
PURWOKERTO, SERAYUNEWS.COM – Sejumlah masyarakat belakangan dibuat bingung setelah mengecek posisi keluarganya dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Ada yang merasa penghasilannya masih rendah, tetapi justru tercatat berada di Desil 6-10.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan sederhana: kalau pendapatan masih pas-pasan, kenapa posisi desil justru berada di kelompok atas?
Perlu diketahui, desil bukanlah pengelompokan yang ditentukan hanya berdasarkan gaji atau penghasilan bulanan.
Posisi tersebut menggambarkan peringkat kesejahteraan rumah tangga berdasarkan sejumlah karakteristik sosial dan ekonomi.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap setiap desil memiliki batas penghasilan tertentu. Padahal, posisi desil tidak dapat dibaca sesederhana itu.
BPS menegaskan bahwa tidak ada ketentuan resmi yang memasangkan Desil 1 sampai Desil 10 dengan nominal gaji tertentu.
Artinya, seseorang dengan pendapatan yang dianggap rendah tidak otomatis berada di Desil 1 atau 2.
Penentuan posisi dilakukan dengan melihat kondisi rumah tangga secara lebih menyeluruh.
Faktor seperti kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pendidikan, pekerjaan, anggota keluarga hingga keadaan sosial ekonomi lainnya dapat ikut memengaruhi hasil pemeringkatan.
Karena itu, dua keluarga yang sama-sama memiliki pendapatan Rp3 juta per bulan belum tentu mendapatkan posisi desil yang sama.
Ada alasan mengapa penghasilan tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya patokan.
Dalam pemeringkatan DTSEN, yang dilihat bukan sekadar berapa uang yang masuk ke rekening atau diterima seseorang setiap bulan. Data menggambarkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga secara lebih luas.
Misalnya, seseorang memiliki pendapatan Rp3 juta. Namun, dalam satu rumah terdapat anggota keluarga lain yang bekerja, memiliki usaha, aset tertentu, atau kondisi tempat tinggal yang tercatat dalam sistem.
Seluruh gambaran tersebut dapat membuat posisi sebuah keluarga berbeda dari perkiraan jika hanya melihat penghasilan salah satu anggota keluarga. Dengan kata lain, gaji kecil tidak otomatis berarti posisi desil juga rendah.
Hal penting lainnya adalah desil merupakan sistem pemeringkatan. Masyarakat dikelompokkan ke dalam 10 bagian berdasarkan tingkat kesejahteraannya.
Semakin kecil nomor desil, semakin rendah posisi kelompok tersebut dalam pemeringkatan kesejahteraan. Sebaliknya, angka desil yang lebih besar menunjukkan posisi yang relatif lebih tinggi dibandingkan kelompok di bawahnya.
Namun, Desil 6-10 juga tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai “orang kaya”.
Sebuah keluarga yang masuk Desil 8, misalnya, belum tentu merasa hidupnya berkecukupan.
Mereka masih bisa menghadapi kebutuhan sekolah anak, cicilan, biaya kesehatan, kebutuhan rumah tangga atau pengeluaran lain yang cukup besar.
Sebab, desil merupakan peringkat relatif, bukan label yang menyatakan seseorang kaya atau miskin secara mutlak.
Masyarakat juga perlu memahami bahwa pemeringkatan tidak hanya melihat kondisi satu individu.
DTSEN merupakan basis data yang memuat informasi individu dan/atau keluarga. Karena itu, kondisi rumah tangga menjadi bagian penting dalam melihat posisi sosial ekonomi.
Misalnya, seorang kepala keluarga memiliki pendapatan Rp3 juta per bulan. Jika ia hidup sendiri, gambaran ekonominya tentu berbeda dengan orang yang memiliki pendapatan sama tetapi tinggal bersama beberapa anggota keluarga dengan kondisi ekonomi dan karakteristik yang berbeda.
Inilah yang membuat masyarakat perlu berhati-hati ketika menyimpulkan posisi desil hanya berdasarkan slip gaji.
Status desil menjadi penting karena pemerintah menggunakannya sebagai salah satu dasar dalam menentukan sasaran program perlindungan sosial.
Dalam informasi resmi Cek Bansos, kelompok Desil 1-4 atau 40 persen terbawah dapat diusulkan untuk mendapatkan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako.
Sementara Desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI Jaminan Kesehatan.
Karena itu, warga yang berada di Desil 6-10 dapat merasa khawatir ketika sebelumnya masih mendapatkan bantuan, tetapi kemudian tidak lagi masuk kelompok sasaran program tertentu.
Meski begitu, posisi desil tidak bersifat permanen.
Jika Anda merasa kondisi keluarga sebenarnya jauh lebih sulit dibandingkan informasi yang tercatat, masyarakat dapat mengajukan pembaruan data.
Pemerintah menyediakan mekanisme untuk memperbarui data melalui desa atau kelurahan serta dinas sosial.
Pengajuan juga dapat dilakukan melalui aplikasi Cek Bansos dengan menyampaikan kondisi rumah tangga sesuai keadaan sebenarnya.
Data yang diberikan akan melalui proses verifikasi. Setelah pembaruan dilakukan, posisi desil dapat dihitung kembali secara berkala oleh BPS.
Karena itu, warga yang merasa tidak sesuai sebaiknya tidak berhenti pada rasa kecewa setelah melihat hasil desil.
Anda dapat memeriksa kembali data keluarga dan memastikan informasi mengenai pekerjaan, penghasilan, anggota keluarga, kondisi tempat tinggal serta keadaan sosial ekonomi lainnya sudah menggambarkan situasi terbaru.
Fenomena warga berpenghasilan rendah yang masuk Desil 6-10 pada akhirnya menunjukkan bahwa sistem pemeringkatan kesejahteraan memang tidak sesederhana melihat nominal penghasilan.
Ada banyak kondisi yang membentuk gambaran sosial ekonomi sebuah keluarga. Pendapatan merupakan salah satunya, tetapi bukan satu-satunya penentu.
Jika hasil desil terasa tidak masuk akal, langkah yang lebih tepat adalah memastikan data yang digunakan sudah sesuai dengan kondisi keluarga saat ini.
Apalagi, data sosial ekonomi masyarakat dapat berubah. Seseorang bisa kehilangan pekerjaan, mengalami perubahan pendapatan, memiliki tambahan tanggungan, pindah rumah atau mengalami perubahan kondisi keluarga lainnya.
Karena itu, pembaruan data menjadi penting agar gambaran kesejahteraan masyarakat semakin mendekati kondisi yang sebenarnya.***