
SERAYUNEWS – Suasana Ramadan 1447 H terasa berbeda di Rutan Kelas IIB Banyumas. Dari balik jeruji, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema setiap hari, menjadi penanda ikhtiar pembinaan spiritual bagi para warga binaan di wilayah Kabupaten Banyumas.
Sebanyak 13 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti kegiatan tadarus Al-Qur’an yang digelar rutin di aula blok hunian.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial Ramadan, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang refleksi dan pembinaan karakter.
Sejak awal Ramadan, suasana religius semakin terasa. Ayat-ayat suci dibaca secara bergantian dengan penuh kekhusyukan, menghadirkan atmosfer tenang dan sarat perenungan.
Pelaksanaan tadarus dijadwalkan setiap hari dengan pendampingan petugas, guna memastikan kegiatan berjalan tertib, kondusif, dan penuh makna.
Momentum Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat nilai keimanan, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan kesadaran spiritual dalam diri para WBP.
Salah satu peserta tadarus, WBP berinisial S (53), mengaku merasakan perubahan besar dalam dirinya sejak mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya merasa lebih tenang dan lebih dekat dengan Allah SWT. Kegiatan tadarus ini membuat hati saya lebih adem dan memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri. Harapan saya, setelah bebas nanti, saya bisa terus istiqamah membaca Al-Qur’an dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk keluarga,” katanya.
Menurutnya, tadarus bukan sekadar membaca Al-Qur’an, melainkan menjadi pengingat untuk menyesali kesalahan masa lalu serta mempersiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.
Ramadan kali ini ia maknai sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, bersyukur, dan bertanggung jawab.
Kepala Rutan Kelas IIB Banyumas, Anggi Febiakto, menegaskan bahwa tadarus harian selama Ramadan merupakan bagian penting dari pembinaan menyeluruh bagi warga binaan.
“Kami berharap melalui kegiatan tadarus ini, warga binaan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaannya, sehingga tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri. Pembinaan spiritual adalah fondasi penting dalam proses pemasyarakatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembinaan di rutan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan keamanan, tetapi juga pada pembentukan karakter serta penguatan mental spiritual.
Menurutnya, perubahan sejati harus dimulai dari dalam diri, dan pendekatan keagamaan yang konsisten menjadi salah satu jalannya.
“Kami ingin memastikan bahwa warga binaan memiliki bekal moral dan spiritual yang kuat ketika kembali ke tengah masyarakat. Harapannya, mereka tidak hanya kembali sebagai individu yang bebas, tetapi juga sebagai pribadi yang lebih baik, lebih siap, dan lebih bertanggung jawab,” kata dia.
Dengan tadarus yang istiqamah setiap hari selama Ramadan 1447 H, Rutan Kelas IIB Banyumas berharap suasana religius tetap terjaga dan menjadi sarana pembinaan yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran, harapan, serta semangat perubahan positif.
Di balik tembok tinggi dan pintu besi, Ramadan menjadi momentum transformasi — dari ruang pembatasan menuju cahaya perbaikan diri.