
Beberapa waktu lalu, sejumlah kelompok para pegiat alam bebas mencoba mengungkap beragam potensi yang ada. Ekspedisi Sisik Naga digagas oleh Perhimpunan Pegiat Alam (PPA) Gasda dan menggandeng komunitas pecinta alam ke Purbalingga. Mereka masuk dan menjelajah hutan berhari-hari untuk mendata dan mendokumentasikan apa yang mereka temui.
“Kami juga dibantu oleh peneliti dari Kelompok Studi Biologi (KSB) Universitas Atmajaya,” kata Ketua Ekspedisi Sisik Naga, Gunanto Eko Saputro, Sabtu (16/01/2021).
Perjalanan dilakukan enam hari lima malam, dimulai Kegiatan lapangan dilaksanakan selama pada 23 sampai 29 Oktober 2020. Hari pertama perjalanan disambut hujan. Namun tekad untuk mengungkap isi hutan tak bisa padam.

Menurut Gunarto, ekpedisi tersebut merupakan salah satu upaya untuk menyelamatkan kawasan hutan alam Purbalingga yang masih tersisa. Area tersebut ada di wilayah yang disebut dengan Zona Serayu Utara yang saat ini dibawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Banyumas Timur.
Wilayah tersebut membentang di utara Purbalingga dari Kecamatan Rembang, Karangmoncol, Karanganyar, Kertanegara, Karangjambu sampai Karangreja yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Pekalongan dan Pemalang. Topografinya berbukit-bukit dan jika dilihat melalui google earth tampak seperti sisik-sisik naga.
“Oleh karena itu, kami menyematkan sebagai kawasan ‘Pegunungan Sisik Naga’ dan kegiatan ini dinamakan Ekspedisi Sisik Naga,” kata pria yang akrab disapa Igoen.

Hasil ekspedisi ditemui beragaman keanekaragaman hayati. Misalnya, dari sisi biologi ditemukan ada 24 spesies burung, 15 spesies gastropoda, 8 jenis capung (odonata), 4 spesies herpetofauna. Kemudian ada puluhan jenis tumbuhan bawah, belasan jenis epifit dan puluhan jenis pohon.
“Ini melengkapi berbagai penelitian sebelumnya, misalnya yang dilakukan oleh KSB Atmajaya pada Maret 2018,” kata Igoen.
Setelah data dikompilasi dan diperbandingkan dengan penelitian sebelumnya, setidaknya ada 46 spesies burung, 20 spesies gastropoda, 15 spesies odonata dan 9 jenis herpetofauna. Selain itu, Pegunungan Sisik Naga juga menjadi ‘rumah’ bagi berbagai macam spesies primata dan mamalia. Keragaman flora juga sangat melimpah yang menyediakan ekosistem yang baik bagi berkembangnya satwa-satwa liar.
Dari berbagai jenis satwa tersebut ada ada beberapa satwa yang dilindungi karena terancam punah. Misalkan, dari keluarga burung ada Elang Jawa (Nizaetus bartelsii), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Elang Hitam (Ictinaetus malaiensis), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris), Cica Daun Besar (Chloropsis sonnerati), Rangkong Julang Emas (Aceros undulatus), Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros albirostris).

Kemudian, dari primata ada Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Thracypitecus aruratus) dan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Kemudian, dari keluarga mamalia ada Macan Tutul (Panthera pardus melas), Babi Hutan (Sus Schrofa), Kijang (Muntiacus muntjak) dan lainnya.
Floranya sangat beragam mulai dari tumbuhan bawah seperti aneka rotan, pakis, keladi. Ada tumbuhan epifit, juga tumbuhan berkayu. “Flora langka, seperti anggrek dan kantong semar juga banyak ditemukan di sana,” ujarnya.
Hal ini, lanjut Gunanto, menunjukkan bahwa Pegunungan Sisik Naga merupakan benteng terakhir hutan alam yang ada di Purbalingga. “Tidak ada wilayah lain di Purbalingga yang memiliki hutan dengan keanekaragaman hayati yang melimpah seperti Pegunungan Sisik Naga. Ini harus kita jaga bersama,” kata alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu.
Ft:
1. Burung Elang Julang Emas
2. Personil Ekspedisi Sisik Naga Saat foto bersama
3. Personil Ekspedisi Sisik Naga Saat foto bersama
4. Burug Elang Emas
5. Owa Jawa