
SERAYUNEWS- Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan publik setelah meluncurkan sebuah gerakan sosial bertajuk #PutusTali.
Gerakan ini lahir dari pengalaman personal yang ia bagikan melalui buku digital Broken Strings, sebuah memoar yang mengungkap luka masa lalu akibat praktik child grooming yang dialaminya sejak usia remaja.
Melalui media sosial, Aurelie mengajak para penyintas kekerasan psikologis dan seksual, khususnya korban grooming, untuk berani bersuara dengan caranya masing-masing.
Ia menegaskan bahwa keberanian untuk tidak lagi diam merupakan langkah awal memutus rantai manipulasi yang kerap berlangsung bertahun-tahun dalam senyap.
Inisiatif #PutusTali tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga ruang aman kolektif bagi para korban untuk saling menguatkan.
Aurelie menekankan bahwa proses pemulihan tidak selalu harus cepat, namun harus jujur dan berangkat dari kesadaran bahwa trauma bukanlah aib yang harus disembunyikan.
Pengalaman menulis Broken Strings menjadi titik balik penting dalam perjalanan penyembuhan Aurelie Moeremans.
Ia mengakui bahwa proses menuangkan ingatan kelam ke dalam tulisan bukanlah hal mudah, namun justru menjadi jalan awal untuk berdamai dengan trauma yang selama ini terpendam dan sulit diungkapkan.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @aurelie, Aurelie menyampaikan refleksi mendalam tentang proses tersebut.
Ia menuliskan bahwa setelah menulis Broken Strings, dirinya menyadari satu hal penting menulis secara perlahan membantunya sembuh, bukan karena semua luka langsung hilang, tetapi karena akhirnya ia tidak lagi memilih diam.
“Setiap batas yang hari ini kamu pasang, setiap kebenaran yang akhirnya berani kamu ucapkan, setiap kali kamu memilih dirimu sendiri tanpa perlu menjelaskan apa pun, kamu sedang memilih dia juga. Lakukan ini untuknya. Bukan karena marah. Bukan untuk membuktikan apa pun. Tapi karena dia pantas dilindungi. Dan kamu juga.” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa keberanian untuk bersuara menjadi bagian penting dari pemulihan kesehatan mentalnya.
Aurelie juga menjelaskan bahwa menulis memberinya ruang aman untuk memahami luka tanpa kembali menekannya ke dalam.
Ia tidak berusaha menghapus rasa sakit yang pernah dialami, melainkan belajar mengakuinya sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk ketangguhan dirinya hingga hari ini.
Pemilihan tagar #PutusTali bukan tanpa makna. Bagi Aurelie, istilah ini merepresentasikan upaya sadar untuk melepaskan diri dari belenggu manipulasi, rasa bersalah yang tidak seharusnya dimiliki korban, serta ketakutan yang diwariskan oleh pelaku.
Gerakan ini menjadi simbol bahwa setiap penyintas memiliki hak penuh atas tubuh, emosi, dan narasinya sendiri. Dengan memutus tali tersebut, korban tidak lagi terikat pada kontrol psikologis yang dulu menekan mereka.
Sejak kisah Aurelie dipublikasikan, media sosialnya dibanjiri pesan dari individu yang mengaku memiliki pengalaman serupa. Banyak dari mereka menyampaikan rasa lega karena akhirnya menemukan representasi yang berani dan jujur.
Namun derasnya respons itu juga menunjukkan betapa luasnya praktik grooming yang selama ini tersembunyi. Aurelie menyadari dirinya tidak mungkin membalas satu per satu, sehingga #PutusTali hadir sebagai ruang bersama agar suara-suara itu tetap terdengar.
Child grooming masih sering disalahartikan karena minimnya pemahaman publik. Istilah ini kerap dianggap tidak berbahaya akibat makna harfiahnya, padahal grooming merupakan proses manipulatif sistematis yang bertujuan mengeksploitasi anak secara emosional maupun seksual.
Aurelie berharap kisahnya dapat meningkatkan kewaspadaan orang tua, pendidik, dan lingkungan sekitar. Menurutnya, mengenali tanda-tanda grooming sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah dampak traumatis jangka panjang.
Dalam setiap pesannya, Aurelie menekankan bahwa berbagi cerita bukanlah kewajiban. Ia mengingatkan para penyintas agar hanya berbicara ketika benar-benar siap, tanpa tekanan dari siapa pun, termasuk dari gerakan yang ia gagas sendiri.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pemulihan bersifat personal. #PutusTali hadir sebagai opsi dukungan, bukan tuntutan, sehingga korban tetap memiliki kendali penuh atas proses penyembuhannya.
Gerakan #PutusTali perlahan membentuk kesadaran sosial baru mengenai pentingnya empati terhadap penyintas. Dukungan dari sesama korban, publik figur, dan masyarakat luas memperkuat pesan bahwa korban tidak sendirian.
Aurelie berharap inisiatif ini dapat mendorong lahirnya percakapan yang lebih sehat, kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, serta keberanian kolektif untuk melawan kekerasan berbasis manipulasi.
Melalui #PutusTali, Aurelie Moeremans menunjukkan bahwa suara korban memiliki kekuatan besar untuk mengubah narasi. Keberaniannya membuka luka pribadi menjadi cahaya bagi banyak penyintas yang selama ini terjebak dalam diam dan rasa takut.
Gerakan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan bukan tentang melupakan masa lalu, melainkan tentang mengambil kembali kendali atas hidup. Dengan bersuara, para penyintas tidak hanya menyembuhkan diri sendiri, tetapi juga membantu mencegah luka yang sama terulang pada generasi berikutnya.