
SERAYUNEWS- Setelah Bulan Suci Ramadhan berakhir, banyak umat Islam, terutama perempuan, menghadapi pertanyaan yang cukup membingungkan: apakah harus mendahulukan puasa qadha atau boleh langsung puasa sunnah Syawal?
Tak sedikit pula yang bertanya, apakah puasa Syawal bisa digabung dengan puasa qadha Ramadhan dalam satu niat? Pertanyaan ini penting, karena berkaitan dengan keabsahan ibadah sekaligus pahala yang diperoleh.
Bagi yang memiliki utang puasa karena uzur seperti haid, sakit, safar, atau kondisi lain, berikut kami sajikan ulasannya menjawab munculnya pertanyaan apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal dalam satu niat?
Melansir laman MUI dan NU Online, puasa sunnah enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim No. 1164)
Menurut penjelasan Imam al-Nawawi, pahala tersebut dihitung dari kelipatan amal:
Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dan Qadha?
Pendapat ulama berbeda dalam menyikapi hal ini. Dalam kajian fiqih klasik, Imam al-Syarqawi menjelaskan bahwa:
– Menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal tetap sah
– Tetap mendapatkan pahala puasa Syawal
– Namun, tidak mendapatkan pahala secara sempurna
Pendapat ini juga diperkuat oleh Imam al-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj.
Berdasarkan fatwa dari Al-Azhar, terdapat tiga pandangan ulama:
1. Hanya Salah Satu yang Sah
Pendapat ulama Hanabilah menyatakan bahwa jika niat digabung, maka hanya satu puasa saja yang dianggap sah.
2. Keduanya Sah (Pendapat Mayoritas)
Ulama Malikiyah dan mayoritas Syafi’iyah berpendapat bahwa:
– Puasa qadha dan puasa Syawal sama-sama sah jika digabung
– Namun, tetap ada perbedaan dalam kesempurnaan pahala
3. Tidak Boleh Digabung
Sebagian ulama Syafi’iyah dan riwayat Hanabilah melarang penggabungan dua niat dalam satu ibadah puasa.
Mantan Mufti Mesir, Ali Jum’ah, menjelaskan bahwa:
– Menggabungkan puasa Syawal dan qadha diperbolehkan
– Pelaku bisa mendapatkan dua pahala sekaligus
Namun ia menegaskan:
“Lebih utama dan lebih sempurna jika kedua puasa tersebut dilakukan secara terpisah.”
Artinya, pahala ganda tidak selalu berarti pahala maksimal.
Mana yang Harus Didahulukan?
Dalam kitab Mughnil Muhtaj, dijelaskan bahwa:
– Orang yang mengqadha puasa di bulan Syawal tidak mendapatkan keutamaan penuh seperti dalam hadits
– Karena tidak memenuhi syarat “puasa Ramadhan lalu diikuti Syawal”
Bahkan, sebagian ulama menganjurkan:
– Jika tidak sempat puasa Syawal, bisa diganti di bulan berikutnya (Dzulqa’dah), meski nilainya berbeda
Penjelasan Syamsuddin ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj menyebutkan:
– Orang dengan uzur: boleh puasa Syawal, tapi makruh sebelum qadha
– Orang yang sengaja meninggalkan puasa Ramadhan tanpa uzur: haram melakukan puasa sunnah sebelum qadha
Jadi Boleh Digabung, Tapi Tidak Sempurna
– Menggabungkan puasa Syawal dan qadha: boleh
– Mendapat pahala: iya
– Pahala tidak maksimal jika digabung
Cara terbaik:
– Dahulukan qadha Ramadhan
– Lanjutkan puasa 6 hari Syawal secara terpisah
Perbedaan pendapat di kalangan ulama menunjukkan keluasan hukum Islam. Namun, untuk meraih keutamaan ibadah secara maksimal, memisahkan puasa qadha dan puasa Syawal tetap menjadi pilihan paling utama.
Dengan memahami hal ini, umat Islam bisa menjalankan ibadah secara lebih tenang dan sesuai tuntunan.