
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Punya rumah dulu terdengar seperti tahapan hidup yang wajar. Lulus kuliah, dapat pekerjaan, menikah, lalu pelan-pelan membeli rumah.
Namun, bagi banyak anak muda hari ini, urutan itu mulai berantakan. Bekerja bertahun-tahun pun belum tentu cukup untuk mengejar harga tanah dan properti yang terus melesat.
Sehingga, rumah bukan lagi target lima tahun. Ia berubah menjadi impian yang terus diundur, sambil berharap harga tanah suatu hari berhenti berlari lebih cepat daripada kenaikan gaji.
Data dari my.pkp.go.id memperlihatkan kenyataan yang tidak bisa diabaikan.
Dari 13.079.752 keluarga di Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 14,40 persen masih mengalami backlog kepemilikan rumah.
Artinya, masih ada kesenjangan antara kebutuhan masyarakat akan rumah dengan jumlah rumah layak huni yang tersedia.
Persoalan tidak berhenti di situ. Sebanyak 31,19 persen keluarga juga masuk kategori backlog Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), yaitu rumah yang belum memenuhi standar keselamatan, kesehatan, maupun kelayakan bangunan. Di balik angka-angka itu, ada cerita yang jauh lebih manusiawi.
P (28), seorang ibu rumah tangga sekaligus content creator asal Purwokerto, sudah menikah selama dua setengah tahun dan memiliki seorang anak.
Saat ditanya soal rumah, jawabannya tidak langsung bicara soal investasi atau aset. Justru, yang ia rindukan adalah rasa memiliki.
“Punya rumah sendiri menurut ku masih jadi impian, kenapa? Karna menurutku punya rumah sendiri itu rasanya kaya lebih seneng aja, lebih puas aja karna itu rumah milik sendiri,” kata P saat dihubungi serayunews.com pada Sabtu, (25/07/2026).
Baginya, rumah bukan hanya tempat pulang. Rumah adalah ruang untuk bebas menentukan warna tembok, tata letak ruang tamu, sampai dekorasi yang sesuai selera pasangan.
“Kalo udah punya rumah sendiri itu, ngrasa kita sebagai pasutri lebih nyaman mau ngatur desain rumahnya gimana, beda kalo bukan rumah sendiri ngerasa ngga bebas,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi banyak pasangan muda mungkin mengangguk setuju.
Tinggal di rumah kontrakan sering kali membuat orang berpikir dua kali bahkan untuk memasang paku di dinding.
Ada batas yang selalu mengingatkan bahwa tempat itu hanya dipinjam sementara.
Menariknya, ketika ditanya soal memilih KPR atau kontrakan, jawaban P justru menggambarkan kebingungan yang mungkin dialami banyak pasangan muda. Di satu sisi, ia merasa bunga KPR cukup mengkhawatirkan.
“Karna kalo KPR ngrasanya lebih berat bunganya, dan kita ngga tau kondisi kedepannya gimana takut semakin berat,” jelasnya.
Namun di sisi lain, ia juga mengakui membeli rumah secara tunai nyaris mustahil dilakukan dalam kondisi ekonomi sekarang.
“KPR, alasannya in this economy kalo beli cash belum mampu, kalo KPR dari sekarang kan bisa nyicil beberapa tahun ke depan. Sedangkan kalo ngontrak tuh, bolak balik pindah ribett,” ungkapnya.
Pilihan yang dihadapi akhirnya bukan mana yang paling ideal, melainkan mana yang paling mungkin dilakukan.
Kalimat berikut mungkin menjadi inti dari persoalan yang sedang dihadapi generasi muda.
“Makin kesini semakin susah karna harga tanah semakin naik, harga properti naik, pendapatan tetap,” jelasnya.
P juga mengakui kondisi ekonomi membuat prioritas keluarganya bergeser. “In this economy pendapatan yang tidak naik-naik, tapi kebutuhan pokok yang semakin mahal. Jadi lebih ngutamain kebutuhan pokoknya dulu, sampe ketunda-tunda beli rumahnya,” pungkasnya.
Rumah akhirnya bukan lagi kebutuhan yang bisa segera dipenuhi, melainkan daftar keinginan yang harus mengalah pada biaya hidup bulanan.
Cerita serupa datang dari Y (27), perempuan asal Purbalingga yang kini tinggal di Jakarta mengikuti suaminya.
Baru setahun menikah, ia mengaku rumah sendiri masih menjadi impian besar.
“Masih banget. Walaupun sekarang kelihatannya makin susah, tetap pengen punya rumah sendiri biar lebih tenang dan nggak kepikiran bayar kontrakan terus,” kata Y saat dihubungi serayunews.com pada Sabtu, (25/07/2026).
Namun berbeda dengan banyak orang yang langsung mengejar KPR, Y justru memilih jalur yang lebih panjang.
“Aku sih tim ngontrak dulu. Mending duitnya dikumpulin pelan-pelan buat bangun rumah sendiri daripada langsung KPR terus nyicil sampai puluhan tahun. Memang prosesnya lebih lama, tapi rasanya lebih lega karena nggak kebebanan cicilan jangka panjang,” terangnya.
Bagi Y, ketenangan mental sama pentingnya dengan memiliki rumah itu sendiri. Ia lebih rela menunggu lebih lama daripada harus hidup dibayangi cicilan selama puluhan tahun.
Saat ditanya mengapa anak muda semakin sulit memiliki rumah, Y menjawab tanpa banyak basa-basi.
“Menurutku karena harga rumah mahal, biaya hidup juga tinggi, gaji belum sebanding, ditambah banyak pengeluaran lain. Jadi buat ngumpulin beli rumah atau nyicil rumah tuh lumayan berat,” pungkas Y.