
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Fenomena embun upas atau yang kerap disebut “salju Dieng” kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, pada 9–10 Juli 2026.
Kemunculan kristal es yang memutih di sejumlah lokasi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, di balik keindahan tersebut, embun upas juga membawa dampak serius bagi sektor pertanian.
Berdasarkan informasi dari Pemerintah Desa Dieng Kulon dan para petani, embun upas muncul di sejumlah titik, di antaranya kawasan Lapangan Pandawa, Parkir Candi Arjuna, Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, hingga Kompleks Setyaki.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Adi, mengatakan fenomena frost kali ini diperkirakan berdampak pada lahan pertanian seluas sekitar 25 hingga 30 hektare.
“Informasi yang kami terima dari Pemerintah Desa Dieng Kulon dan petani di lapangan menunjukkan bahwa embun upas pada 9 dan 10 Juli menyebabkan tanaman di sejumlah lokasi terdampak. Estimasi luas lahan yang terkena mencapai sekitar 25 sampai 30 hektare,” ujarnya.
Embun upas merupakan fenomena alam yang terjadi ketika suhu permukaan turun hingga mendekati atau di bawah titik beku, sehingga uap air berubah menjadi kristal es yang menempel pada permukaan tanah maupun tanaman. Fenomena ini umumnya muncul saat musim kemarau dengan langit cerah dan suhu udara yang sangat rendah di kawasan dataran tinggi seperti Dieng.
Bagi sektor pariwisata, kemunculan embun upas justru menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menyaksikan hamparan kristal es yang menyerupai salju. Setiap kali fenomena ini terjadi, jumlah pengunjung Dieng biasanya meningkat karena momen tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat dan tidak terjadi setiap hari.
Namun kondisi berbeda dirasakan para petani. Suhu ekstrem menyebabkan jaringan tanaman rusak akibat pembekuan, terutama pada tanaman hortikultura yang masih muda.
Diakui para petani Dieng, tanaman yang berusia sekitar 40 hari ke bawah mengalami kerusakan cukup parah dan sebagian besar tidak dapat diselamatkan setelah terkena embun upas. Akibatnya, petani harus melakukan penanaman ulang yang diperkirakan baru dapat dimulai sekitar September 2026, menyesuaikan kondisi cuaca.
Untuk meminimalkan dampak embun upas, petani selama ini menerapkan beberapa langkah sederhana. Di antaranya menyiram tanaman pada siang hingga sore hari agar terbentuk uap air yang dapat membantu mengurangi efek suhu dingin pada pagi hari. Selain itu, sebagian petani menutup tanaman menggunakan paranet maupun daun bambu sebagai pelindung dari paparan embun beku secara langsung.
Firman menjelaskan, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi lahan pertanian bersama pemerintah desa dan kelompok tani. Pendataan dilakukan sebagai dasar untuk menentukan langkah penanganan serta pendampingan kepada petani yang terdampak.
Fenomena embun upas menjadi gambaran dua sisi kehidupan di kawasan Dieng. Di satu sisi, kristal es yang menyelimuti hamparan rumput dan pepohonan menghadirkan panorama langka yang menggerakkan sektor pariwisata. Di sisi lain, suhu ekstrem yang sama menjadi ancaman nyata bagi petani hortikultura yang menggantungkan penghidupan dari hasil pertanian.
Pemerintah berharap sinergi antara petani, pemerintah desa, dan instansi terkait dapat memperkuat upaya mitigasi sehingga dampak embun upas terhadap produksi pertanian dapat ditekan, tanpa mengurangi potensi wisata alam yang menjadi salah satu daya tarik utama Dataran Tinggi Dieng.