
SERAYUNEWS- Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan dari lembaga indeks global.
Setelah sejumlah saham RI keluar dari indeks milik MSCI Inc., kini FTSE Russell juga memastikan bakal menghapus saham dengan status high shareholding concentration (HSC) pada review indeks Juni 2026.
Keputusan tersebut menjadi perhatian investor karena berpotensi memengaruhi arus dana asing, likuiditas saham, hingga pergerakan emiten dengan free float rendah.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasan selengkapnya:
Dalam laporan Indonesia-Index Treatment for June 2026 Index Review, FTSE Russell menegaskan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi akan dihapus menggunakan mekanisme price to zero mulai efektif pada perdagangan 22 Juni 2026.
Kebijakan itu diambil setelah FTSE Russell menilai saham dengan free float terbatas berisiko mengalami penurunan likuiditas secara signifikan menjelang rebalancing indeks.
Lembaga indeks global tersebut juga menilai kondisi itu dapat menyulitkan investor institusi dan investor pasif global untuk melakukan divestasi tanpa memberikan tekanan besar terhadap harga saham.
High shareholding concentration (HSC) merupakan kondisi ketika kepemilikan saham suatu emiten terlalu terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sehingga jumlah saham yang beredar di publik menjadi sangat terbatas.
Kondisi ini dinilai berbahaya bagi pasar karena:
– Likuiditas perdagangan menurun
– Spread harga saham menjadi lebih lebar
– Investor institusi sulit melakukan transaksi besar
– Pergerakan harga dianggap tidak mencerminkan kondisi pasar sebenarnya
FTSE Russell menilai saham dengan status HSC berpotensi mengganggu integritas indeks global karena sulit direplikasi oleh investor berbasis indeks (index tracking investors).
FTSE Russell mengakui otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan sejumlah langkah perbaikan transparansi pasar.
Beberapa kebijakan yang sudah diterapkan antara lain:
– Membuka data kepemilikan saham di atas 1 persen
– Merilis daftar saham HSC
– Memperkuat pelaporan klasifikasi investor
– Memperbarui pengawasan free float emiten
Meski demikian, FTSE Russell masih menilai pasar modal Indonesia membutuhkan masa observasi lebih panjang sebelum normalisasi penuh dilakukan.
Karena itu, FTSE Russell memutuskan menunda:
– Full index re-ranking
– Kenaikan free float
– Penambahan saham baru IPO
Penundaan tersebut berlaku setidaknya hingga review indeks September 2026.
Sejumlah saham kapitalisasi besar Indonesia saat ini masih menjadi bagian dari indeks FTSE Russell dan menjadi acuan investor global.
Berikut daftar saham Indonesia yang masuk indeks FTSE Russell:
BBCA
BBRI
BMRI
TLKM
ASII
ICBP
UNVR
AMMN
BREN
TPIA
DSSA
CUAN
AMRT
INDF
GOTO
BYAN
MDKA
ANTM
ADRO
PGEO
Saham-saham tersebut memiliki pengaruh besar terhadap aliran modal asing karena banyak digunakan dalam portofolio investasi global.
Hingga kini FTSE Russell memang belum merilis daftar resmi terbaru emiten yang terkena kebijakan price to zero. Namun sejumlah saham sebelumnya kerap dikaitkan dengan isu konsentrasi kepemilikan tinggi dan free float rendah.
Berikut saham yang masuk radar HSC:
BREN
CUAN
TPIA
DSSA
AMMN
Saham-saham tersebut dinilai memiliki struktur kepemilikan yang terkonsentrasi sehingga rawan mengalami penurunan likuiditas ketika investor asing melakukan penyesuaian portofolio.
Keputusan FTSE Russell diperkirakan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap saham dengan likuiditas rendah, terutama menjelang implementasi review indeks Juni 2026.
Selain itu, langkah ini juga berpotensi:
– Memicu aksi jual investor asing
– Menekan harga saham berfree float kecil
– Meningkatkan volatilitas emiten tertentu
– Mengurangi daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global
Di sisi lain, saham-saham big cap dengan likuiditas tinggi diperkirakan tetap menjadi tujuan utama aliran dana asing.
Langkah FTSE Russell muncul tidak lama setelah MSCI Inc. mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks globalnya pada review Mei 2026.
Kondisi tersebut membuat sentimen pasar terhadap saham Indonesia semakin sensitif, khususnya terkait transparansi free float dan struktur kepemilikan emiten.
FTSE Russell memastikan akan terus berdiskusi dengan otoritas pasar modal Indonesia sebelum menentukan kebijakan lanjutan pada review September 2026.