
SERAYUNEWS – Harga emas hari ini, Rabu 7 Januari 2026, kembali menunjukkan tren penguatan yang cukup signifikan.
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatatkan lonjakan harga yang menarik perhatian pelaku pasar maupun masyarakat yang menjadikan emas sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang.
Kenaikan harga ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih dinantikan investor.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, harga emas Antam ukuran 1 gram hari ini dibanderol Rp 2.549.000.
Angka tersebut naik Rp 34.000 dibandingkan harga sehari sebelumnya yang berada di level Rp 2.515.000 per gram.
Kenaikan ini tidak hanya terjadi pada harga jual, tetapi juga berdampak pada harga pembelian kembali (buyback) yang kini berada di Rp 2.405.000 per gram.
Dengan demikian, selisih antara harga jual dan buyback masih relatif stabil meski harga emas sedang dalam fase menguat.
Berikut daftar lengkap harga emas Antam hari ini, Rabu (7/1/2026):
Harga dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar dan kebijakan internal perusahaan.
Bagi Anda yang berencana membeli atau menjual emas batangan, penting untuk memahami aspek perpajakan agar tidak terjadi kesalahpahaman saat transaksi.
Mengacu pada PMK Nomor 34/PMK.10/2017, setiap transaksi emas batangan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.
Untuk pembelian emas, tarif PPh 22 ditetapkan sebesar:
Sementara itu, untuk penjualan kembali (buyback) emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nilai transaksi di atas Rp 10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar:
Pajak tersebut dipotong langsung dari total nilai buyback, sehingga jumlah dana yang diterima bersih akan menyesuaikan.
Harga Emas Dunia Mendekati Rekor Tertinggi
Penguatan harga emas di dalam negeri tidak terlepas dari pergerakan pasar global.
Harga emas dunia kembali melanjutkan reli, didorong oleh meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketegangan geopolitik internasional.
Pada perdagangan terakhir, harga emas di pasar spot tercatat naik 0,8 persen menjadi USD 4.485,39 per ons, setelah sebelumnya melonjak hampir 3 persen.
Harga ini semakin mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 4.549,71 per ons yang tercapai pada akhir Desember lalu.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari ditutup menguat di USD 4.496,10 per ons.
Situasi geopolitik menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga emas saat ini. Ketegangan global membuat investor cenderung mengamankan asetnya ke instrumen yang dinilai lebih stabil.
“Para pedagang logam mulia melihat lebih banyak risiko di masa depan dibandingkan para pedagang saham dan obligasi saat ini,” kata Analis Senior di Kitco Metals.
Dia menambahkan bahwa serangan AS terhadap Venezuela pada akhir pekan telah memicu permintaan berkelanjutan untuk emas dan perak sebagai aset safe-haven.
Emas juga tercatat mengalami lonjakan tahunan yang impresif. Sepanjang tahun lalu, harga emas naik 64,4 persen, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Data tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 60.000 lapangan kerja, sedikit lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan perhitungan pelaku pasar, Federal Reserve diperkirakan akan melakukan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.
Jika ekspektasi tersebut terealisasi, emas berpotensi tetap berada dalam tren positif karena suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Harga emas hari ini 7 Januari 2026 menunjukkan penguatan signifikan, baik di pasar domestik maupun global.
Kenaikan harga emas Antam ke level Rp 2.549.000 per gram mencerminkan kuatnya sentimen safe haven di tengah ketidakpastian global dan arah kebijakan moneter dunia.
Bagi Anda yang menjadikan emas sebagai investasi jangka panjang, pergerakan ini menjadi sinyal bahwa emas masih relevan sebagai pelindung nilai.
Namun, pemahaman terhadap aturan pajak dan strategi waktu transaksi tetap menjadi kunci agar keputusan investasi lebih optimal.***