
SERAYUNEWS— Menteri Pertahanan sekaligus Calon Presiden Prabowo Subianto akhirnya buka suara soal calon Menteri Keuangan di kabinet nantinya.
Prabowo menjawab dengan menyebut dua nama, yaitu Darmawan Junaidi yang kini menjadi Dirut Bank Mandiri dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.
“Pak Darmawan selamat ya, Pak Chatib selamat ya, pertahankan prestasi, jaga uang republik,” kata Prabowo (5/3/2024).
Menarik untuk mencermati disebutnya Chatib Basri, karena sosoknya pernah menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal sejak Juni 2012 dan pernah juga menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia pada 2013-2014. Tepatnya pada era pemerintahan Presiden Susulo Bambang Yudhoyono (SBY).
Menjadi menarik karena selama ini kita selalu berasumsi sosok menteri keuangan sebagai karakter Mister Spock di film Star Trek, yang kaku dan selalu rasional. Namun, itu tidak terjadi pada sosok yang bernama lengkap Muhammad Chatib Basri.
Jiwa seni mengalir di tubuhnya, ia pernah menjadi pemain teater dan manggung bareng dan beradu akting dengan Tio Pakusadewo dan Donny Damara.
Kecintaannya terhadap dunia seni tersalurkan saat duduk di bangku SMA. Chatib Basri sempat menjadi juara dalam Festival Teater yang diadakan pemerintah Kota Jakarta Pusat.
Chatib juga sempat beradu akting dengan Mira Lesmana, dalam lakon Bom Waktu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Darah seni mengalir dari keluarganya. Salah seorang pamannya adalah Asrul Sani, seorang sastrawan sekaligus penulis skenario legendaris. Asrul Sani terkenal cerdas yang menyulap seorang pencopet menjadi jenderal dalam film Naga Bonar.
Sementara itu, ayahnya, Chairul Basri adalah perwira tinggi dan birokrat. Mayor Jenderal TNI Chairul Basri pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Tenaga Kerja dari tahun 1966 hingga 1979.
Dengan jujur Chatib mengatakan tidak suka dengan ekonomi. Namun, orangtuanya tidak senang jika ia berkarier dalam kesenian.
“Padahal saya mau masuk sekolah kesenian. Ya, saya ini mungkin korban stereotip, kalau mau sukses mesti punya gelar di bidang ekonomi, kedokteran atau teknik,” ungkap Chatib pada 2020 lalu saat webinar “Philanthropy Learning Forum: Seni, Si Pembuka Jalan.”
Menurutnya, seni berkitan erat dengan imajinasi dan mengasah kepekaan. Hal ini penting karena memengaruhi segala bidang yang ia geluti.
“Dari kecil saya memang lebih senang mempelajari politik, sastra, dan seni, dibandingkan ilmu ekonomi. Dari masih sekolah saya sudah ikut teater. Malahan saya sempat beberapa kali ikut pementasan Teater Cradda di Taman Ismail Marzuki Jakarta,” kenangnya.
Pada akhirnya pria yang mempunyai sapaan nama Dede ini memilih kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Berkat prestasinya, ia menjadi The Most Outstanding Student di tingkat fakultas dan universitas.
Karena prestasinya ini pula, ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 dan S3 di Australian National University (ANU) di bidang Ekonomi. Dede menyelesaikan master ekonomi pembangun pada tahun 1996 dan doktornya pada tahun 2001.
“Terus terang, saya menjadi ekonom karena kecelakaan. Dulu, saya paling benci bidang ekonomi. Tapi saya ternyata diterima di jurusan ekonomi,” tegasnya.
Pria kelahiran Jakarta, 22 Agustus 1965 ini karirnya melesat dan kemudian orang kenal sebagai ekonom dengan kemampuan dalam bidang perdagangan internasional, makro ekonomi, dan ekonomi politik.
Meski akhirnya memilih bidang ekonomi, Chatib Basri tetap tak melupakan dunia seni. Ia sering mengikuti perkembangan di dunia sastra, teater, film maupun musik meski tak terlalu intens.
Pria yang mengaku selalu semangat kalau membahas seni ini memandang kalkulasi ekonomi sering meleset. Hal ini karena kaku dan selalu rasional.
“Padahal, setiap orang seperti Homer di serial kartun The Simpsons, yang punya sifat agresif, pemalas dan tidak kalkulatif. Imajinasi perbandingan itu berasal dari dunia seni yang dekat dengan realitas,” tutupnya.
Karena jiwa seninya, Chatib mampu berpikir melampaui. Ia pernah bilang jika nasionalisme bisa kita bangun kalau punya karya di dunia internasional.
Soal swasemba pangan, menurutnya kenapa tidak berinvestasi saja tanah di Laos atau Kamboja yang harganya murah. Itu Tiongkok lakukan dengan batu bara dan Malaysia dengan kelapa sawit.
Indonesia bisa berinvestasi di luar untuk kepentingan domestik, misalnya di Australia. Kita jangan hanya menjadi korban globalisasi.*** (O Gozali)