
Pada era Meiji, Jepang ingin mengejar ketertinggalannya dari Barat. Untuk membangun industri dengan cepat, negara mendorong munculnya perusahaan-perusahaan besar yang kelak membantu proses industrialisasi Jepang.
Pemerintah Meiji mengambil peran sangat aktif dengan mendirikan berbagai perusahaan dan industri strategis. Namun kemudian muncul kenyataan sederhana: negara tidak mungkin menjalankan seluruh bisnis sendirian. Sejumlah perusahaan milik negara kemudian dijual atau dialihkan kepada pengusaha swasta yang dianggap mampu mengembangkannya.
Dari proses inilah keluarga-keluarga bisnis seperti Mitsui, Mitsubishi, Sumitomo, dan Yasuda berkembang menjadi kelompok usaha raksasa. Kelompok-kelompok inilah yang kemudian dikenal sebagai Zaibatsu.
Secara sederhana, Zaibatsu dapat dipahami sebagai konglomerasi besar yang dikendalikan oleh keluarga tertentu. Biasanya terdapat perusahaan induk keluarga di bagian atas, dengan bank, perusahaan industri, perusahaan dagang, dan berbagai perusahaan pendukung berada dalam jaringan kelompok yang sama.
Mitsubishi berkembang dalam pelayaran, perdagangan, pertambangan, dan industri berat. Mitsui memiliki bisnis perdagangan, perbankan, pertambangan hingga manufaktur. Sumitomo berkembang dari bisnis pertambangan dan kemudian masuk ke berbagai industri, sedangkan Yasuda sangat kuat dalam sektor keuangan.
Dalam sistem seperti ini, modal dapat dikumpulkan dalam jumlah besar dan diarahkan ke industri-industri yang dianggap strategis. Bagi Jepang yang sedang mengejar Barat, sistem tersebut sangat efektif. Jepang ketika itu dapat dibayangkan seperti sebuah perusahaan rintisan yang harus mengejar kompetitor yang sudah memiliki keunggulan puluhan tahun.
Seiring membesarnya Zaibatsu, hubungan antara pengusaha, birokrasi, dan politik juga semakin kuat. Semakin besar kekuatan ekonomi kelompok-kelompok tersebut, semakin besar pula pengaruhnya terhadap kehidupan ekonomi dan politik Jepang. Zaibatsu kemudian terkait erat dengan ekspansi industri dan militer Jepang pada periode menjelang dan selama Perang Dunia II.
Jepang akhirnya kalah dalam Perang Dunia II. Dalam masa pendudukan Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat, struktur Zaibatsu menjadi salah satu sasaran reformasi. Konsentrasi kekuasaan ekonomi pada segelintir keluarga dan kedekatannya dengan struktur politik serta militer pra-perang dipandang sebagai sesuatu yang harus dirombak.
Zaibatsu secara formal dibubarkan.
Namun ada satu hal yang tidak mudah dibubarkan: hubungan bisnis yang telah dibangun selama puluhan tahun. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya berada dalam kelompok yang sama masih memiliki sejarah, relasi dengan bank, pemasok, perusahaan dagang, dan jaringan manusia yang saling terhubung.
Perusahaan-perusahaan lama kemudian membangun kembali hubungan melalui bank, kepemilikan saham silang, perdagangan, dan jaringan bisnis. Dari lingkungan inilah berkembang bentuk jaringan perusahaan baru yang dikenal sebagai Keiretsu.
Keiretsu dan Kebangkitan Ekonomi Jepang
Berbeda dengan Zaibatsu yang bertumpu pada keluarga pengendali dan holding, perusahaan-perusahaan dalam Keiretsu pada dasarnya merupakan entitas yang berdiri sendiri. Kekuatan utamanya bukan lagi satu pusat kepemilikan, melainkan jaringan hubungan antarkorporasi.
Bank, perusahaan manufaktur, perusahaan perdagangan, pemasok, birokrasi, dan pemerintah kemudian bekerja dalam hubungan yang sangat dekat dalam proses pembangunan kembali Jepang. Hasilnya luar biasa. Dalam beberapa dekade, Jepang berubah dari negara yang hancur akibat perang menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Namun keberhasilan tersebut juga membawa konsekuensi. Hubungan yang terlalu dekat dapat menciptakan inefisiensi, perlindungan terhadap perusahaan yang lemah, konflik kepentingan, serta konsentrasi kekuatan ekonomi. Jaringan yang memberikan stabilitas pada satu kondisi dapat menjadi hambatan ketika lingkungan ekonomi berubah.
Ada kecenderungan dalam dunia bisnis untuk mencari satu model yang dianggap paling benar: model Amerika, model Jepang, model Korea, atau model Tiongkok, lalu mencoba menirunya. Padahal sistem bisnis tidak pernah lahir di ruang kosong.
Zaibatsu tumbuh ketika Jepang membutuhkan percepatan industrialisasi untuk mengejar Barat. Keiretsu berkembang setelah struktur Zaibatsu dibubarkan, sementara jaringan bisnis yang
telah terbentuk tetap hidup. Chaebol Korea tumbuh dalam konteks pembangunan Korea Selatan. Konglomerasi Amerika pun berkembang dalam lingkungan pasar modal, regulasi, dan sejarah yang berbeda.
Semua memiliki konteks sejarah masing-masing. Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah model mana yang paling benar, melainkan:
“Dalam kondisi seperti apa sebuah sistem ekonomi menjadi efektif?”
Jepang menunjukkan bahwa perusahaan yang saling berkompetisi tidak selalu harus berdiri sendirian. Salah satu kekuatan ekonomi Jepang justru terletak pada jaringan: hubungan dengan bank, pemasok, pemerintah, dan mitra usaha yang dibangun dalam jangka panjang.
Namun Jepang juga memperlihatkan sisi sebaliknya. Network yang kuat tidak boleh membuat disiplin ekonomi menghilang. Hubungan jangka panjang dan loyalitas dapat menciptakan stabilitas, tetapi modal pada akhirnya tetap harus dialokasikan secara rasional.
Sebuah sistem yang terus menyelamatkan anggotanya tanpa mempertanyakan efisiensi pada akhirnya dapat mengubah kekuatan jaringan menjadi beban jaringan – sebuah network liability.
Mungkin di situlah salah satu pelajaran paling menarik dari perjalanan Jepang: dari Zaibatsu menuju Keiretsu. Sebuah model ekonomi dapat sangat efektif pada zamannya, tetapi perubahan zaman juga dapat menuntut perubahan cara bekerja.
*Lutfiel Hakim, Penulis adalah Praktisi Bisnis dan Chief Executive OfficerPT Lima Pilar Halal