
BANYUMAS, SERAYUNEWS— Sirine itu tak lagi meraung, namun gema gaungnya seolah masih tersangkut di lipatan dinding bata kusam era kolonial.
Di tepi jalur lintas Sokaraja–Kalibagor, berdiri bangunan raksasa bisu yang pernah menjadi penentu denyut nadi ribuan nyawa: Eks Pabrik Gula Kalibagor.
Pada abad ke-19 silam, cerobong tingginya pernah gagah memuntahkan asap ke udara Banyumas. Setiap kali musim giling tiba, roda-roda besi lori pengangkut tebu zaman dulu akan berderit menyusuri rel-rel tua.
Kereta tebu itu merayap dari kawasan Sungai Berem di Banjaranyar, Sokaraja, mengangkut ton-ton tebu menuju jantung pabrik di Kalibagor.
Bersama derit lori itu, angin sore Sokaraja akan menebarkan wangi karamel gula yang legit, aroma manis yang menandai bahwa dapur-dapur rumah warga dipastikan tetap mengepul.
Bagi generasi yang pernah menua bersama derit rel tua tersebut, bayangan kereta tebu mini itu masih terekam jelas dalam ingatan.
“Dulu tebunya dibawa memakai lori menuju Pabrik Gula Kalibagor,” kenang Sutarmi, seorang warga Banjaranyar, Sokaraja, saat menceritakan kembali jejak jalur kereta tebu yang dulu rutin melintasi desanya.

Pesta Buka Giling yang dulunya bising oleh tawa anak-anak dan riuk pasar kaget, mendadak lenyap ditelan zaman ketika mesin-mesin raksasa itu dipaksa mati di akhir era 1997-an.
Berakhir sudah seabad kejayaan kristal gula, meninggalkan sisa-sisa jejak rel lori tua yang perlahan tertimbun tanah.
Kini, raksasa tua itu terbangun kembali dari tidur panjangnya. Ritme di balik dindingnya tak lagi menyuling tebu, melainkan berganti deru mesin industri garmen modern.
Bentuknya mungkin berelaborasi dan fungsinya telah berganti, namun benteng bata tua itu enggan menyerah.
Dari era lori tebu di Banjaranyar hingga modernisasi hari ini, PG Kalibagor tetap setia menjalankan takdir tunggalnya sejak dulu: menjadi benteng harapan tempat warga sekitar menggantungkan hidup. (Tiya Monalisa)