
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Seperti apa wajah Purwokerto saat anak muda pada era dulu mencari tempat hiburan? Sebelum pusat perbelanjaan dan kafe memenuhi sudut kota, bioskop menjadi salah satu pilihan favorit untuk menghabiskan waktu.
Cerita tentang Purwokerto zaman dulu itu masih tersimpan dalam ingatan warga yang pernah merasakan suasananya. Salah satunya Ary Dhianti (44), warga asli Purwokerto yang mengenang masa mudanya ketika bioskop menjadi bagian dari kehidupan anak muda di kota tersebut.
Dari cerita Ary, ada nama bioskop yang hingga kini masih bertahan, tetapi ada pula yang tinggal menjadi kenangan.
Ary mengatakan Bioskop Rajawali menjadi salah satu tempat hiburan yang paling ia ingat dari masa mudanya. Bioskop tersebut tidak hanya menjadi tempat menonton film, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial anak muda Purwokerto pada masanya.
Kini, puluhan tahun berlalu, Bioskop Rajawali masih berdiri. Keberadaannya menjadi semacam pengingat bahwa sejumlah sudut Purwokerto pernah menjadi saksi aktivitas generasi muda dari masa ke masa.
Bagi warga yang pernah mengunjunginya, Rajawali bukan sekadar bangunan bioskop. Tempat tersebut menyimpan memori tentang masa muda, pertemanan, hiburan, dan suasana kota yang tentu berbeda dengan Purwokerto hari ini.
Selain Rajawali, Ary juga mengenang Bioskop President sebagai salah satu tempat hiburan yang populer pada zamannya.
Berbeda dengan Rajawali, Bioskop President kini sudah tidak beroperasi. Keberadaannya tinggal menjadi bagian dari cerita warga yang pernah merasakan suasana Purwokerto pada masa tersebut.
“Dulu tu sering banget, ada pasar malam sama pameran musiman,” kenang Ary saat menceritakan keseruan masa remajanya.
Kenangan itu menunjukkan bahwa hiburan warga Purwokerto pada masa lalu tidak hanya berlangsung di bioskop. Pasar malam dan pameran musiman juga menjadi magnet yang menarik masyarakat, khususnya anak muda.
Menurut Ary, pasar malam masih menjadi salah satu hiburan yang dapat ditemui hingga sekarang. Tradisi tersebut tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat dan menjadi bagian dari suasana kota.
Namun, ia mengaku sudah jarang menemukan pameran musiman seperti yang dulu sering ia datangi.
Kondisi tersebut tidak serta-merta berarti kegiatan tersebut sepenuhnya menghilang. Ary mengatakan kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang kini fokus mengurus anak dan keluarga membuatnya tidak lagi sering bepergian seperti ketika masih muda.
Perubahan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana pola hiburan dan aktivitas masyarakat ikut berubah mengikuti perkembangan zaman.
Kisah Ary tentang bioskop dan hiburan masa lalu memperlihatkan bahwa Purwokerto memiliki banyak cerita yang tersimpan dalam ingatan warganya.
Ada tempat yang mampu bertahan melewati perubahan zaman seperti Bioskop Rajawali. Ada pula tempat yang kini tinggal nama dan kenangan seperti Bioskop President.
Begitu juga dengan pasar malam dan pameran musiman yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Purwokerto.
Cerita-cerita semacam ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi generasi yang lahir dan tumbuh di Purwokerto saat ini, kisah tersebut dapat menjadi cara untuk mengenal wajah kota pada masa lalu.
Karena itu, sesekali tidak ada salahnya mengajak orang tua atau warga yang lebih tua berbincang tentang masa muda mereka. Dari obrolan sederhana, bisa muncul cerita tentang jalan, bangunan, tempat hiburan, hingga kebiasaan masyarakat yang sudah berubah atau bahkan hilang. (Amelia Zhariif)