
SERAYUNEWS- Publik Indonesia kembali dibuat waspada oleh munculnya istilah “super flu” yang ramai diperbincangkan di media dan media sosial.
Isu ini mencuat seiring meningkatnya laporan kasus influenza di berbagai negara dan ditemukannya kasus serupa di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa istilah super flu bukan istilah medis resmi dan tidak merujuk pada virus baru yang mematikan.
Super flu merupakan sebutan populer untuk menggambarkan lonjakan cepat dan luas kasus influenza musiman yang terjadi di luar pola tahunan biasanya.
Fenomena ini memicu kewaspadaan publik, terutama karena penyebarannya terbilang cepat. Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Ketua Dewan Penasihat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M. Faqih, menegaskan bahwa super flu yang dimaksud masyarakat sejatinya adalah virus Influenza A (H3N2) subclade K.
Varian ini merupakan bagian dari virus influenza musiman yang telah lama dikenal dunia medis. “Ini bukan virus baru dan bukan penyakit dengan tingkat keganasan seperti COVID-19,” ujar Daeng.
Ia menegaskan bahwa narasi berlebihan justru berpotensi menimbulkan kepanikan publik yang tidak perlu.
Influenza A (H3N2) adalah salah satu subtipe virus influenza yang rutin beredar secara global setiap tahun. Subclade K muncul akibat proses antigenic drift, yakni mutasi kecil dan bertahap yang terjadi secara alami pada virus influenza.
Mutasi ini membuat subclade K lebih mudah menyebar dan menjadi strain dominan pada musim flu 2025–2026. Meski demikian, dari sisi klinis, gejala yang ditimbulkan masih berada dalam spektrum flu musiman, antara lain:
⦁ Demam mendadak
⦁ Nyeri otot dan sendi
⦁ Kelelahan ekstrem
⦁ Batuk kering
⦁ Sakit kepala
⦁ Rasa tidak enak badan
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tidak ada peningkatan signifikan angka kematian akibat virus ini.
Penyematan kata “super” tidak berkaitan dengan tingkat keganasan virus, melainkan pada pola penyebaran dan skala kasus. Beberapa faktor yang memicu lonjakan kasus dan perhatian publik antara lain:
⦁ Musim flu datang lebih awal dari biasanya
⦁ Kekebalan populasi menurun setelah beberapa tahun fokus pada pandemi COVID-19
⦁ Kesesuaian parsial vaksin influenza, meski tetap efektif mencegah gejala berat dan komplikasi
Mobilitas dan interaksi sosial meningkat, terutama pascapembatasan pandemi
Kondisi ini menyebabkan fasilitas kesehatan di beberapa wilayah mengalami lonjakan pasien flu dalam waktu singkat.
Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan hingga akhir Desember 2025, virus Influenza A (H3N2) subclade K telah teridentifikasi di 8 provinsi di Indonesia.
Rincian Data Penemuan:
⦁ Total kasus: 62 kasus terkonfirmasi
⦁ Jumlah provinsi terdampak: 8 provinsi
Wilayah dengan Kasus Terbanyak:
⦁ Jawa Timur
⦁ Jawa Barat
⦁ Kalimantan Timur
Kemenkes menyatakan situasi masih terkendali, namun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan karena virus ini cepat menular, terutama pada kelompok rentan.
Meski tergolong influenza musiman, virus H3N2 subclade K berpotensi menimbulkan gejala lebih berat pada kelompok tertentu, di antaranya:
⦁ Lansia
⦁ Anak-anak
⦁ Ibu hamil
⦁ Penderita penyakit kronis
⦁ Individu dengan daya tahan tubuh rendah
Kelompok ini dianjurkan untuk lebih disiplin dalam menerapkan langkah pencegahan dan mempertimbangkan vaksinasi influenza tahunan.
Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran influenza. Beberapa upaya sederhana yang dianjurkan antara lain:
⦁ Mencuci tangan secara rutin dengan sabun
⦁ Menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol
⦁ Menghindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan kotor
⦁ Menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan
⦁ Menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat cukup dan gizi seimbang
⦁ Melakukan vaksinasi influenza tahunan
Virus influenza dapat menyebar tidak hanya melalui droplet batuk dan bersin, tetapi juga melalui permukaan benda yang terkontaminasi, sehingga kebersihan tangan menjadi kunci utama.
Upaya pencegahan penyakit menular tidak hanya bergantung pada perilaku individu, tetapi juga pada peran sains dan inovasi. Dalam hal ini, Universitas Pertamina melalui Program Studi Kimia menunjukkan kontribusi nyata.
Sejak 16 Maret 2020, Universitas Pertamina memproduksi hand sanitizer di Laboratorium Kimia Terintegrasi sebagai respons atas kebutuhan antiseptik yang aman dan efektif.
Hand sanitizer tersebut diformulasikan secara ilmiah menggunakan:
⦁ Alkohol 96 persen sebagai bahan aktif utama
⦁ Hidrogen peroksida untuk menonaktifkan mikroorganisme
⦁ Gliserol sebagai pelembap untuk mencegah iritasi kulit
⦁ Air demineralisasi untuk menjaga kemurnian larutan
⦁ Formulasi ini mencerminkan penerapan langsung ilmu kimia dalam menjawab tantangan kesehatan publik.
Super flu yang ramai diperbincangkan sejatinya adalah influenza musiman dominan, bukan virus baru. Meski penyebarannya cepat, kondisi ini masih dapat dikendalikan melalui pencegahan sederhana, edukasi publik, dan dukungan riset ilmiah.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi dari Kementerian Kesehatan, dan tidak mudah terprovokasi oleh istilah yang berpotensi menyesatkan.