
SERAYUNEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan dengan intensitas tinggi yang masih akan melanda wilayah Jawa Tengah hingga awal Mei 2026.
Masa pancaroba yang masih berlangsung serta pengaruh Siklon Tropis Narelle memicu kondisi ini, hingga menyebabkan peningkatan curah hujan di sejumlah daerah.
BMKG menegaskan bahwa hujan tidak hanya terjadi secara sporadis, tetapi berpotensi turun dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan beserta angin kencang dan petir.
Situasi ini membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Sejumlah wilayah di Jawa Tengah masih mengalami hujan dengan intensitas cukup tinggi. Daerah bagian selatan seperti Cilacap dan Banyumas menjadi kawasan yang kerap mengalami hujan deras dalam beberapa hari terakhir.
Akibatnya, genangan air hingga banjir terjadi di beberapa titik dan mengganggu aktivitas warga.
Bahkan, kondisi ini sempat berdampak pada kelancaran arus lalu lintas, terutama di jalur utama seperti Pejagan–Purwokerto di wilayah Brebes saat periode arus balik Lebaran.
BMKG menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang memicu kondisi cuaca ini adalah keberadaan Siklon Tropis Narelle di sekitar wilayah Australia.
Meski tidak berada langsung di Indonesia, siklon tersebut memengaruhi pola angin di wilayah Jawa.
Pergerakan siklon menarik massa udara menuju pusatnya, sehingga menyebabkan penumpukan udara di sekitar Jawa Tengah.
Hal ini memicu pertumbuhan awan hujan yang lebih intens dan meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan durasi lebih lama.
Selain itu, adanya pertemuan angin atau konvergensi turut memperkuat pembentukan awan hujan, sehingga hujan masih sering terjadi meskipun sebagian wilayah mulai mendekati musim kemarau.
BMKG menyebutkan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan masa pancaroba, yaitu periode peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Pada fase ini, cuaca cenderung berubah-ubah dalam waktu singkat.
Hujan deras dapat terjadi secara tiba-tiba, beserta kilat dan angin kencang. Suhu udara di Jawa Tengah berkisar antara 25 hingga 33 derajat Celsius.
Tingkat kelembapan yang mencapai 60 hingga 95 persen sangat mendukung terbentuknya awan hujan.
BMKG memprakirakan bahwa kondisi hujan dengan intensitas tinggi ini masih akan berlangsung hingga awal Mei 2026. Dalam waktu dekat, hujan deras juga diprediksi masih akan terjadi hingga akhir Maret di berbagai wilayah Jawa Tengah.
Meski sebagian daerah diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei, hujan masih akan tetap turun selama masa peralihan belum sepenuhnya berakhir. Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Masyarakat merasakan dampak kondisi ini, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan daerah dengan sistem drainase terbatas.
Risiko genangan air meningkat ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dan berlangsung cukup lama.
Selain itu, para pemudik juga menghadapi tantangan selama perjalanan, terutama pengguna kendaraan roda dua. Jalan licin, genangan air, serta jarak pandang yang terbatas menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dan menghindari wilayah rawan saat hujan deras terjadi. Warga juga harus lebih waspada terhadap potensi angin kencang dan petir.
Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar daerah aliran sungai, penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan karena debit air dapat meningkat secara tiba-tiba.
Selain itu, memastikan kondisi kendaraan tetap prima juga menjadi hal penting bagi yang melakukan perjalanan.
Peringatan BMKG menegaskan bahwa cuaca ekstrem di Jawa Tengah masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Karena Siklon Tropis Narelle dan kondisi pancaroba, hujan lebat diprediksi terjadi hingga awal Mei 2026.
Dengan kewaspadaan dan kesiapan yang baik, masyarakat dapat meminimalkan risiko serta tetap aman dalam menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.***