
SERAYUNEWS- Merasa semakin pelupa, sulit menghafal, dan cepat kehilangan fokus bukan selalu pertanda usia atau kurang pintar.
Para dokter dan psikolog menyebut, penurunan fungsi otak sering kali dipicu oleh kebiasaan harian yang tampak biasa, namun efeknya luar biasa terhadap kecerdasan manusia.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai penurunan fungsi kognitif ringan, yakni melemahnya daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir akibat faktor gaya hidup.
Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap IQ dan kesehatan otak. Para ahli menegaskan bahwa otak adalah organ yang sangat responsif terhadap pola hidup.
Kesalahan kecil yang dilakukan berulang-ulang dapat memengaruhi struktur dan cara kerja sel saraf. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Dokter spesialis saraf menjelaskan bahwa tidur malam berperan penting dalam proses konsolidasi memori, yaitu pemindahan informasi dari ingatan jangka pendek ke jangka panjang. Saat seseorang begadang, proses ini terganggu.
Menurut pakar neurologi dari Harvard Medical School, kurang tidur menyebabkan penumpukan racun di otak dan melemahkan koneksi antarsel saraf. Akibatnya, otak menjadi lambat memproses informasi dan lebih mudah lupa, meski usia masih tergolong muda.
Psikolog klinis menyebut multitasking sebagai salah satu kebiasaan modern yang paling merusak fungsi kognitif. Otak manusia secara biologis tidak dirancang untuk fokus pada banyak tugas kompleks secara bersamaan.
Studi psikologi kognitif menunjukkan bahwa multitasking membuat otak sering berpindah fokus, sehingga informasi gagal tersimpan secara mendalam. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menurunkan kemampuan berpikir analitis dan daya ingat.
Paparan layar berlebihan memicu kondisi overstimulasi otak, di mana otak terus menerima rangsangan tanpa jeda pemulihan. Psikolog menyebut kondisi ini sebagai salah satu penyebab sulit fokus dan cepat lupa.
Informasi cepat dari media sosial membuat otak terbiasa dengan konten singkat, sehingga kemampuan mengingat informasi panjang dan kompleks menurun secara perlahan.
Dokter gizi klinis menegaskan bahwa otak membutuhkan nutrisi berkualitas untuk bekerja optimal. Konsumsi gula berlebih dan makanan ultra proses dapat memicu peradangan ringan pada otak.
Kondisi ini berdampak pada konsentrasi, kestabilan emosi, dan daya ingat. Dalam jangka panjang, pola makan buruk dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif.
Dokter menjelaskan bahwa aktivitas fisik membantu meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak. Kurangnya gerakan membuat otak kekurangan suplai nutrisi penting.
Penelitian medis menunjukkan bahwa olahraga ringan secara rutin dapat meningkatkan neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru yang berperan dalam kecerdasan.
Psikolog menyebut stres berkepanjangan sebagai ancaman serius bagi memori. Hormon kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak area otak yang mengatur ingatan dan emosi.
Inilah sebabnya orang yang stres kronis sering merasa blank, sulit berpikir jernih, dan mudah lupa.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa interaksi sosial melatih berbagai fungsi otak sekaligus, mulai dari bahasa, emosi, hingga empati.
Kurangnya komunikasi bermakna membuat otak jarang distimulasi secara kompleks, sehingga ketajaman kognitif menurun.
Ahli neuropsikologi menyebut rutinitas monoton dapat membuat otak bekerja secara otomatis tanpa tantangan. Tanpa rangsangan baru, kemampuan berpikir kritis dan memori akan melemah.
Belajar hal baru terbukti menjaga fleksibilitas otak dan mencegah penurunan IQ.
Dokter menjelaskan bahwa dehidrasi ringan saja sudah cukup menurunkan konsentrasi dan kecepatan berpikir. Otak sangat sensitif terhadap kekurangan cairan.
Banyak orang tidak menyadari bahwa sering lupa bisa dipicu oleh kurang minum air putih.
Psikolog menyebut otak memerlukan jeda untuk memproses informasi. Tanpa istirahat mental, kinerja otak menurun dan risiko kelelahan kognitif meningkat. Istirahat singkat terbukti membantu memulihkan fokus dan daya ingat.
Jika kebiasaan-kebiasaan ini terus dilakukan, dokter menyebut risiko penurunan fungsi kognitif menjadi lebih nyata. Efeknya tidak selalu drastis, namun progresif dan sulit disadari.
Kesadaran sejak dini menjadi kunci untuk mencegah penurunan IQ yang seharusnya bisa dihindari.
1. Tidur cukup
7–9 jam per malam, jam tidur konsisten.
2. Kurangi begadang
Maju tidur 30 menit bertahap, jangan langsung ekstrem.
3. Fokus satu tugas
Hindari multitasking, kerjakan satu hal sampai selesai.
4. Latih otak tiap hari
Baca, hafalan singkat, atau puzzle 10–15 menit.
5. Batasi layar
Kurangi scrolling, terutama sebelum tidur.
6. Makan pendukung otak
Telur, ikan, kacang, buah; kurangi gula berlebih.
7. Minum cukup air
Dehidrasi bikin otak cepat lelah dan sulit fokus.
8. Gerak ringan
Jalan kaki atau stretching 20–30 menit/hari.
9. Kelola stres
Tarik napas, istirahat mental, jangan memaksa otak.
10. Konsisten, bukan instan
Otak pulih perlahan, hasil terasa 1–3 minggu.
Penurunan daya ingat dan fokus bukan selalu berkaitan dengan usia atau kemampuan intelektual seseorang.
Para ahli menegaskan bahwa kebiasaan harian seperti begadang, stres berlebihan, dan kurang istirahat justru menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja otak secara perlahan namun nyata.
Dengan memperbaiki pola hidup sejak dini, fungsi otak dan kemampuan berpikir dapat kembali optimal. Konsistensi dalam menjaga tidur, fokus, serta kesehatan mental dinilai menjadi langkah sederhana namun efektif untuk melindungi kecerdasan dan kualitas hidup jangka panjang.