Senin, 4 Juli 2022

Cloud Kitchen, Inovasi Baru Bisnis Kuliner, Akankah Bertahan Pasca Pandemi? 

Foto Dok. ilustrasi

Pandemi membawa banyak inovasi dan tren baru dalam dunia bisnis. Termasuk dalam bisnis F&B (Food & Beverage). Cloud Kitchen atau Ghost Kitchen (dapur online), merupakan salah satu tren bisnis F&B yang berkembang pesat dan menjadi solusi bagi para pegiat bisnis kuliner untuk dapat bertahan di masa sulit saat pandemi.

Selama masa pandemi, ruang gerak masyarakat sangat dibatasi. Behavior pun berubah, kebiasaan memesan makanan secara delivery order meningkat secara drastis. Didukung dengan promo-promo yang diberikan aplikasi penyedia food delivery semakin meningkatkan minat konsumen. Masyarakat makin terbiasa dengan segala sesuatu yang mudah, praktis, dan serba cepat. Hal inilah yang mendorong para pelaku bisnis kuliner untuk mengembangkan strategi Cloud Kitchen, bahkan level UMKM pun kini sudah banyak yang menerapkannya.

Baca juga  Indonesia Seri Lawan Nepal Tetap Bisa Lolos, Tapi Ada Syaratnya

Berawal di tahun 2015, ketika salah satu jurnalis NBC New York menyoroti fenomena adanya beberapa restoran di New York yang tidak terdaftar ke dalam database. Hal inilah yang memunculkan istilah ghost kitchen. Ghost kitchen mulai melambung saat Travis Kalanik (mantan CEO Uber) mendirikan usaha yang diberi nama Cloud Kitchen pada tahun 2019.

Meski konsep cloud kitchen sudah muncul cukup lama, namun terobosan bisnis F&B ini semakin popular ketika masa pandemi, dimana kebiasaan masyarakat banyak berubah, termasuk dalam pola perilaku konsumsi.

Secara sederhana, cloud kitchen adalah sebuah konsep bisnis F&B yang melayani pembelian makanan dan minuman hanya dengan sistem pesan antar. Biasanya, pemilik bisnis menyewa dapur dari pihak lain. Di dalam Cloud Kitchen tersedia dapur besar dengan fasilitas lengkap yang digunakan untuk memasak berbagai macam menu dari berbagai restoran.

Baca juga  Sisi Kiri Pertahanan Timnas Indonesia Jadi Lubang yang Menguntungkan bagi Musuh

Namun saat ini banyak para pemilik bisnis tidak menyewa dapur, akan tetapi mereka memproduksi makanan dari dapur pribadi di rumah. Dengan konsep ini, orang semakin mudah berbisnis F&B dengan memproduksi makanan dan minuman menggunakan peralatan seadanya di rumah, kemudian memasarkannya secara online melalui kerjasama dengan berbagai pihak ketiga layanan pesan antar seperti Go-Food, GrabFood, dan ShopeeFood yang sudah tersebar merata di berbagai wilayah.

Harga dan promo yang menarik, lokasi yang dekat, dan kecepatan pengantaran, merupakan beberapa keunggulan cloud kitchen bagi konsumen. Dan bagi pebisnis, cloud kitchen pun memberi banyak keuntungan, diantaranya modal yang relatif kecil, biaya operasional rendah, minim perawatan, dan tentu minim resiko.

Baca juga  Situasi Timnas Indonesia Tak Mulus, Semoga Yordania Bisa Mengalahkan Kuwait

Berdasarkan riset dari Inventure-Alvara, sebesar 62,2% konsumen setuju untuk meneruskan kebiasaan food delivery. Cloud kitchen diprediksi akan terus berkembang dan memiliki market tersendiri meskipun hingga nanti masa pandemi sudah usai. Didukung dengan era digital yang mengedepankan konsep kepraktisan dan kecepatan, masyarakat sangat bergantung pada layanan delivery order.

Berbagai keuntungan dalam konsep cloud kitchen membuat semakin menjamurnya para pebisnis yang terjun dalam bisnis ini. Dengan banyaknya pilihan restoran cloud kitchen, konsumen harus pandai menyeleksi dan memastikan bahwa restoran pilihannya adalah yang tetap mengedepankan aspek kebersihan dan kesehatan bagi pelanggan.

Penulis :
Anindhiya S. / C2C021016
Mahasiswa Magister Manajemen – FEB Unsoed

Berita Terkait

Berita Terkini