
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat terhadap potensi kekeringan, krisis air, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta dampaknya terhadap sektor pertanian dan lingkungan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan rendah dan periode kemarau lebih panjang dari kondisi normal.
BMKG memprediksi sebagian wilayah Indonesia mengalami musim kemarau dengan kondisi lebih kering dibandingkan normal.
Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus 2026. Kondisi tersebut juga mencakup sejumlah wilayah di Jawa Tengah.
Secara nasional, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di 369 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Selain itu, sekitar 437 ZOM atau 48,77 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari kondisi normal.
Khusus Jawa Tengah, Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah memprediksi awal musim kemarau umumnya berlangsung pada Mei 2026, sedangkan puncaknya terjadi pada Agustus.
Sifat hujan selama periode tersebut diprediksi berada pada kategori Bawah Normal hingga Normal.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena periode kering yang panjang dapat memengaruhi ketersediaan air, pertanian, serta meningkatkan potensi kebakaran vegetasi dan lahan.
Kemarau yang lebih kering dapat mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian.
Petani perlu menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim, memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, serta mengatur penggunaan air secara efisien.
Pengelolaan sumber air dan sistem irigasi juga menjadi penting agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi ketika curah hujan menurun.
Minimnya hujan dalam periode yang panjang berpotensi menurunkan debit sungai, waduk, embung, dan mata air.
Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, sejumlah wilayah berpotensi mengalami kekurangan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun aktivitas ekonomi.
Karena itu, masyarakat perlu menggunakan air secara bijak dan menjaga sumber air agar tetap tersedia selama periode kemarau.
Kondisi panas dan kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar sehingga api dapat menyebar lebih cepat.
BMKG mencatat laporan karhutla di sejumlah daerah, termasuk Banyumas. Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan.
Pada periode 25–27 Agustus 2026, BMKG mencatat sedikitnya 15 laporan kejadian karhutla yang tersebar di delapan provinsi.
Di Jawa Tengah, laporan tersebut antara lain berasal dari Kabupaten Banyumas, Sragen, Klaten, dan Sukoharjo.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi kering perlu diikuti dengan kewaspadaan lebih tinggi terhadap potensi kebakaran lahan.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak vegetasi dan ekosistem. Asap yang dihasilkan juga dapat menurunkan kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.
Dalam kondisi tertentu, asap karhutla dapat terbawa angin dan memengaruhi wilayah yang berada di sekitar maupun jauh dari lokasi kebakaran.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara serta perkembangan karhutla, terutama ketika terjadi kebakaran di wilayah sekitar.
Menghadapi musim kemarau 2026, masyarakat diimbau menggunakan air secara bijak dan menjaga lingkungan.
Warga juga diminta menjaga sungai, sumur, embung, dan mata air dari pencemaran agar sumber air tetap dapat dimanfaatkan selama musim kering.
Selain itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan. Kondisi lingkungan yang kering membuat api lebih mudah menyebar dan meningkatkan risiko terjadinya karhutla.
Petani dapat mengantisipasi dampak kemarau dengan menyesuaikan pola tanam, memilih tanaman yang lebih tahan kekeringan, serta menggunakan sistem irigasi secara efisien.
Pemerintah bersama masyarakat juga perlu menyiapkan langkah antisipasi, termasuk distribusi air bersih bagi wilayah yang mulai mengalami kekurangan air.
Masyarakat sebaiknya memantau prakiraan cuaca, informasi iklim, dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG secara berkala.
Kesiapsiagaan sejak awal dapat membantu mengurangi dampak kekeringan dan krisis air, sekaligus mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026.
Dengan kondisi kemarau yang diprediksi lebih kering di sejumlah wilayah, langkah sederhana seperti menghemat air, menjaga sumber air, dan tidak melakukan pembakaran sembarangan menjadi bagian penting dari upaya menghadapi musim kemarau. (Galih Dyah Ayu)