
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Mengapa banyak anak muda justru menikmati lagu yang dirilis jauh sebelum mereka lahir?
Bagi Generasi Z, nostalgia tidak selalu berasal dari pengalaman yang benar-benar pernah mereka alami. Lagu, film, gaya berpakaian, hingga budaya populer dari masa lalu dapat menciptakan rasa familiar terhadap sebuah era yang bahkan belum pernah mereka jalani.
Fenomena tersebut dikenal sebagai borrowed nostalgia atau nostalgia pinjaman. Istilah ini merujuk pada ketertarikan dan rasa nostalgia terhadap pengalaman, suasana, atau masa yang tidak dialami seseorang secara langsung.
Di era digital, Gen Z semakin mudah mengenal masa lalu melalui media sosial dan berbagai platform digital. Musik menjadi salah satu pintu masuknya. Lagu-lagu dari era 1990-an hingga awal 2000-an kembali muncul dalam playlist dan menjadi bagian dari keseharian generasi yang lahir setelah periode tersebut.
Bagi Matthew, Gen Z kelahiran 2004, musik lawas memiliki kedekatan emosional tersendiri. Ia menikmati musik dari sejumlah band lama karena lagu-lagu tersebut justru membantunya mengingat berbagai fase dalam kehidupannya.
“Aku suka mendengarkan lagu lawas karena membuatku relate sama masa-masa SMP dan SMA. Aku juga menambah lagu-lagu klasik ke playlist. Top tiga band favoritku ada Sheila on 7, Naif, sama Slank. Tiga band itu menemani masa tumbuhku menjadi dewasa dan membuatku memahami hal-hal yang sebelumnya belum aku ketahui,” ujar Matthew.
Pengalaman Matthew menunjukkan bahwa nostalgia terhadap lagu lawas tidak selalu berkaitan dengan tahun ketika sebuah lagu dirilis.
Sebuah lagu bisa menjadi bagian dari memori seseorang ketika lagu tersebut hadir dalam fase tertentu dalam hidupnya. Karena itu, musik yang lebih tua dari usia pendengarnya tetap dapat terasa personal.
Ketertarikan terhadap musik lawas juga tidak selalu muncul karena pengalaman personal. Bagi Reza, salah satu daya tarik utama lagu lama justru terletak pada karakter musik dan liriknya.
“Dari lirik lebih deep aja, asyik. Kalau musiknya lebih simpel, aransemennya juga. Terus liriknya simpel dan mudah dimengerti,” kata Reza.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan Gen Z terhadap musik lawas tidak semata-mata merupakan efek nostalgia. Karakter aransemen, kesederhanaan musik, serta lirik yang dianggap mudah dipahami juga menjadi alasan lagu lama tetap menarik untuk didengarkan.
Hal serupa dirasakan Jo, Gen Z kelahiran 2005. Baginya, musik lawas mampu membangun hubungan emosional yang bertahan dalam perjalanan hidup.
“Kalau aku karena musik lawasan itu menciptakan hubungan jangka panjang. Terus ada rasa nyaman yang buat dijelasin itu susah. Misalnya dalam perjalanan hidup, jadi kayak nostalgia,” ujarnya.
Rasa nyaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam nostalgia. Musik dapat menjadi pengingat terhadap periode tertentu sekaligus menghadirkan kembali emosi yang melekat pada periode tersebut.
Sementara itu, Fira, Gen Z kelahiran 2006, melihat musik lawas memiliki karakter berbeda dibandingkan musik masa kini.
“Vibe lagunya biasanya ada ciri khasnya yang kadang susah ditemuin di lagu zaman sekarang. Sama lagu lawas kan biasanya sempat didengerin pas kecil, jadi pas gede ada feel nostalgianya,” tutur Fira.
Bagi Fira, pengalaman mendengarkan lagu tersebut sejak kecil turut membentuk rasa nostalgia ketika beranjak dewasa. Artinya, sebuah lagu tidak harus berasal dari era kelahiran seseorang untuk memiliki nilai emosional.
Psikolog klinis Krystine Batcho menjelaskan kepada Time Magazine pada 2023 bahwa nostalgia dapat berfungsi sebagai pelarian emosional.
Nostalgia tidak semata-mata berkaitan dengan kerinduan terhadap masa lalu. Perasaan tersebut juga dapat menjadi cara seseorang mencari kenyamanan dan stabilitas melalui kenangan maupun skenario yang dibayangkan.
Dalam konteks Gen Z, paparan terhadap budaya populer masa lalu melalui internet membuat batas antara pengalaman pribadi dan pengalaman yang diwariskan secara budaya menjadi semakin tipis.
Seseorang dapat mengenal lagu, film, gaya hidup, atau tren dari masa lalu tanpa pernah mengalami langsung era tersebut. Paparan berulang kemudian dapat menciptakan rasa familiar dan kedekatan emosional.
Fenomena borrowed nostalgia semakin mudah berkembang karena cara Gen Z mengakses informasi dan hiburan telah berubah.
Media sosial dan platform digital memungkinkan lagu atau tren lama ditemukan kembali, digunakan dalam konten, lalu menyebar kepada jutaan pengguna dalam waktu singkat.
Jika sebelumnya siklus nostalgia populer sering dikaitkan dengan kembalinya tren sekitar 20 hingga 25 tahun setelah suatu era berlalu, kini proses tersebut dapat berlangsung jauh lebih cepat.
Sebuah lagu dari era 1990-an atau 2000-an dapat kembali populer ketika digunakan dalam video pendek, menjadi latar konten viral, atau muncul kembali dalam rekomendasi algoritma platform musik.
Akibatnya, masa lalu tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh. Gen Z dapat mengakses, mengenal, bahkan mengadopsi kembali berbagai elemen budaya dari era yang tidak mereka alami.
Pada akhirnya, ketertarikan Gen Z terhadap lagu lawas tidak hanya soal musik dari masa lalu.
Bagi sebagian Gen Z, lagu lama dapat menjadi ruang untuk menemukan kenyamanan, memahami diri, membangun identitas, dan menghubungkan pengalaman pribadi dengan budaya dari generasi sebelumnya.
Di situlah borrowed nostalgia menjadi menarik. Seseorang tidak harus pernah hidup di sebuah era untuk merasa dekat dengannya. Cukup melalui lagu, cerita, gambar, dan budaya yang terus ditemukan kembali, masa lalu bisa terasa seperti bagian dari perjalanan hidup sendiri. (Faradian Yusi)