
SERAYUNEWS- Dua wasit muda Indonesia, Naufal Adya Fairuski asal Bogor dan Ryan Nanda Saputra dari Bandung, menunjukkan progres signifikan dalam karier internasional mereka.
Keduanya mengikuti modul onsite terakhir program bergengsi AFC Referee Academy yang berlangsung pada 9–13 Februari 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Partisipasi ini menjadi tahap penentu dalam kurikulum pembinaan wasit selama tiga tahun yang dirancang oleh Asian Football Confederation (AFC).
Jika memenuhi seluruh standar evaluasi, keduanya berpeluang besar menyandang status Elite Referee Asia pada paruh kedua 2026. Melansir laman resmi PSSI, berikut Serayunews, sajikan ulasan selengkapnya:
Modul onsite terakhir bukan sekadar pelatihan biasa. AFC menerapkan evaluasi komprehensif yang mencakup aspek teknis, fisik, mental, hingga manajerial.
Para peserta diuji dalam berbagai simulasi pertandingan dengan tekanan tinggi, analisis insiden krusial, serta pengambilan keputusan cepat sesuai Laws of the Game.
Instruktur AFC memantau konsistensi keputusan, positioning di lapangan, komunikasi dengan pemain, hingga kemampuan mengendalikan dinamika pertandingan.
Selain itu, standar kebugaran fisik juga diuji melalui tes intensitas tinggi untuk memastikan wasit mampu menjaga performa sepanjang laga.
Bagi Naufal dan Ryan, fase ini menjadi momentum pembuktian bahwa wasit Indonesia mampu bersaing di level tertinggi Asia.
AFC Referee Academy merupakan jalur pembinaan terstruktur yang dibentuk AFC untuk mencetak wasit profesional berstandar internasional. Program ini berjalan selama tiga tahun dan terbagi dalam beberapa modul teori serta praktik lapangan.
Fokus pembinaan meliputi:
Peserta yang dinyatakan lulus akan masuk dalam radar penugasan pertandingan level kontinental, termasuk turnamen antarklub dan tim nasional di bawah naungan AFC.
Keikutsertaan Naufal dan Ryan tidak lepas dari dukungan penuh PSSI melalui Komite Wasit. Federasi aktif mendorong regenerasi dan peningkatan kapasitas perangkat pertandingan nasional agar mampu memenuhi standar internasional.
PSSI membuka akses pembinaan luar negeri serta memberikan pendampingan berkelanjutan bagi wasit muda potensial.
Strategi ini menjadi bagian dari reformasi perwasitan nasional untuk meningkatkan kredibilitas kompetisi domestik sekaligus memperbaiki citra wasit Indonesia di mata Asia.
Langkah ini dinilai penting mengingat kualitas wasit menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga integritas dan profesionalisme kompetisi sepak bola.
Selain Naufal dan Ryan, beberapa wasit Indonesia juga ambil bagian dalam akademi tersebut, antara lain:
Kehadiran mereka menunjukkan konsistensi Indonesia dalam mengirimkan talenta terbaik ke jalur pembinaan AFC.
Partisipasi lintas cabang, baik sepak bola maupun futsal, memperlihatkan keseriusan federasi dalam membangun standar profesionalisme menyeluruh.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, paruh kedua 2026 berpotensi menjadi momentum bersejarah bagi perwasitan Indonesia. Status Elite Referee Asia akan membuka peluang penugasan di ajang-ajang besar tingkat kontinental.
Keberhasilan ini juga akan memberikan efek domino positif terhadap pembinaan wasit di dalam negeri. Standar yang lebih tinggi di level internasional diharapkan menular pada kualitas kepemimpinan pertandingan di kompetisi nasional.
Dengan sistem pembinaan terarah, dukungan federasi, serta komitmen individu, wasit Indonesia kini tidak lagi sekadar partisipan, melainkan kandidat kuat perangkat pertandingan elite Asia.