
SERAYUNEWS- Istilah child grooming kembali menjadi sorotan setelah aktris Aurelie Moeremans mengungkap pengalaman masa mudanya dalam buku Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Child grooming kian menjadi ancaman senyap di lingkungan pendidikan, saat relasi yang tampak hangat dan penuh perhatian justru bisa menyembunyikan pola manipulasi terhadap anak.
Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam mengenali serta mencegah kekerasan psikologis.
Menurut Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, child grooming terjadi ketika anak atau remaja mengalami perlakuan tidak baik dari orang yang lebih tua, dengan menggunakan tekanan emosional dan psikologis.
Perilaku ini bisa menyebabkan trauma psikologis yang berdampak jangka panjang pada remaja. Oleh karena itu, pencegahan harus menjadi langkah bersama orang tua dan sekolah.
Sekolah bisa mengenali tanda-tanda adanya child grooming dengan memperhatikan perubahan perilaku dan kebiasaan siswa.
Pertama, anak yang terpapar child grooming cenderung tidak menganggap teman-teman sekolah sebagai orang yang bisa mendukungnya. Ia justru lebih mengikuti atau tergantung pada seseorang yang berkuasa atau memengaruhinya.
Sekolah juga bisa mengamati apakah anak tersebut mulai menghindari teman-temannya, tidak suka berinteraksi dengan teman sebaya, atau mengunggah sesuatu di media sosial yang menunjukkan tanda-tanda praktik child grooming.
Selain itu, perhatikan apakah anak sering membawa barang-barang yang sebenarnya bukan milik orang tuanya.
Di rumah, orang tua sebaiknya tidak hanya fokus pada nilai akademik. Perhatikan juga perubahan sikap anak ketika berinteraksi dengan sosok dewasa tertentu.
Penurunan prestasi, anak mendadak tertutup, sering menyembunyikan gawai, atau terlihat sangat bergantung pada satu orang dewasa bisa menjadi sinyal yang patut dicurigai.
Orang tua juga perlu membekali anak dengan pendidikan mengenai batas tubuh, persetujuan, dan hak untuk berkata tidak pada sentuhan yang membuatnya tidak nyaman.
Ajak anak mengenali bahwa candaan seksual, kiriman konten pornografi, atau ajakan bertemu diam-diam bukan hal yang wajar, siapa pun yang melakukannya.
Setelah tanda-tanda terdeteksi, Bunda Romi menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara sekolah dan orang tua agar bisa saling berbagi informasi mengenai keadaan anak.
Termasuk dalam hal itu, apakah ada perilaku yang mencurigakan yang terjadi baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Bunda Romi juga memberikan beberapa langkah bagi sekolah dan orang tua untuk mencegah child grooming.
1. Selalu mengawasi anak dan membuatnya merasa aman serta nyaman di sekolah dan di rumah.
2. Memberikan penghargaan kepada anak dan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan selama masa remaja.
3. Memberi kesempatan anak untuk menyampaikan perasaan, pikiran, serta keinginannya.
4. Memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi minat dan hal-hal yang ingin dicoba.
5. Membantu anak menjalin komunikasi yang baik baik di sekolah maupun di rumah.
6. Membantu anak memahami diri sendiri agar menjadi lebih percaya diri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain.
7. Memperhatikan perubahan perilaku siswa, terutama jika terlihat tidak memiliki teman, serta mencari tahu penyebabnya.
Pada akhirnya, kewaspadaan bersama menjadi benteng utama agar hubungan hangat di lingkungan pendidikan tidak berubah menjadi pintu masuk kekerasan terhadap anak.
Dengan memahami tanda-tandanya sejak dini, sekolah dan orang tua dapat bergerak cepat sebelum anak benar-benar terjerat dalam lingkaran manipulasi.***