
SERAYUNEWS – Tekanan inflasi di wilayah kerja Bank Indonesia Kantor Perwakilan Purwokerto meningkat pada Maret 2026 seiring lonjakan konsumsi selama Ramadan hingga Idulfitri.
Di Purwokerto, inflasi tercatat 0,68% (mtm) atau 3,31% (yoy). Sementara di Cilacap sedikit lebih tinggi, yakni 0,70% (mtm) dan 3,51% (yoy). Angka ini berada di atas inflasi nasional bulanan yang sebesar 0,41% (mtm).
Kenaikan inflasi didorong lonjakan permintaan selama Ramadan dan Lebaran, terutama pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food).
Sejumlah komoditas utama yang memicu inflasi antara lain:
Selain itu, mobilitas masyarakat selama mudik turut mendorong kenaikan tarif transportasi. Penyesuaian harga BBM non-subsidi di awal Maret juga menjadi faktor tambahan.
Secara sektoral, inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, disusul sektor transportasi serta penyediaan makanan-minuman/restoran.
Menghadapi lonjakan ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya mengambil langkah cepat dan terukur.
1. Menjaga Keterjangkauan Harga
Sejumlah program digelar untuk menahan laju kenaikan harga:
2. Menjamin Ketersediaan Pasokan
Langkah penguatan suplai dilakukan melalui:
3. Penguatan Koordinasi dan Edukasi
Strategi non-teknis juga diperkuat:
Meski mengalami kenaikan, inflasi di wilayah Banyumas Raya masih berada dalam target nasional 2,5% ± 1%. Namun demikian, Bank Indonesia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap faktor musiman dan tekanan global.
Dengan kombinasi intervensi pasar, penguatan pasokan, serta komunikasi publik yang intensif, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga meski lonjakan konsumsi terjadi setiap tahun saat Ramadan dan Lebaran.