
SERAYUNEWS – Masa awal belajar puasa adalah momen penting bagi anak. Di fase ini, mereka sedang berlatih menahan lapar dan haus, sekaligus belajar memahami makna ibadah Ramadhan.
Karena itu, orang tua perlu menghadirkan suasana yang menyenangkan agar anak tidak merasa terpaksa atau terbebani. Pendekatan yang tepat bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang pengalaman yang berkesan.
Berikut beberapa ide kegiatan yang bisa dilakukan untuk mendampingi anak yang baru belajar puasa agar tetap semangat dan bahagia.
Anak-anak biasanya menyukai hal visual dan penuh warna. Orang tua bisa membuat kalender puasa sederhana berisi kotak-kotak tanggal Ramadhan.
Setiap kali anak berhasil berpuasa, baik setengah hari maupun penuh, beri stiker lucu atau tanda bintang.
Kegiatan ini membantu anak merasa bangga atas usahanya. Mereka bisa melihat progresnya secara nyata. Selain itu, cara ini juga melatih konsistensi dan rasa tanggung jawab.
Bagi anak yang benar-benar baru belajar, puasa bisa dilakukan secara bertahap. Misalnya, hari pertama sampai pukul 10 pagi, lalu meningkat hingga waktu zuhur, dan seterusnya.
Agar lebih menyenangkan, buat “tantangan harian” seperti:
Hari ini puasa sampai zuhur tanpa mengeluh
Hari ini puasa sambil membantu ibu merapikan mainan
Hari ini puasa sambil membaca satu doa pendek
Dengan konsep tantangan, anak merasa seperti sedang bermain, bukan sekadar menjalankan kewajiban.
Agar waktu menjelang berbuka tidak terasa lama, ajak anak melakukan aktivitas kreatif. Misalnya:
Membuat kartu ucapan Ramadhan
Mewarnai gambar masjid dan bulan sabit
Membuat celengan sedekah dari botol bekas
Selain mengalihkan perhatian dari rasa lapar, kegiatan ini juga mengenalkan nilai kebaikan dan kepedulian sejak dini.
Anak-anak sangat mudah tersentuh melalui cerita. Orang tua bisa membacakan kisah sederhana tentang anak saleh, kisah para nabi, atau cerita tentang keutamaan berbagi di bulan Ramadhan.
Gunakan bahasa ringan dan interaktif. Sesekali ajukan pertanyaan seperti, “Kalau kamu jadi tokoh itu, kamu akan bagaimana?” Dengan begitu, anak belajar memahami nilai sabar, jujur, dan empati tanpa merasa digurui.
Menjelang waktu magrib biasanya anak mulai gelisah. Untuk mengalihkan fokus, ajak mereka membantu menyiapkan menu berbuka sederhana, seperti menyusun kurma di piring atau mencampur sirup.
Kegiatan ini membuat mereka merasa dilibatkan dan dihargai. Selain itu, anak belajar bahwa berbuka adalah momen syukur, bukan sekadar waktu makan.
Ajarkan anak bahwa puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi. Buat program sedekah kecil, misalnya memasukkan uang receh ke dalam kotak sedekah setiap hari.
Di akhir pekan, orang tua bisa mengajak anak menyalurkannya kepada yang membutuhkan. Pengalaman ini akan membekas dan membentuk empati mereka sejak dini.
Anak yang sedang belajar puasa tetap membutuhkan energi. Pastikan mereka memiliki waktu istirahat cukup dan tidak dipaksa melakukan aktivitas berat.
Buat jadwal ringan seperti:
Pagi: kegiatan sekolah
Siang: istirahat atau membaca buku
Sore: aktivitas santai atau bermain ringan
Dengan manajemen waktu yang baik, anak tidak mudah rewel karena kelelahan.
Yang terpenting, hindari membandingkan anak dengan teman atau saudara lain. Setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Berikan pujian atas usahanya, sekecil apa pun itu.
Kalimat sederhana seperti, “Mama bangga kamu sudah mencoba puasa hari ini,” bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka. Anak akan lebih termotivasi untuk mencoba lagi keesokan harinya.
Dengan kegiatan yang menyenangkan dan pendekatan penuh kasih, pengalaman pertama berpuasa akan menjadi kenangan indah. Dari sinilah tumbuh kebiasaan baik yang akan mereka bawa hingga dewasa nanti.***