
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Childfree istilah yang merujuk pada pasangan suami istri yang membuat keputusan untuk tidak memiliki anak kini semakin sering dibicarakan seiring bertambahnya individu yang menjalani gaya hidup ini.
Meski begitu, pilihan hidup yang berbeda ini kerap menghadapi kritik karena dianggap tidak sejalan dengan pandangan umum tentang pernikahan, yang biasanya mengharuskan adanya keturunan sebagai penerus keluarga.
Namun bagi anak muda saat ini, menentukan sikap terkait childfree bukanlah sekadar ikut-ikutan tren media sosial.
Keputusan tersebut lahir dari pertimbangan matang mengenai kesiapan finansial, kestabilan emosi, hingga pemahaman mendalam tentang tanggung jawab pengasuhan (parenting).
Lantas, bagaimana pandangan generasi muda mengenai isu ini? Simak ragam alasan dan sudut pandang mereka berikut ini:
Sebagian anak muda memandang childfree sebagai pilihan yang realistis. Menilai bahwa keputusan tersebut merupakan hak setiap pasangan yang didasari pertimbangan matang.
“Childfree merupakan hak tiap pasangan yang didasari pertimbangan matang, mulai dari faktor ekonomi hingga kesehatan. Menjadi orang tua adalah tanggung jawab seumur hidup yang tidak mudah. Jika merasa belum mampu mengemban tugas tersebut, childfree adalah keputusan terbaik, sehingga masyarakat sebaiknya tidak memandang sebelah mata,” ungkap Laras.
Pandangan senada juga disampaikan oleh Ayuning. Ia melihat besarnya tanggung jawab dan kondisi masa depan sebagai faktor kunci.
“Saya setuju saja, karena membesarkan anak butuh tanggung jawab besar dan persiapan matang dari segala sisi. Apalagi melihat kondisi zaman sekarang, punya anak terasa kurang worth it kecuali kalau memang sudah benar-benar siap, baik secara materi maupun mental,” terangnya.
Sementara itu, Fara menyoroti isu ini dari sudut pandang kesiapan fisik serta otonomi perempuan.
“Pandangan saya lebih menekankan pada kebebasan perempuan untuk memiliki hak penuh atas dirinya sendiri. Keputusan childfree ini sangat bergantung pada kesiapan fisik maupun mental sang perempuan,” jelas Fara
Berbeda dari pandangan sebelumnya, salah satu narasumber memilih sudut pandang lain terkait masa depannya karena sangat menyukai kehadiran anak-anak di rumah.
“Secara pribadi saya kurang setuju childfree. Saya suka anak kecil karena bikin rumah ramai, seperti pengalaman punya adik beda usia 16 tahun yang menyenangkan. Walau keputusan soal anak dibahas sebelum menikah, untuk masa depan saya pribadi memilih tidak childfree,” tutur Triana.
Melihat beragamnya perspektif tersebut, fenomena childfree mencerminkan tingginya kesadaran generasi muda saat ini.
Baik memilih untuk memiliki anak maupun tidak, anak muda kini jauh lebih bijak dalam memperhitungkan kesiapan fisik, mental, hingga finansial sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. (Tiya Monalisa)