
SERAYUNEWS- “Brendung-brendung, temuruna nggawaha sadukrama, kramane jaka lara, pesonde erang-erang sing digawe pada lare, lajolajola, temu giring bandalika…”
Entah apa makna dari kalimat tersebut, namun, itu di senandungkan oleh beberapa pesinden saat Nyi Brendung memasuki lapangan.
Nyi brendung adalah boneka yang terbuat dari beberapa peralatan dapur seperti siwur dan lainnya. Benda-benda itu berias bak penari lengger, lengkap dengan 4 selendang panjang yang di pegang oleh para pemain Brendung. Ritual tersebut adalah Brendungan.
Pawang Brendungan, Denan Dikin, warga Desa Bedana Kalibening mengatakan, Brendung atau Brendungan merupakan ritual pemanggil hujan yang sangat banyak syaratnya.
“Brendungan itu dari nama Nyi brendung, katanya lengger penjaga desa yang terkenal sakti,” katanya.
Menurut Dikin, boneka Nyi Brendung sangat kuat sekali unsur magisnya. Terlebih jika sudah berisi makhluk halus yang bernama Nyi Brendung.
Awalnya terkesan biasa, namun lama kelamaan wajah boneka seperti hidup. Denan Dikin mengaku sebagai pawang Brendungan, merupakan keturunan dari kakeknya yang memang selama ini jadi pawang Brendungan.
“Tampilan boneka Nyi Brendung, sampai saat ini di anggap sebagai perwujudan asli dari Nyi Brendung. Dia selalu berdandan menor, saat menari memanggil hujan,” katanya.
Menurut Denan, ritual Brendungan di awali dengan membuat boneka Nyi Brendung. Kepalanya terbuat dari alat masak batok kelapa atau irus sebagai muka yang di rias.

Sedangkan badan dan tangan boneka, terbuat dari kayu. Setelah jadi, boneka akan di bawa ke mata air tertua di atas Dusun Wanakrama Desa Bedana di lereng Bukit Gupitan.
“Boneka di tanam di tepi mata air selepas magrib, kemudian pawang, penari dan sinden sudah mulai berpuasa. Esok harinya, sekitar pukul 03.00 atau sebelum subuh, boneka harus sudah di ambil dari mata air untuk di tempatkan di lokasi kegiatan,” katanya.
Saat boneka di tanam di tepi mata air, ada syair-syair tertentu yang di bacakan. Jika boneka sudah kerasukan Nyi Brendung, boneka akan terasa berat.
Jika ada penolakan, saat pagelaran akan ada kejadian dengan pemegang selendang atau benting Nyi Brendung yang akan kesurupan arwah.
Alat musik pengiring Tarian Nyi Brendung, adalah suara kentongan besar dengan alat pemukulnya yang masih asli sejak dahulu. Hanya kini di tambah dengan hentakan bambu, sehingga menambah aroma mistis saat pagelaran.
“Sinden akan bersenandung tertentu, hingga ritual selesai atau Nyi Brendung minta di pulangkan. Saat boneka di pulangkan menuju mata air, di iringi dengan tembang lir ilir sebagai pemberitahuan jika sudah hijau subur tanahnya,” katanya.

Sinden Brendungan, Rantiyah mengatakan, saat pertunjukan selesai, pawang, penari dan sinden harus kuat dalam kondisi puasa.
“Jika tidak, akan kesurupan. Membatalkan puasa itu setelah boneka Brendung di kembalikan ke mata air,” katanya.
Semua pemain tetap mengutamakan meminta dan berdoa pada Tuhan, Brendungan hanyalah ritual yang sudah turun temurun ada di Desa Bedana.