
SERAYUNEWS- Umat Hindu di Indonesia kembali menyambut salah satu hari suci terpenting dalam kalender keagamaan Hindu. Pada tahun 2026, Hari Raya Galungan diperingati pada Rabu, 17 Juni 2026, sementara Hari Raya Kuningan diperkirakan jatuh pada Sabtu, 27 Juni 2026 atau sepuluh hari setelah Galungan.
Kedua perayaan ini memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan spiritual umat Hindu, khususnya di Bali. Hari Raya Galungan dan Kuningan dirayakan berdasarkan perhitungan Kalender Saka Bali yang berlangsung setiap 210 hari sekali.
Bagi umat Hindu, Galungan dan Kuningan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk memperkuat keyakinan, meningkatkan kualitas diri, serta mensyukuri anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Melansir laman resmi Binus University, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Hari Raya Galungan merupakan hari suci yang menandai kemenangan Dharma atau kebenaran atas Adharma yang berarti kejahatan atau keburukan.
Dalam tradisi Hindu Bali, Galungan juga dikenal sebagai Rerahinan Gumi, yaitu hari raya yang wajib dirayakan oleh seluruh umat Hindu sebagai bentuk penghormatan kepada kekuatan suci yang menjaga keseimbangan alam semesta.
Perayaan ini berlangsung setiap 210 hari berdasarkan sistem penanggalan Bali dan menjadi salah satu hari besar yang paling dinantikan masyarakat Hindu.
Secara etimologis, kata “Galungan” diartikan sebagai “bersatu” atau “bertemu”. Filosofi tersebut menggambarkan penyatuan kekuatan rohani dalam diri manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Pada momen Galungan, umat Hindu diajak menyelaraskan tiga unsur utama kehidupan, yakni pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiga unsur tersebut harus berjalan seimbang agar manusia mampu menjalankan Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika pikiran dipenuhi kebijaksanaan dan hati tetap berada pada jalan kebenaran, maka Dharma akan tumbuh dalam diri seseorang. Sebaliknya, kekacauan batin dan perilaku yang menyimpang dianggap sebagai wujud Adharma.
Karena itu, Hari Raya Galungan menjadi simbol kemenangan spiritual yang mengingatkan manusia untuk selalu mengendalikan diri dan memilih jalan kebaikan.
Sepuluh hari setelah Galungan, umat Hindu merayakan Hari Raya Kuningan. Hari raya ini dipercaya sebagai waktu ketika para Dewa, Bhatara, dan leluhur turun ke bumi untuk memberikan berkah, perlindungan, serta keselamatan kepada umat manusia.
Dalam ajaran Hindu Bali, Kuningan menjadi simbol rasa syukur atas segala karunia yang telah diberikan Sang Hyang Widhi Wasa.
Warna kuning yang mendominasi berbagai sesajen melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Karena itu, umat Hindu menyiapkan berbagai persembahan berwarna kuning sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
Perayaan Kuningan juga menjadi momen refleksi diri untuk memohon kehidupan yang damai, tenteram, dan penuh keberkahan.
Perayaan Galungan dan Kuningan tidak hanya berlangsung dalam satu hari. Terdapat serangkaian upacara suci yang dimulai jauh sebelum Hari Raya Galungan hingga berakhir setelah Kuningan.
1. Tumpek Wariga
Tumpek Wariga dilaksanakan 25 hari sebelum Galungan. Umat Hindu memanjatkan doa dan mempersembahkan sesajen kepada tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk syukur atas kesuburan dan hasil alam.
2. Sugihan Jawa
Sugihan Jawa menjadi simbol pembersihan alam semesta atau Bhuana Agung dari berbagai energi negatif.
3. Sugihan Bali
Pada tahap ini umat Hindu melakukan penyucian diri secara lahir dan batin sebagai persiapan menyambut hari suci.
4. Hari Penyekeban
Hari Penyekeban menjadi momen pengendalian diri dengan menahan berbagai perilaku yang bertentangan dengan ajaran agama.
5. Hari Penyajan
Umat Hindu meyakini hari ini sebagai ujian pengendalian diri sebelum memasuki puncak perayaan Galungan.
6. Hari Penampahan
Penampahan Galungan ditandai dengan pembuatan penjor serta berbagai persiapan persembahan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.
Penjor yang menghiasi jalan-jalan di Bali menjadi salah satu ikon paling khas saat perayaan Galungan berlangsung.
7. Umanis Galungan
Sehari setelah Galungan, umat Hindu melaksanakan persembahyangan lanjutan dan kegiatan Dharma Santi untuk mempererat hubungan sosial serta kekeluargaan.
8. Pemaridan Guru
Hari ini digunakan untuk memohon anugerah dan petunjuk hidup kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
9. Ulihan
Menurut kepercayaan Hindu Bali, para dewa dan leluhur mulai kembali ke kahyangan setelah meninggalkan berkah bagi umat manusia.
10. Pemacekan Agung
Pemacekan Agung melambangkan keteguhan iman manusia dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan.
11. Hari Raya Kuningan
Puncak perayaan Kuningan diisi dengan persembahyangan dan persembahan khusus yang dilakukan hingga tengah hari.
Pada hari ini umat Hindu memasang berbagai simbol keagamaan seperti tamiang, endong, dan kolem sebagai lambang perlindungan serta kesejahteraan.
12. Pegat Wakan
Pegat Wakan menjadi penutup seluruh rangkaian Galungan dan Kuningan. Penjor yang sebelumnya dipasang kemudian dicabut dan dibakar, sementara abunya ditanam sebagai simbol kembalinya unsur kehidupan ke alam.
Di tengah perkembangan zaman, makna Hari Raya Galungan dan Kuningan tetap relevan. Kedua hari suci ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan duniawi.
Galungan mengingatkan manusia agar selalu memenangkan kebaikan atas keburukan, sedangkan Kuningan menjadi momentum untuk mensyukuri segala berkah yang telah diterima.
Melalui perayaan ini, umat Hindu diajak memperkuat hubungan dengan Tuhan, menghormati leluhur, menjaga harmoni dengan sesama manusia, serta melestarikan keseimbangan alam semesta.