
CILACAP, SERAYUNEWS – Hujan ringan sempat mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Senin (7/9/2026) pagi. Fenomena tersebut terjadi di tengah kondisi puncak musim kemarau yang masih berlangsung.
Hujan yang turun berupa gerimis dan berlangsung di beberapa wilayah. Meski demikian, kondisi cuaca kemudian kembali cerah. Bahkan sejumlah wilayah juga turun hujan pada Senin dini hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan hujan tersebut tidak serta-merta menandakan musim hujan telah tiba.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, mengatakan hujan gerimis yang terjadi pada pagi hari lebih dipengaruhi kondisi atmosfer dan faktor lokal.
“Cuaca tadi pagi hujan gerimis, saat ini cerah. Penyebabnya adalah faktor lokal, kelembapan cukup tinggi yang menyebabkan tadi pagi hujan gerimis,” kata Teguh.
Menurut Teguh, kondisi hujan ringan yang muncul pagi hari tidak mengubah gambaran cuaca Cilacap dalam beberapa waktu ke depan. BMKG memperkirakan cuaca masih akan lebih banyak didominasi kondisi cerah hingga berawan.
Suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 25-30 derajat Celsius. Sementara itu, angin masih bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan sekitar 5-30 kilometer per jam.
Kondisi kelembapan udara juga terbilang cukup tinggi. BMKG mencatat kelembapan berada pada rentang 69-95 persen.
“Ke depan masih dominan cuaca cerah berawan. Suhu udara kisaran 25-30 Celsius, angin masih dari arah timur hingga dari tenggara, kecepatan 5-30 km per jam. Kelembapan antara 69-95 persen,” jelasnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski hujan sempat turun, masyarakat Cilacap masih perlu mewaspadai cuaca panas dan kering. Terlebih, sebagian wilayah Cilacap masih menghadapi dampak musim kemarau.
Teguh menjelaskan, secara normal periode kemarau di wilayah Cilacap berlangsung hingga sekitar Oktober. Namun, kondisi tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang.
BMKG memperkirakan musim kemarau yang biasanya mulai berakhir pada Oktober berpotensi mengalami kemunduran. Dengan kondisi tersebut, masyarakat perlu bersiap menghadapi periode kering yang masih mungkin terjadi hingga akhir Oktober.
“Sampai Oktober normalnya, tapi saat ini ada El Nino. Ada potensi mundur hingga akhir Oktober,” ujarnya.
Dengan adanya potensi perpanjangan musim kemarau tersebut, hujan gerimis yang turun pagi tadi sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda masuknya musim penghujan. Hujan akibat faktor lokal masih memungkinkan terjadi meski secara umum kondisi atmosfer berada dalam periode kemarau.
BMKG mengimbau masyarakat tetap memperhatikan informasi dan prakiraan cuaca terbaru. Terutama bagi warga yang memiliki aktivitas di luar ruangan serta sektor pertanian yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.