
CILACAP, SERAYUNEWS — Ratusan siswa SMA Negeri 2 Kroya, Kabupaten Cilacap, belajar membuat minuman jamu herbal dengan cita rasa kekinian tanpa bahan kimia obat (BKO).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI) bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengenalkan jamu alami kepada generasi muda.
Kegiatan berlangsung di Laboratorium Biologi SMAN 2 Kroya, Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026).
Para siswa tidak hanya mempelajari manfaat tanaman herbal. Mereka juga mendapat edukasi tentang pentingnya memilih produk jamu yang aman dan tidak mengandung bahan kimia obat (BKO).
Pengurus Bidang Obat Bahan Alam dan Kosmetik PPJAI, Mulkan Putra Sahada, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali jamu kepada generasi muda.
Menurut Mulkan, pelestarian jamu tidak cukup hanya mengandalkan generasi tua. Pelajar sebagai bagian dari generasi muda perlu mengenal dan menyukai jamu agar minuman herbal khas Indonesia tersebut terus berkembang.
“Memasyarakatkan jamu itu sendiri karena biar semakin banyak anak muda, apalagi kondisi sekarang Indonesia banyak bonus demografi ya yang mana populasi anak muda jauh banyak, jadi kalau ini bukan kita yang melestarikan, bukan anak muda yang ingin menyukai jamu, mau siapa lagi?” kata Mulkan.
PPJAI, lanjut Mulkan, memiliki banyak pelaku usaha jamu, mulai dari manufaktur, pelaku usaha, hingga pelaku di tingkat akar rumput. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan untuk memperluas pasar jamu di kalangan anak muda.
Namun, jamu yang ditawarkan kepada generasi muda tidak harus selalu identik dengan rasa pahit seperti seduhan atau jamu godok.
Mulkan menyebut pelaku usaha dapat mengkreasikan jamu dengan bahan tambahan seperti madu, susu, lemon, hingga sari buah. Dengan begitu, minuman herbal tersebut tetap mempertahankan manfaat bahan alaminya sekaligus memiliki cita rasa yang lebih sesuai dengan selera anak muda.
“Jadi, selain bisa memberikan manfaat khasiat, tapi juga bisa dinikmati oleh anak-anak muda, khususnya kalangan-kalangan anak-anak sekolah, pelajar, dan sejenisnya,” ujarnya.
Konsep tersebut bahkan dapat diterapkan seperti minuman yang biasa dijual di kafe. Pelaku usaha bisa mengembangkan rasa, tampilan, dan penyajian jamu agar lebih menarik tanpa menghilangkan bahan herbal sebagai komponen utamanya.
Dalam kegiatan edukasi tersebut, PPJAI membawa berbagai tanaman herbal untuk dikenalkan kepada siswa SMAN 2 Kroya.
Tanaman yang diperkenalkan antara lain jahe, sereh, temulawak, bidara, dan tempuyung. Beberapa di antaranya sudah populer di masyarakat, sedangkan tanaman lainnya masih belum terlalu dikenal pelajar.
“Yang kita bawa ada sereh, terus kemudian ada jahe, terus kemudian ada macam-macam. Tapi, memang ini sebagai campuran-campurannya. Tapi, kita juga ada ya kalau yang zaman-zaman dulu ada yang sudah populer di kalangan masyarakat, kita bawa temu lawak,” jelas Mulkan.
Menurut Mulkan, tanaman herbal tersebut tidak hanya memiliki potensi untuk diolah menjadi minuman, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Mulkan melihat pola konsumsi produk jamu dan herbal mulai berubah. Jika sebelumnya konsumen jamu lebih banyak berasal dari kelompok usia 50 tahun ke atas, dalam beberapa tahun terakhir anak muda mulai menjadi pasar potensial.
“Jadi kalau dulu itu memang yang menikmati banyak usia 50 ke atas, tapi ternyata setelah kita penetrasi market ya, 2-3 tahun terakhir, bahkan 5 tahun terakhir, ini rata-rata yang beli itu sudah anak-anak muda,” ungkapnya.
Menurut dia, sejumlah produk herbal yang berkaitan dengan energi dan kebugaran bahkan mulai menarik perhatian pelajar.
“Makanya kita berusaha agar bisa menyajikan, bisa menghadirkan produk yang tidak hanya sekedar berkhasiat, tapi bisa dinikmati oleh masyarakat, terutama kalangan pelajar dan anak-anak gen Z,” katanya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa produk jamu memiliki peluang untuk masuk ke pasar generasi muda selama pelaku usaha mampu menyesuaikan rasa, kemasan, penyajian, dan cara pemasarannya.
Selain mengenalkan tanaman herbal, PPJAI memberikan edukasi mengenai produk jamu tanpa bahan kimia obat atau BKO.
Mulkan mengatakan penggunaan BKO pada produk jamu menjadi salah satu persoalan yang pernah dihadapi industri herbal. Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai produk herbal yang aman dan legal terus dilakukan.
“Bahwasanya 5 tahun terakhir dengan pertumbuhan herbal yang legal ini, yang non-BKO ini, membuktikan bahwa ternyata dengan kita tanpa BKO pun itu bisa menghasilkan efek terapi yang optimal,” tuturnya.
PPJAI juga mengenalkan sejumlah bahan alami yang dapat digunakan dalam pengembangan produk herbal, seperti temulawak, mengkudu, dan tempuyung.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan keamanan, izin edar, serta legalitas produk herbal sebelum mengonsumsinya.
Wakil Kepala Bidang Humas SMAN 2 Kroya, Heriyanto, mengatakan edukasi pengolahan jamu menjadi bagian dari program sekolah untuk meningkatkan keterampilan siswa.
“Program sekolah itu memang harus dilaksanakan, sehingga kami sengaja mengundang dari beberapa instansi terkait karena memang itu untuk keterampilan anak-anak SMA Negeri 2 Kroya,” kata Heriyanto.
Menurut Heriyanto, keterampilan tersebut penting karena sebagian lulusan SMAN 2 Kroya tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Memang SMA Negeri 2 Kroya kalau kita lihat tiap tahun itu hampir di atas 50 persen itu yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Jadi lebih banyak ke dunia usaha, lebih banyak kerja gitulah sehingga itu makanya kepala sekolah menggandeng kegiatan itu pihak-pihak terkait tadi,” ujarnya.
Sekolah kemudian mengembangkan program tanaman herbal secara bertahap melalui kegiatan kokurikuler.
Siswa kelas X mendapat pembelajaran menanam tanaman herbal seperti kunyit, jahe merah, jahe biasa, dan kencur.
Selanjutnya, siswa kelas XI belajar mengolah hasil tanaman tersebut menjadi minuman herbal. Sementara siswa kelas XII diarahkan untuk mempelajari pemasaran produk, baik secara langsung maupun melalui platform digital.
Program pengembangan jamu di SMAN 2 Kroya juga berkaitan dengan potensi lokal Desa Gentasari. Wilayah tersebut memiliki sejarah sebagai salah satu sentra jamu di Kabupaten Cilacap.
“Kalau dilihat secara umum Gentasari itu kan dulu termasuk sentra jamu. Nah, itu yang membuat kepala sekolah kami itu menginginkan supaya anak-anak SMAN 2 Kroya yang domisilinya di Gentasari bisa membangkitkan lagi unggulan-unggulan lokal,” jelasnya.
Untuk mengembangkan program tersebut, sekolah menggandeng berbagai pihak, termasuk penyuluh pertanian, BPOM, dan perguruan tinggi.
Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya belajar teori mengenai tanaman herbal. Mereka juga mendapatkan pengalaman dari proses budidaya, pengolahan, hingga pemasaran produk.
Salah satu siswa kelas XI SMAN 2 Kroya, Fatur Alkatiri, mengaku senang mengikuti pembelajaran pengolahan jamu herbal.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru dalam mengenal sekaligus mengolah tanaman herbal menjadi minuman yang lebih menarik.
“Setelah mengikuti kegiatan ini saya jadi tertarik untuk mengembangkan usaha jamu herbal. Ternyata jamu bisa dibuat lebih menarik dan bisa menjadi peluang usaha dengan memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar,” ujarnya.
Fatur menilai pembelajaran tersebut membuka pandangan baru bahwa jamu tidak harus identik dengan minuman pahit dan kuno.
Dengan kreativitas, jamu dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih menarik, sesuai selera generasi muda, sekaligus memiliki nilai ekonomi.