
SERAYUNEWS – Nama Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Gus Thuba tengah menjadi sorotan publik. Lantas, anak siapa?
Pasalnya, sosoknya ramai diperbincangkan setelah mendirikan organisasi bernama Yakuza Maneges yang viral di media sosial.
Nama “Yakuza” yang identik dengan mafia Jepang sempat membuat banyak orang salah paham.
Tidak sedikit warganet yang mengira organisasi tersebut merupakan geng jalanan atau kelompok preman.
Namun setelah mengetahui filosofi di balik nama tersebut, respons publik berubah menjadi rasa penasaran dan apresiasi.
Di balik viralnya Yakuza Maneges, sosok Gus Thuba juga ikut menarik perhatian. Banyak netizen bertanya-tanya, Gus Thuba anak siapa dan berasal dari keluarga seperti apa?
Ternyata, Gus Thuba bukan berasal dari keluarga biasa. Ia merupakan keturunan ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia dakwah dan keagamaan di Jawa Timur.
Thuba Topo Broto Maneges diketahui merupakan putra dari Kiyai Tijani Robert Saifunnawas atau yang dikenal sebagai Gus Robert.
Gus Robert sendiri merupakan anak ketiga dari ulama kharismatik KH Hamim Djazuli.
Nama Gus Miek tentu sudah sangat dikenal di kalangan masyarakat, khususnya di Jawa Timur, karena kiprahnya dalam dunia dakwah dan spiritual.
Sementara itu, ibu Gus Thuba adalah Ning Nida Dusturiah. Ia merupakan putri dari Kiai Ahmad Shiddiq, tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) dari Jember.
Dari garis keturunan tersebut, banyak orang menilai Gus Thuba lahir dari keluarga ulama besar yang memiliki pengaruh kuat dalam dunia keislaman dan dakwah di Indonesia.
Nama KH Hamim Djazuli atau Gus Miek dikenal luas sebagai ulama kharismatik asal Kediri. Ia terkenal dengan pendekatan dakwah yang unik dan inklusif.
Gus Miek dikenal tidak membatasi dakwah hanya untuk kelompok tertentu.
Ia justru aktif merangkul masyarakat akar rumput, termasuk mereka yang dianggap berada di lingkungan “keras” atau jauh dari kehidupan religius.
Pada tahun 1962, sebelum lahirnya Dzikrul Ghofilin, Gus Miek diketahui telah mendirikan Jam’iyah Lailiyah dan Jamaah Mujahadah Lailiyah.
Pendekatan dakwah inilah yang kemudian dianggap diteruskan oleh Gus Thuba melalui berbagai aktivitas sosial dan spiritual yang dijalankannya saat ini.
Kini, Gus Thuba melanjutkan perjuangan keluarganya dalam memimpin Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan.
Majelis tersebut merupakan wadah dakwah dan kegiatan spiritual yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat luas, termasuk kelompok marginal dan kalangan akar rumput.
Banyak pengikut dakwah Gus Thuba menilai pendekatannya cukup berbeda dan mudah diterima generasi muda.
Ia dikenal memiliki gaya dakwah yang santai, terbuka, dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Karena itu, kemunculan Yakuza Maneges dinilai sebagai bagian dari strategi dakwah kreatif yang bertujuan merangkul orang-orang yang ingin berubah menjadi lebih baik.
Menurut Gus Thuba, Yakuza Maneges ditujukan bagi kelompok yang disebut sebagai “santri jalur kiri”.
Istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang pernah terjerumus dalam kesalahan, kemaksiatan, atau kehidupan keras, tetapi masih memiliki niat untuk berubah menjadi lebih baik.
Karena itu, organisasi ini disebut sebagai wadah hijrah bagi mereka yang ingin mendekat kepada Tuhan tanpa merasa dihakimi.
Pendekatan seperti ini dianggap selaras dengan gaya dakwah Gus Miek yang selama hidupnya dikenal mampu merangkul semua lapisan masyarakat.***