler di jaringan tempat mereka menumpuk.
Di paru‑paru, mikroplastik yang terhirup dapat menyebabkan iritasi dan rusaknya sel. Lalu, hal ini meningkatkan risiko penyakit paru seperti asma, bronkitis, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Sementara di usus, mereka bisa mengganggu keseimbangan bakteri baik (mikrobioma usus) dan memicu peradangan kronis.
Yang lebih mengkhawatirkan, mikroplastik bisa menjadi pengangkut bahan kimia berbahaya, seperti pengganggu hormon (endocrine disruptors) dan logam berat.
Saat partikel ini masuk ke dalam tubuh, zat beracun yang menempel di permukaannya bisa dilepaskan dan mengacaukan sistem hormon, metabolisme, bahkan fungsi kognitif dan reproduksi.
Kelompok yang paling rentan menghadapi risiko tinggi adalah anak‑anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Pertumbuhan dan perkembangan anak masih sangat sensitif terhadap gangguan hormon dan racun. Jadi, risiko gangguan tumbuh kembang, kognisi, dan kesehatan jangka panjangnya jauh lebih besar.
Ada kekhawatiran mikroplastik yang terakumulasi di plasenta bisa menembus ke janin.
Dampak polusi mikroplastik bukan hanya soal kesehatan fisik, tapi juga soal ekonomi dan kesejahteraan.
Nelayan dan masyarakat pesisir yang mengonsumsi makanan laut setiap hari mulai cemas, karena hasil tangkapan mereka sering terkontaminasi mikroplastik.
Kualitas air minum dan pangan tercemar juga menambah beban pada sistem kesehatan, terutama di daerah yang akses layanannya terbatas.
Jika tidak diatasi, biaya pengobatan dan kerugian produktivitas dari penyakit yang terkait plastik bisa membengkak dalam 15–20 tahun ke depan.
Para peneliti menekankan, dunia sedang di ujung potensi krisis kesehatan besar jika produksi, penggunaan, dan pengelolaan limbah plastik tidak segera dikendalikan.
Angka yang ada saat ini masih jauh dari gambaran sebenarnya tentang dampak plastik pada kesehatan manusia.
Pencegahan harus mulai dari hulu.
Di sisi publik, kebiasaan baru seperti memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, dan memilih kemasan ramah lingkungan bisa jadi langkah konkret.***