
SERAYUNEWS – Penantian 22 tahun berakhir. Arsenal resmi memastikan diri menjadi juara Premier League musim 2025/2026 setelah Manchester City ditahan imbang AFC Bournemouth 1-1, Rabu (20/5/2026) dini hari WIB.
Namun euforia gelar Liga Inggris tampaknya baru permulaan. Kini perhatian publik London Utara langsung tertuju ke satu target yang jauh lebih besar, Liga Champions UEFA. Karena di depan mata, Arsenal tinggal selangkah lagi menuju sejarah terbesar mereka.
Hasil imbang Manchester City memastikan Arsenal tak lagi bisa dikejar di puncak klasemen. Dengan koleksi 82 poin, pasukan Mikel Arteta resmi mengunci gelar meski masih menyisakan satu pertandingan melawan Crystal Palace. Inilah yang membuat situasi Arsenal semakin berbahaya bagi lawan-lawannya.
Mereka kini bisa fokus penuh ke final Liga Champions melawan juara bertahan, Paris Saint-Germain, pada Sabtu (30/5/2026) WIB mendatang.
Saat pertama datang ke Arsenal pada Desember 2019, banyak yang meragukan kemampuan Arteta. Ia dianggap terlalu minim pengalaman untuk membangkitkan klub sebesar Arsenal. Namun hampir tujuh tahun kemudian, pelatih asal Spanyol itu sukses membalikkan semuanya.
Bukan hanya membawa Arsenal juara Liga Inggris, tetapi juga mengantar mereka kembali ke final Liga Champions, sesuatu yang terakhir kali terjadi pada 2006. Kini Arteta punya kesempatan mengubah musim luar biasa menjadi musim legendaris.
Masalahnya, lawan Arsenal kali ini adalah monster Eropa yang sedang berada di puncak kekuatan mereka. Paris Saint-Germain datang sebagai juara bertahan Liga Champions dan baru saja memastikan gelar Liga Prancis.
Tim asuhan Luis Enrique dianggap memiliki salah satu skuad paling lengkap di dunia saat ini.
Di lini depan, Ousmane Dembélé kembali menjadi ancaman utama. Peraih Ballon d’Or musim lalu itu tampil luar biasa dengan tujuh gol dan dua assist di Liga Champions musim ini. Belum lagi kehadiran Khvicha Kvaratskhelia yang dikenal brutal dalam duel satu lawan satu dan sangat berbahaya dari sisi sayap.
PSG juga memiliki wonderkid sensasional Désiré Doué yang tampil matang meski baru berusia 20 tahun.
Kekuatan PSG semakin lengkap dengan trio lini tengah Vitinha, Fabián Ruiz, dan João Neves yang disebut sebagai kombinasi gelandang paling komplet musim ini.
Di belakang, Achraf Hakimi dan Nuno Mendes aktif membantu serangan, sementara duet Marquinhos dan Willian Pacho menjadi tembok kokoh PSG sepanjang fase gugur.
Setelah mengakhiri kutukan 22 tahun di Liga Inggris, Arsenal kini berada di titik yang menentukan.
Jika berhasil mengalahkan PSG, maka musim ini bukan lagi sekadar sukses, melainkan musim terbaik dalam sejarah modern Arsenal.
Namun jika gagal, mereka tetap akan dikenang sebagai juara domestik, yang kembali gagal menaklukkan Eropa.