
SERAYUNEWS-Inter Milan membantai Pisa di ajang Liga Italia, Sabtu (24/1/2026) dini hari WIB. Kemenangan 6-2 atas Pisa membuat Inter Milan kokoh di puncak klasemen sementara Liga Italia. Inter nongkrong di puncak, salah satunya karena mereka mempertahankan skema zaman dahulu (jadul)
Melawan Pisa, Inter kerepotan di awal pertandingan. Sebab, Pisa mampu membuat dua gol terlebih dahulu melalui dua gol Stefano Moreo di menit 11 dan 23. Namun, selanjutnya Inter Milan mampu bangkit dan membuat enam gol.
Enam gol itu dibagi rata ke Zielinski, Lautaro Martinez, Pio Esposito, Dimarco, Bonny, dan Mkhitaryan. Kemenangan ini membuat Inter Milan di puncak klasemen sementara Liga Italia. Inter memiliki 52 poin dari 22 laga. Inter unggul enam poin dari posisi dua yakni AC Milan. Hanya saja, Milan masih memainkan 21 laga.
Salah satu yang konsisten dilakukan Inter Milan saat ini adalah menggunakan skema lama di lini penyerangan. Inter Milan sering menggunakan dua ujung tombak. Seperti diketahui, skema dua ujung tombak adalah ciri dari sepak bola di tahun 90-an.
Kemudian, belakangan ciri skema sepak bola adalah memainkan striker tunggal yang ditopang dua pemain di sayap. Namun, ketika banyak tim besar menggunakan striker tunggal, Inter tidak begitu. Pelatih Inter Milan asal Rumania Christian Chivu menggunakan dua penyerang.
Biasanya dua penyerang di depan adalah Lautaro Martinez dan Marcus Thuram. Tapi ada kalanya Pio Esposito dipasang di depan menemani Lautaro, seperti saat laga melawan Pisa.
Salah satu keuntungan dari skema dua penyerang adalah ada kesempatan Inter untuk mengorbitkan penyerang baru. Hal itu terlihat dari munculnya Pio Esposito. Penyerang yang masih berusia 20 tahun itu mendapatkan kesempatan bermain lebih banyak karena Inter memakai dua penyerang.
Seperti diketahui, Esposito kini sudah berseragam timna Italia sekalipun masih muda. Apa yang dilakukan Chivu membuktikan bahwa dengan skema jadul, mereka masih bisa bersaing di Liga Italia.