
SERAYUNEWS – Insiden dugaan Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan warga di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, langsung memicu reaksi tegas dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wakil Gubernur (Wagub) Jateng, Taj Yasin Maimoen, menaruh atensi khusus terhadap kasus ini dan menyoroti kelemahan krusial dalam manajemen waktu distribusi.
Taj Yasin menyatakan keprihatinannya atas musibah tersebut. Menurutnya, potensi Keracunan Makan Bergizi Gratis sangat rentan terjadi apabila jadwal pengantaran dan waktu konsumsi tidak dikelola dengan ketat.
“Biasanya indikasi keracunan itu muncul karena pengaturan jadwal yang meleset. Makanan ini memiliki batas waktu kelayakan konsumsi, jadi harus diantarkan secara tepat waktu dan langsung dihabiskan,” papar Taj Yasin.
Sebagai Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Pelaksanaan Program MBG Jateng, Taj Yasin juga mengimbau pihak institusi pendidikan, baik sekolah maupun pondok pesantren, untuk proaktif mengawasi anak didiknya. Para guru dan pengurus diwajibkan untuk memastikan siswa segera menyantap hidangan yang telah difasilitasi negara tersebut.
“Jangan sampai makanan itu disimpan terlebih dahulu, lalu baru dimakan pada keesokan harinya,” tegasnya memberikan peringatan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan tidak akan pandang bulu dalam menindak penyedia layanan atau dapur MBG yang terbukti lalai. Sanksi yang disiapkan bersifat berjenjang, dimulai dari tahap pembinaan hingga bermuara pada pencabutan izin operasional.
Taj Yasin mengungkapkan bahwa langkah tegas berupa penutupan operasional dapur sudah pernah dilakukan di wilayah Jawa Tengah. “Ini harus menjadi peringatan keras. Pemerintah pusat juga sudah memberikan peringatan yang jelas terkait tahapan sanksi hingga pencabutan izin bagi pihak yang abai,” imbuhnya.
Sebelumnya, kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis ini meledak setelah menu makanan didistribusikan pada Sabtu (18/4/2026). Gejala medis mulai dirasakan serentak oleh para korban pada keesokan paginya, berupa keluhan mual, pusing, sakit perut, hingga muntah-muntah.
Dampak keracunan massal ini tidak hanya menimpa para santri, tetapi juga menyasar kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Estimasi total korban terdampak mencapai 187 orang. Hingga data per Senin lalu, tercatat 68 korban harus menjalani rawat inap, sementara 66 orang lainnya berstatus rawat jalan di bawah pantauan medis.
Merespons krisis ini, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lokasi kejadian telah dihentikan secara total dan disegel dengan garis polisi. Di saat yang bersamaan, Dinas Kesehatan Kabupaten Demak tengah melakukan uji laboratorium komprehensif untuk mendeteksi sumber bakteri penyebab keracunan, serta mengevaluasi standar higienitas dan kapasitas sumber daya manusia di dapur produksi terkait.
Evaluasi menyeluruh ini diharapkan dapat menutup celah kelalaian agar tragedi serupa tak kembali terulang.