
SERAYUNEWS- Puasa Ramadan 1447 H bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga memberi dampak signifikan terhadap kesehatan jiwa.
Sejumlah penelitian dan pendapat ahli psikologi menyebut praktik menahan lapar dan haus mampu meningkatkan keseimbangan emosi serta ketahanan mental seseorang.
Psikolog Dr. Vivik Shofiah menyebut puasa melatih regulasi diri yang berdampak langsung pada stabilitas psikologis. Ia menilai Ramadan menjadi momentum penting untuk membangun kontrol emosi, mengurangi stres, dan memperkuat makna hidup.
Selain itu, sejumlah studi ilmiah juga menemukan bahwa puasa dapat membantu menekan gejala kecemasan ringan hingga memperbaiki suasana hati.
Kombinasi aspek biologis dan spiritual selama Ramadan dinilai menciptakan efek positif yang menyeluruh bagi kesehatan mental. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga proses pelatihan mental. Dr. Vivik Shofiah menjelaskan bahwa kemampuan mengendalikan dorongan fisik selama berpuasa berkorelasi dengan meningkatnya kontrol emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Latihan ini membuat individu lebih mampu menahan amarah, mengelola kekecewaan, dan tidak mudah bereaksi impulsif. Dalam psikologi, kemampuan tersebut dikenal sebagai regulasi diri yang menjadi fondasi kesehatan mental yang kuat.
Beberapa penelitian menyebut puasa berpotensi menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol. Ritme makan yang teratur serta aktivitas ibadah yang lebih intens selama Ramadan membantu tubuh dan pikiran mencapai kondisi lebih tenang.
Lingkungan sosial yang lebih religius dan penuh kebersamaan juga memberikan efek psikologis positif. Dukungan sosial terbukti menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas emosi.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa saat tubuh beradaptasi dengan puasa, energi lebih efisien digunakan sehingga fungsi kognitif dapat meningkat. Banyak orang melaporkan pikiran terasa lebih jernih dan fokus lebih terarah selama Ramadan.
Kondisi ini mirip dengan efek mindfulness atau meditasi ringan, di mana individu lebih sadar terhadap pikiran dan perilakunya. Kejernihan berpikir ini membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih rasional.
Puasa membuat seseorang merasakan langsung kondisi lapar dan haus yang mungkin dialami sebagian masyarakat kurang mampu. Pengalaman ini memunculkan empati sosial yang lebih dalam.
Empati dan kepedulian terhadap sesama berkontribusi terhadap kebahagiaan psikologis. Individu yang memiliki empati tinggi cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat dan bermakna.
Resiliensi adalah kemampuan untuk bangkit dari tekanan hidup. Puasa melatih individu menghadapi rasa tidak nyaman dengan kesabaran dan kesadaran diri.
Latihan ini membentuk mental tangguh yang bermanfaat dalam menghadapi tantangan di luar Ramadan. Psikolog menilai resiliensi sebagai komponen penting dalam menjaga kesehatan jiwa jangka panjang.
Berikut manfaat puasa bagi kesehatan mental yang dirangkum dari berbagai sumber:
1. Mengurangi stres dan ketegangan emosional
2. Menekan gejala kecemasan ringan
3. Meningkatkan kontrol diri
4. Melatih kesabaran dan pengendalian amarah
5. Meningkatkan fokus dan konsentrasi
6. Menguatkan empati sosial
7. Membangun rasa syukur
8. Memperbaiki kualitas tidur
9. Mengurangi perilaku impulsif
10. Meningkatkan makna hidup dan spiritualitas
Puasa Ramadan menghadirkan kombinasi antara latihan biologis dan spiritual yang berdampak langsung pada kondisi psikologis seseorang.
Beberapa penelitian internasional yang dipublikasikan dalam jurnal kesehatan mental menunjukkan bahwa praktik puasa keagamaan berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan psikologis dan penurunan gejala depresi ringan.
Sementara itu, laporan dari media kesehatan nasional juga mengutip pernyataan ahli bahwa puasa dapat menjadi sarana refleksi diri dan manajemen stres yang efektif.
Puasa Ramadan bukan hanya ibadah wajib, tetapi juga menjadi terapi alami bagi kesehatan jiwa. Latihan pengendalian diri, peningkatan empati, serta stabilitas emosi menjadikan puasa sebagai momentum pembentukan mental yang lebih kuat.
Dengan menjalankan puasa secara seimbang dan tetap menjaga kesehatan fisik, manfaat psikologis yang diperoleh dapat dirasakan secara optimal, bahkan setelah Ramadan berakhir.