
SERAYUNEWS – Ratusan pedagang yang sebelumnya berjualan di sepanjang Jalan Vihara, Purwokerto, kini resmi menempati lapak di dalam Pasar Wage, Minggu (22/3/2026).
Para pedagang yang telah berjualan puluhan tahun itu secara mandiri meninggalkan badan jalan dan beralih ke lokasi yang telah disediakan pemerintah.
Proses penataan pedagang berlangsung dengan pendekatan persuasif dan humanis. Bahkan, penataan tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
Relokasi ini menjadi langkah penting untuk menata kawasan pasar agar lebih tertib dan tidak mengganggu lalu lintas di sekitar Jalan Vihara.
Momentum relokasi ini juga menjadi tonggak sejarah baru bagi pedagang Pasar Wage. Dua paguyuban yang selama ini terpisah, yakni Paguyuban Pedagang Pasar Wage (P3W) dan Paguyuban Pedagang Pagi Pasar Wage Purwokerto (P4WP), sepakat untuk melebur menjadi satu wadah.
Ketua P3W, Muhammad Toha, menyebut kesepakatan ini sebagai awal baru bagi para pedagang.
“Sekarang tidak ada lagi sekat P3W atau P4WP, semuanya melebur menjadi satu, yaitu pedagang Pasar Wage. Kami melihat perhatian dari kepala dinas dan kabid pasar sangat besar kali ini,” kata Toha.
Ketua P4WP, Nada Pratikno, juga menyatakan dukungan penuh terhadap penyatuan tersebut.
“Saya setuju sekali, lupakan P4WP lupakan P3W, kita menatap maju lagi ke depan dalam satu wadah pedagang Pasar Wage,” katanya.
Nada mengungkapkan bahwa perbedaan antara kedua kelompok telah berlangsung sekitar 25 tahun dan kerap memicu konflik.
“25 tahun berselisih paham, karena masing-masing itu, aku grup P3W aku grup P4WP, itu sangat rawan terjadi selisih paham. Karena itu dari dulu sudah pakai amarah,” kata dia.
Sesuai kesepakatan, kawasan Jalan Vihara harus sudah kosong sejak 22 Maret pukul 00.00 WIB. Penataan fisik secara menyeluruh akan dilanjutkan setelah Idulfitri agar tidak mengganggu puncak aktivitas perdagangan.
Para pedagang juga mulai membersihkan lapak secara mandiri sebagai bentuk komitmen terhadap kesepakatan bersama.
Sebelumnya, sejumlah pedagang sempat khawatir relokasi akan berujung pada penggusuran. Namun, kepastian bahwa pemerintah menyediakan lapak secara gratis tanpa pungutan menjadi faktor utama yang mengubah sikap mereka.
“Tempat sudah disediakan gratis oleh pemerintah. Kami berharap perhatian ini berlanjut agar aktivitas pasar ke depan jauh lebih lancar. Awalnya kami kaget dan sempat ingin melawan karena ini menyangkut urusan perut. Tapi setelah ada pendekatan yang baik dan humanis, kami sadar bahwa lokasi ini milik pemerintah. Kami harus menjadi warga negara yang baik,” ujarnya.
Dengan penyatuan paguyuban dan relokasi yang berjalan kondusif, pedagang berharap aktivitas di Pasar Wage ke depan lebih tertib, nyaman, dan minim konflik.