
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Setiap musim pemilu tiba, satu pertanyaan kembali mengemuka: seberapa peduli generasi muda terhadap politik?
Bagi Generasi Z, jawabannya tidak sesederhana antara peduli atau tidak peduli. Cara mereka mengikuti politik telah berubah.
Sebagian memilih mengikuti debat calon di televisi, sebagian lain berburu informasi melalui TikTok dan Instagram. Ada pula yang menyampaikan kritik lewat meme, satire, hingga percakapan di media sosial.
Namun, perhatian terhadap politik ternyata tidak selalu berujung pada antusiasme di bilik suara.
Bagi sebagian Gen Z, ketertarikan terhadap pemilu sangat bergantung pada satu hal: apakah mereka melihat calon benar-benar menawarkan sesuatu yang relevan dengan kehidupan mereka.
Farhan, salah satu Gen Z yang aktif mengikuti isu politik, mengatakan bahwa ketertarikan generasinya terhadap politik sebenarnya tetap ada.
Hanya saja, cara mereka mengakses dan merespons informasi politik berbeda dengan generasi sebelumnya.
Menurutnya, TikTok dan Instagram menjadi salah satu ruang utama bagi Gen Z untuk mengikuti perkembangan politik.
Kritik pun tidak selalu disampaikan melalui pernyataan serius, tetapi bisa muncul dalam bentuk meme atau satire.
“Untuk Pilpres paling rame karena terasa langsung dampaknya, sementara untuk DPRD cenderung skeptis karena dianggap jauh dari rakyat,” ujar Farhan.
Menurut Farhan, situasinya berbeda ketika memasuki pemilihan di tingkat desa. Pilkades justru bisa menghadirkan antusiasme yang lebih besar karena dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Tidak sedikit anak muda yang mulai tertarik mengikuti dinamika Pilkades, bahkan berani maju sebagai calon.
Kedekatan dengan persoalan sehari-hari membuat politik tingkat desa terasa lebih nyata dibandingkan politik di tingkat yang lebih tinggi.
Pandangan serupa disampaikan Reza. Ia mengaku lebih tertarik mengikuti Pilpres karena debat para calon dapat disaksikan secara langsung melalui televisi.
Dari sana, ia bisa melihat gagasan dan visi-misi yang ditawarkan masing-masing kandidat.
Namun, perhatian itu tidak selalu muncul dalam pemilihan anggota DPRD. Ia mengaku kerap tidak mengetahui secara jelas visi-misi para calon legislatif. Kondisi tersebut membuat sebagian pemilih akhirnya menentukan pilihan tanpa informasi yang cukup.
Berbeda dengan Pilkades. Menurut Reza, suasananya justru lebih hidup karena kandidat, kampanye, dan persaingannya berlangsung di lingkungan tempat tinggal sendiri.
Bagi Shafira, keputusan untuk mengikuti pemilu sangat dipengaruhi oleh kualitas calon.
Ia ingin mengetahui siapa sosok yang akan dipilih, apa yang pernah dikerjakan, serta kebijakan seperti apa yang mungkin dijalankan apabila calon tersebut terpilih.
Dengan kata lain, popularitas saja tidak cukup. Rekam jejak menjadi salah satu pertimbangan penting.
Shafira juga melihat fenomena golput tidak selalu muncul karena pemilih sama sekali tidak peduli terhadap politik. Ada kalanya pemilih tidak menemukan sosok yang dianggap layak untuk dipilih.
“Golput itu terjadi biasanya karena calonnya tidak meyakinkan, paslonnya kurang sreg,” katanya.
Bagi kelompok pemilih seperti ini, persoalannya bukan sekadar datang atau tidak datang ke tempat pemungutan suara.
Mereka terlebih dahulu ingin merasa bahwa suara yang diberikan memiliki alasan yang kuat.
Sementara itu, Sultan melihat persoalan dari sudut yang lebih kritis. Menurutnya, sebagian Gen Z memang tidak terlalu antusias mengikuti pemilu.
Ia bahkan menilai sebagian antusiasme yang muncul justru berkaitan dengan praktik “serangan fajar” atau politik uang menjelang hari pencoblosan.
Di sisi lain, keputusan untuk tidak menggunakan hak pilih juga dapat dipengaruhi oleh kekecewaan.
Ketika masyarakat tidak melihat perubahan berarti dari pemerintahan sebelumnya atau merasa visi-misi kandidat tidak menyentuh persoalan kehidupan sehari-hari, kepercayaan terhadap politik ikut menurun.
“Gen Z sekarang lebih melihat aksi kerja nyata, daripada omong kosong,” tegasnya.
Dari berbagai pandangan tersebut, terlihat bahwa Gen Z tidak sepenuhnya bisa disebut sebagai generasi yang apatis terhadap politik.
Mereka tetap mengikuti isu politik, tetapi memiliki standar yang berbeda. Mereka ingin mengetahui apa yang ditawarkan kandidat dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mereka.
Lapangan kerja, pemberantasan korupsi, pendidikan, kesejahteraan, hingga persoalan yang mereka hadapi sehari-hari menjadi isu yang lebih mudah menarik perhatian.
Sebaliknya, kampanye yang hanya dipenuhi slogan dan ajakan mencoblos tanpa penjelasan mengenai program konkret berpotensi membuat mereka kehilangan minat.
Karena itu, fenomena golput di kalangan Gen Z tidak selalu tepat dibaca hanya sebagai tanda ketidakpedulian.
Dalam sebagian kasus, keputusan tersebut dapat menjadi cerminan kekecewaan atau ketidakpercayaan terhadap pilihan yang tersedia.
Pada akhirnya, tantangan bagi para kandidat bukan sekadar bagaimana membuat Gen Z datang ke tempat pemungutan suara.
Tantangan yang lebih besar adalah meyakinkan mereka bahwa suara yang diberikan benar-benar memiliki arti.
Sebab bagi sebagian Gen Z, politik bukan lagi soal siapa yang paling ramai di layar atau paling sering muncul di media sosial.
Mereka ingin melihat satu hal yang lebih sederhana: siapa yang benar-benar bekerja dan membuktikannya setelah mendapatkan kekuasaan. (Amelia Faridha Zhariif)